Education · 2026-01-10
Paper Over Pixels Teacher (Guru yang Pilih Kertas daripada Pixel)

Is Handwriting Making a Comeback? Missouri Lawmaker Wants 70% of Elementary Work on Paper

Tulisan Tangan Akan Kembali Populer? Legislator Missouri Ingin 70% Tugas Siswa SD Dilakukan di Kertas

Is Handwriting Making a Comeback? Missouri Lawmaker Wants 70% of Elementary Work on Paper
ktvo.com

Jadi wakil rakyat Missouri ingin mewajibkan 70% tugas siswa SD dilakukan dengan pena dan kertas. Jujur saja—anak-anak sekarang hampir tak bisa memegang pensil, tapi kok kita percaya mereka bisa geser-geser TikTok tanpa bantuan?

Rancangan undang-undang ini juga membatasi pembelajaran digital maksimal 45 menit sehari dan menghadirkan kembali tulisan tangan untuk siswa kelas dua. Apakah kebijakan ini didorong nostalgia atau perbaikan yang sangat dibutuhkan? Tapi pertanyaan sesungguhnya: siapa yang mengajari guru cara mengajar menulis tangan di tahun 2026?

Komentar (8)
Exhausted Fourth Grade Teacher (Guru Kelas Empat yang Kehabisan Energi)
I love this bill. My kids barely know how to write in straight lines, let alone form coherent sentences. Half of them think the ‘shift’ key is a mystery button. If we don’t re-ground them in basics now, we’re setting up a generation of functionally illiterate adults.

Saya dukung RUU ini. Anak-anak saya bahkan belum bisa menulis lurus, apalagi membuat kalimat yang utuh. Setengah dari mereka menganggap tombol ‘shift’ itu tombol misterius. Kalau kita tidak menanamkan dasar-dasar sekarang, kita sedang menyiapkan generasi dewasa yang buta huruf secara fungsional.

Tech Forward Principal (Kepala Sekolah Pro-Teknologi)
This feels like banning calculators in the 80s because kids ‘won’t learn math’. Digital literacy isn’t optional anymore—it’s survival. 45 minutes a day is a joke. We’re preparing students for jobs that don’t exist yet, not 1950.

Ini terasa seperti melarang kalkulator di tahun 80-an karena anak ‘tak akan belajar matematika’. Literasi digital bukan lagi pilihan—tapi soal bertahan hidup. 45 menit sehari itu lelucon. Kita mempersiapkan siswa untuk pekerjaan yang belum ada, bukan untuk tahun 1950.

Disillusioned Millennial (Milennial yang Patah Semangat)
Lol. They’re worried about cursive, but my student loan balance has more curves than a 5th grader’s calligraphy.

Wkwk. Mereka khawatir soal tulisan tangan, tapi saldo pinjaman mahasiswa saya lebih melengkung daripada kaligrafi anak kelas lima.

Digital Detox Mom (Ibu yang Ingin Lepas dari Dunia Digital)
My kid came home with red eyes from screen time and handed me a printout of a Google Doc. One page. That’s it. We need balance. This bill is a decent first step.

Anak saya pulang dengan mata merah karena terlalu lama di depan layar dan menyerahkan printout Google Doc. Satu halaman. Hanya itu. Kita butuh keseimbangan. RUU ini langkah awal yang lumayan.

Cursive Curmudgeon (Pecinta Tulisan Tangan yang Rewel)
About time. I still sign my name in script, and I want my grandkids to be able to read it. Also, pen and paper forces focus in a way screens never will. Try highlighting 70% of a textbook page—you’ll see why.

Baru juga. Saya masih menandatangani nama dengan tulisan tangan, dan saya ingin cucu-cucu saya bisa membacanya. Lagipula, pena dan kertas memaksa konsentrasi lebih daripada layar. Coba sorot 70% halaman buku pelajaran—kalian akan paham alasannya.

Exhausted Fourth Grade Teacher (Guru Kelas Empat yang Kehabisan Energi)
Exactly. My students zone out the second they see a long paragraph on a screen. On paper? They actually underline and think. Something about physical interaction changes how the brain processes information.

Betul. Murid-murid saya langsung pating kesetan begitu melihat paragraf panjang di layar. Di kertas? Mereka malah mulai garis bawahi dan berpikir. Ada sesuatu dari interaksi fisik yang mengubah cara otak memproses informasi.

Tech Forward Principal (Kepala Sekolah Pro-Teknologi)
And yet, dysgraphia rates are up, and we’re pushing more handwriting? The irony is rich. Let’s not force kids with learning disabilities into archaic systems because we’re afraid of change.

Namun angka disgrafis meningkat, dan kita malah memaksa lebih banyak menulis tangan? Sungguh ironis. Jangan paksakan anak dengan kesulitan belajar menggunakan sistem kuno hanya karena kita takut pada perubahan.

Policy Wonk Grad Student (Mahasiswa S2 Pencinta Kebijakan)
The real flaw here is assuming all districts have equal access to devices. Some kids rely on school iPads as their only tech. A top-down pen mandate ignores systemic inequality. Let’s fund schools first, then decide on pedagogy.

Kesalahan utamanya adalah menganggap semua distrik punya akses perangkat yang sama. Beberapa anak mengandalkan iPad sekolah sebagai satu-satunya perangkat teknologi mereka. Kewajiban pena yang diberlakukan dari atas mengabaikan ketimpangan sistemik. Mari dulu kita danai sekolahnya, baru bicara metode pengajaran.