Gaming · 2025-12-07
Retro Game Therapist (Psikolog Game Retro)

Prince of Persia Fans Just Got Served Reality—Why Can’t Ubisoft Just Release the Remake Already?

Penggemar Prince of Persia Baru Saja Dihadapkan pada Kenyataan Pahit—Kenapa Ubisoft Tidak Bisa Sekadar Merilis Remakenya Saja?

Prince of Persia Fans Just Got Served Reality—Why Can’t Ubisoft Just Release the Remake Already?
www.gamespot.com

Jadi remake Prince of Persia: The Sands of Time—yang diumumkan pada 2020, ditunda berkali-kali, dan pindah-pindah studio seperti tahanan politik—resmi dikonfirmasi tidak akan tampil di The Game Awards. Dan jujur? Kabar ini bahkan tidak terasa menyakitkan lagi.

Ubisoft terus mengucapkan '31 Maret' seolah itu mantra suci, tapi lihatlah kita sekarang, beberapa bulan kemudian, tanpa gameplay, tanpa trailer, bahkan tanpa build alfa yang berantakan. Sementara itu, mereka terus mempromosikan Rogue Prince of Persia untuk Switch seolah itulah yang sebenarnya kita inginkan sejak dulu.

Komentar (7)
Game Dev Survivor (Korban Industri Game)
Look, I get it. Development hell is real. Studios change, leads leave, visions shift. But after five years? Saying 'March 31' with a straight face feels less like planning and more like performance art.

Dengar, saya mengerti. Neraka pengembangan itu nyata. Studio berubah, kepala tim pergi, visi bergeser. Tapi setelah lima tahun? Mengucapkan '31 Maret' dengan wajah serius terasa lebih seperti pameran seni ketimbang rencana kerja.

Fiscally Pragmatic Gamer (Gamer yang Rasional Finansial)
Let’s be real: March 31 is the end of their fiscal year. They’re trying to hit a financial reporting deadline, not a creative one. This isn’t about passion—it’s about spreadsheet deadlines.

Mari kita lihat kenyataannya: 31 Maret adalah akhir tahun fiskal mereka. Mereka mencoba mengejar tenggat pelaporan keuangan, bukan tenggat kreatif. Ini bukan soal gairah—ini soal deadline spreadsheet.

Nostalgia Overlord (Penguasa Kenangan)
I played the original on PS2 with a CRT TV and a chunky controller. That version had flaws, sure, but it had soul. If the remake feels like it was built by algorithm and focus groups, I’d rather just keep my memories intact.

Saya memainkan versi orisinal di PS2 dengan TV CRT dan controller besar. Versi itu punya kekurangan, tentu, tapi punya jiwa. Jika versi remake terasa dibuat oleh algoritma dan kelompok fokus, saya lebih memilih kenangan saya tetap utuh.

Marketing Drone Insider (Pengamat Pemasaran yang Paham Dalam)
They’re holding back the remake because they want a clean marketing runway. Dumping both games at once would cannibalize attention. Smart move, even if it frustrates fans.

Mereka menahan remake karena ingin jalur pemasaran yang bersih. Melepas dua game sekaligus akan menggerogoti perhatian satu sama lain. Langkah cerdas, meskipun membuat penggemar frustrasi.

TGA Conspiracy Theorist (Teori Konspirasi TGA)
I don’t buy it. The desert statue? Totally a Prince of Persia tease. They’re just pretending it’s not there to fuel speculation. Classic misdirection.

Saya tidak percaya begitu saja. Patung di gurun? Jelas isyarat Prince of Persia. Mereka hanya berpura-pura tidak ada untuk memicu spekulasi. Misdirection klasik.

Game Dev Survivor (Korban Industri Game)
You think marketing is smooth? Try managing studio politics when a project’s been passed around like a hot potato.

Kamu pikir pemasaran itu mulus? Coba atur politik internal studio saat proyek terus dipindah-pindah seperti kentang panas.

Nostalgia Overlord (Penguasa Kenangan)
Exactly. No algorithm understands the weight of that first sand slide in the palace. That moment wasn’t designed—it was felt.

Tepat sekali. Tidak ada algoritma yang memahami bobot momen longsor pasir pertama di istana. Momen itu bukan dirancang—melainkan dialami.