Margot Robbie’s Wuthering Heights: A Romantic Fever Dream or Cultural Trainwreck?
Wuthering Heights ala Margot Robbie: Mimpi Romantis atau Bencana Budaya?

Wuthering Heights sedang dihidupkan kembali dengan gaya modern yang berani oleh Emerald Fennell—dan sepertinya akurasinya bukan prioritas utama. Yang dia tawarkan adalah drama mewah: bayangkan korset Victoria yang dipadukan dengan siluet 1950-an, Heathcliff dengan jambul tebal, dan dunia imajinatif berlantai merah mengilap dengan soundtrack dari Charli XCX.
Margot Robbie, yang menjadi produser sekaligus pemeran Cathy, bilang penonton harus 'siap-siap'. Tapi dengan kritikus yang sudah mempertanyakan pemeranan Jacob Elordi sebagai Heathcliff dan Robbie sendiri sebagai Cathy yang pirang dan lebih tua, apakah ini penafsiran visioner—atau sekadar pamer hak istimewa pasangan terkenal Hollywood?
Mari serius dulu: setiap adaptasi Wuthering Heights adalah interpretasi. Novel itu sendiri bukan dokumen sejarah, tapi mimpi gothic yang intens. Fennell tidak menulis ulang Brontë—dia menggali inti emosionalnya dan membungkusnya dalam surealisme pop. Itu bukan sikap tidak hormat; itu bentuk penghormatan yang berbeda.
Dengan hormat, mengubah kisah tentang kelas sosial, trauma, dan kekerasan turun-temurun menjadi parade fashion sensual terasa seperti menjual jiwa novel demi like di Instagram.
Tepat sekali! Saya suka fashion dalam film, tapi saat kostum jadi narasi, ada yang salah. Film ini tidak terasa seperti Wuthering Heights—terasa seperti Saltburn yang dipindah ke dataran terbuka.
Reaksi negatifnya lucu sekali. Dulu orang juga panik soal film Barbie—'Ini nggak bakal berhasil'—sampai film itu meraup miliaran dolar dan memicu wacana feminis. Robbie dan Fennell tahu cara memanfaatkan kontroversi.
Pilihan pemeran yang hebat. Karena nggak ada yang lebih 'pahlawan Byronic' selain pria yang terkenal menangis di kamar mandi di Euphoria.
Saya nggak peduli alurnya. Saya cuma mau tinggal di rumah berlantai merah mengilap itu dengan musik klasik yang menggelegar di belakang. Sama seperti suntikan serotonin visual.
Fakta bahwa dua perempuan sedang membentuk ulang klasik sastra yang didominasi laki-laki menjadi sesuatu yang mentah, dari kacamata perempuan, dan penuh kekerasan emosional? Itulah intinya. Hentikan pengawasan terhadap penafsiran perempuan.
Semua omongan ini melewatkan intinya: manusia rindu cerita cinta epik. Jika film ini membuat penonton menangis di bioskop lagi, misi selesai.