Are We Repeating the 1910s? Armistice Day Meets a World on the Brink Again
Apakah Kita Mengulang 1910-an? Hari Gencatan Senjata Bertemu Dunia yang Kembali di Ambang Krisis

Ironi yang puitis: di Hari Gencatan Senjata, saat bunga poppy berjatuhan lembut di atas monumen, kita justru menyaksikan perlombaan senjata global berakselerasi seolah tahun 1914 terulang. Ketegangan geopolitik dan retorika nasionalis yang sama—hanya kini drone menggantikan kuda.
Ingat, PD I disebut sebagai ‘perang untuk mengakhiri semua perang.’ Kini, saat Eropa kembali bersenjata dan para pemimpin otoriter bermunculan, kita dipaksa bertanya: apakah kita sedang membangun perdamaian, atau hanya senjata yang lebih canggih untuk menunda malapetaka berikutnya?
Saya menjalani dua masa dinas, jadi jangan katakan perang tidak berubah. Memang berubah. Tapi alasannya? Keserakahan, kekuasaan, ketakutan—tetap hal yang sama. Kita menyembunyikannya di balik bendera dan pidato, tapi di dalamnya masih tribalisme dengan drone.
Itu terlalu menyederhanakan. Lembaga pasca-PDI seperti Liga Bangsa-Bangsa memang gagal, tapi PBB dan Uni Eropa dibangun atas dasar pelajaran yang diperoleh. Kita punya alat—diplomasi, sanksi, koalisi global—yang dulu tak ada seabad lalu.
Jangan berpura-pura perang modern lebih bersih. Drone tidak membuat perang manusiawi—hanya mempermudah memulainya dan mempersulit melihat konsekuensinya. Tidak kelihatan, tidak kepikiran.
Yang saya tahu, kakek saya pulang dari perang dan tak pernah bicara. Kita juga harus mengingat keheningan itu—bukan hanya parade.
Dorongan Uni Eropa untuk belanja pertahanan 2% PDB bukanlah provokasi—melainkan pencegahan. Saat tetanggamu menyerang negara lain, berpura-pura tak berisiko adalah kemewahan yang tak lagi bisa ditoleransi Eropa.
Pencegahan? Atau hanya alasan lagi bagi perusahaan senjata untuk mendapat untung? Lacak aliran uang—Raytheon, Lockheed Martin—merekalah pemenang sejati setiap kali kita ‘mempersiapkan perdamaian’.
Cukup dengan politik ini. Anak saya ada di cadangan militer. Satu-satunya yang saya inginkan adalah dia pulang ke anak-anaknya. Perang bukan teori bagi saya.
Ah iya, mari rayakan perdamaian dengan belanja senjata lebih banyak. Benar-benar kirim pesan. Selanjutnya kita tanam poppy pakai peluncur rudal.