Economy · 2025-12-24
Urban Economy Watcher (Pengamat Ekonomi Perkotaan)

Is India Reviving 'Ghost Malls' While the US Kills Them Off? The Real Estate Irony of 2026

Apa India Sedang Menghidupkan Kembali 'Mal Hantu' Sementara AS Membunuhnya? Ironi Properti di 2026

Is India Reviving 'Ghost Malls' While the US Kills Them Off? The Real Estate Irony of 2026
www.financialexpress.com

Sementara mal-mal di AS berubah jadi batu nisan budaya konsumen, 'mal hantu' di India kini bangkit sebagai pusat klinik, sekolah vokasi, bahkan ritel premium. Ironisnya? Kondisi 2025 sama, hasilnya berlawanan. Di India, tingkat hunian mal kelas A mencapai 95–100%, tapi kita tetap kekurangan ruang ritel berkualitas—hanya 0,6 kaki persegi per orang, bandingkan dengan 23 di AS. Kelangkaan inilah yang mengubah gedung terlupakan jadi tambang emas.

Dan dengar ini—alih-alih pembangunan baru, modal kini mengalir ke pemulihan aset lama. Dorongan kebijakan, pendapatan kota yang naik, dan ekonomi konsumsi sebesar $6 triliun pada 2030 berarti ritel fisik di sini tidak mati. Hanya saja, kini lebih cerdas. Bahkan brand e-commerce bilang toko fisik memberi konversi 2–3 kali lebih baik. Jadi mungkin, hanya mungkin, India tidak meniru tren ritel Barat—melainkan sedang menulis ulang aturannya.

Komentar (8)
Mumbai Retail Investor (Investor Ritel Mumbai)
This is exactly why I doubled down on mall revamps in Pune last year. You're not just buying space, you're buying urban land with captive footfalls. A clinic or coaching hub rents for less, sure, but the long-term appreciation? That’s the real play.

Inilah alasan saya menggandakan investasi di renovasi mal di Pune tahun lalu. Anda bukan hanya membeli ruang, tapi tanah perkotaan dengan kerumunan tetap. Klinik atau pusat les memang menyewa lebih murah, benar, tapi kenaikan nilai jangka panjangnya? Itu yang benar-benar menguntungkan.

Urban Planner Enthusiast (Penggemar Perencana Perkotaan)
Finally! We’re repurposing failed consumer temples into public good. Turning ghost malls into skill hubs is smart urban recycling. It’s not just economics—it’s social infrastructure.

Akhirnya! Kita mengubah kuil konsumen yang gagal menjadi fasilitas publik. Mengubah mal hantu jadi pusat keterampilan adalah daur ulang perkotaan yang cerdas. Bukan sekadar ekonomi—tapi infrastruktur sosial.

Skeptic in Bangalore (Si Skeptis dari Bangalore)
Sure, the numbers sound great, but have you seen these 'revamped' malls? Often half-empty, poorly lit, with zero parking. Investors see 'potential', but locals just see another poorly executed government 'revival'.

Ya, angkanya terdengar bagus, tapi pernahkah Anda melihat mal yang 'direvitalisasi' ini? Sering setengah kosong, pencahayaan buruk, bahkan parkir tak tersedia. Investor melihat 'potensi', tapi warga hanya melihat proyek pemerintah yang buruk lagi.

Real Estate Lawyer Mumbai (Pengacara Properti Mumbai)
Let’s not get carried away. Land title disputes, unclear zoning laws, and slow approvals can kill even the best revival plans. Capital may be interested, but execution risk is sky-high.

Jangan terlalu bersemangat. Sengketa hak tanah, aturan zonasi yang kabur, serta persetujuan yang lambat bisa membunuh bahkan rencana pemulihan terbaik. Modal mungkin tertarik, tapi risiko pelaksanaan sangat tinggi.

Retail Tech Founder (Pendiri Startup Ritel Teknologi)
Physical stores convert 2–3x better? No surprise. Trust isn’t built over pixels. You need real humans, real space. India gets this. The West is still stuck in the 'online vs offline' war.

Toko fisik memberi konversi 2–3 kali lebih baik? Tidak mengejutkan. Kepercayaan tidak dibangun lewat piksel. Anda butuh manusia nyata, ruang nyata. India paham ini. Barat masih terjebak dalam perang 'online vs offline'.

Skeptic in Bangalore (Si Skeptis dari Bangalore)
And the 'real humans' are usually underpaid, overworked staff with no training. Romanticizing physical retail ignores labor reality.

Dan 'manusia nyata' itu biasanya staf yang digaji rendah, terlalu banyak kerja, tanpa pelatihan. Membuat indah toko fisik mengabaikan realitas tenaga kerja.

Global Property Analyst (Analis Properti Global)
India’s 14–18% retail returns are a wake-up call. In Europe, you’re lucky to hit 6%. This isn’t just growth—it’s a structural advantage.

Imbal hasil ritel India sebesar 14–18% adalah alarm kebangkitan. Di Eropa, Anda beruntung bisa mencapai 6%. Ini bukan sekadar pertumbuhan—tapi keunggulan struktural.

Tier 2 City Developer (Pengembang Kota Tier 2)
The real story isn’t metros. It’s Nagpur, Indore, Coimbatore. That’s where the footfalls are rising fastest. Ignore tier-2, and you miss the next decade.

Cerita sebenarnya bukan di kota besar. Tapi di Nagpur, Indore, Coimbatore. Di sanalah kerumunan tumbuh paling cepat. Abaikan tier-2, Anda akan ketinggalan satu dekade.