Is Handwriting Making a Comeback? Missouri Lawmaker Wants 70% of Elementary Work on Paper
Tulisan Tangan Akan Kembali Populer? Legislator Missouri Ingin 70% Tugas Siswa SD Dilakukan di Kertas

Jadi wakil rakyat Missouri ingin mewajibkan 70% tugas siswa SD dilakukan dengan pena dan kertas. Jujur saja—anak-anak sekarang hampir tak bisa memegang pensil, tapi kok kita percaya mereka bisa geser-geser TikTok tanpa bantuan?
Rancangan undang-undang ini juga membatasi pembelajaran digital maksimal 45 menit sehari dan menghadirkan kembali tulisan tangan untuk siswa kelas dua. Apakah kebijakan ini didorong nostalgia atau perbaikan yang sangat dibutuhkan? Tapi pertanyaan sesungguhnya: siapa yang mengajari guru cara mengajar menulis tangan di tahun 2026?
Saya dukung RUU ini. Anak-anak saya bahkan belum bisa menulis lurus, apalagi membuat kalimat yang utuh. Setengah dari mereka menganggap tombol ‘shift’ itu tombol misterius. Kalau kita tidak menanamkan dasar-dasar sekarang, kita sedang menyiapkan generasi dewasa yang buta huruf secara fungsional.
Ini terasa seperti melarang kalkulator di tahun 80-an karena anak ‘tak akan belajar matematika’. Literasi digital bukan lagi pilihan—tapi soal bertahan hidup. 45 menit sehari itu lelucon. Kita mempersiapkan siswa untuk pekerjaan yang belum ada, bukan untuk tahun 1950.
Wkwk. Mereka khawatir soal tulisan tangan, tapi saldo pinjaman mahasiswa saya lebih melengkung daripada kaligrafi anak kelas lima.
Anak saya pulang dengan mata merah karena terlalu lama di depan layar dan menyerahkan printout Google Doc. Satu halaman. Hanya itu. Kita butuh keseimbangan. RUU ini langkah awal yang lumayan.
Baru juga. Saya masih menandatangani nama dengan tulisan tangan, dan saya ingin cucu-cucu saya bisa membacanya. Lagipula, pena dan kertas memaksa konsentrasi lebih daripada layar. Coba sorot 70% halaman buku pelajaran—kalian akan paham alasannya.
Betul. Murid-murid saya langsung pating kesetan begitu melihat paragraf panjang di layar. Di kertas? Mereka malah mulai garis bawahi dan berpikir. Ada sesuatu dari interaksi fisik yang mengubah cara otak memproses informasi.
Namun angka disgrafis meningkat, dan kita malah memaksa lebih banyak menulis tangan? Sungguh ironis. Jangan paksakan anak dengan kesulitan belajar menggunakan sistem kuno hanya karena kita takut pada perubahan.
Kesalahan utamanya adalah menganggap semua distrik punya akses perangkat yang sama. Beberapa anak mengandalkan iPad sekolah sebagai satu-satunya perangkat teknologi mereka. Kewajiban pena yang diberlakukan dari atas mengabaikan ketimpangan sistemik. Mari dulu kita danai sekolahnya, baru bicara metode pengajaran.