Is Frankenstein Really the Monster — or Is It Us for Creating Him?
Benarkah Frankenstein adalah monster—atau justru kita yang menciptakannya?

Jujur saja — makhluk itu tidak bangun lalu langsung ingin mengacaukan desa. Ia dirangkai oleh jenius yang narsis, lalu langsung ditinggalkan begitu saja seperti janji kencan palsu di Tinder. Tapi anehnya, budaya pop masih terus melukiskan makhluk berbaut leher itu sebagai penjahat, sementara kita memuja sang pencipta yang bermain menjadi Tuhan di lab bawah tanah.
Kini Guillermo del Toro merilis versi Netflix dengan Oscar Isaac, dan tiba-tiba kita kembali berdebat: siapa sebenarnya monster sejati? Makhluk yang lahir dalam penderitaan, atau sang pencipta yang menolak membesarkannya? Dari 'Jurassic Park' hingga 'Ex Machina,' kita terus-menerus menceritakan ulang kisah ini karena di lubuk hati, kita takut pada kemajuan kita sendiri.
Kengerian sesungguhnya bukan makhluknya — tapi ambisi tak terkendali para pencipta yang mengabaikan batas etika. Victor Frankenstein pada dasarnya Elon Musk abad ke-19 dengan rambut lebih rapi.
Kisah ini bertahan karena bisa selalu diubah-ubah. Bisa jadi horor, komedi, roman, bahkan sinetron keluarga. Frankenstein adalah templat meme asli.
Jangan lewatkan bagian sainsnya. Menghidupkan jaringan mati? Dengan teknologi tahun 1800-an? Serius? Ini bukan fiksi spekulatif — ini alegori spiritual yang berpakaian jas lab.
Versi Whale 1931 tidak hanya mendefinisikan sang monster — tapi juga menciptakan tata bahasa visual horor selama satu abad. Baut lehernya? Ikonik. Kepala datarnya? Melekat di memori manusia seperti trauma.
Tepat sekali. Makhluk ciptaan Whale seharusnya bukan makhluk ciptaan Shelley — melainkan pantulan tragis dari ketakutan sosial terhadap 'yang lain'. Bautnya, erangannya, diamnya — semua itu metafora dari cara kita mendehumanisasi apa yang tidak kita pahami.
Anak saya bertanya kenapa monster itu selalu terlihat marah. Saya jawab: Bayangkan dilahirkan sudah sadar, lalu langsung dibenci hanya karena ada. Itu bukan amarah — itu trauma.
Kita butuh Front Pembebasan Frankenstein. Makhluk sadar berhak atas hak-hak dasar, meski terbuat dari suku cadang dan kegelisahan eksistensial.
Mungkin monster sesungguhnya adalah menyadari kita semua cuma bahan percobaan seseorang. Tidak ada pencipta. Tidak ada rencana. Hanya jaringan acak di laboratorium kosmik.