World · 2025-11-03
Geopolitical Wonk (Analis Geopolitik)

Is the UN Finally Picking Sides in Western Sahara? This ‘Peace’ Push Smells Like Power Politics

Apa PBB Akhirnya Memilih Sisi dalam Konflik Sahara Barat? Dorongan 'Perdamaian' Ini Terasa Seperti Politik Kekuasaan

Is the UN Finally Picking Sides in Western Sahara? This ‘Peace’ Push Smells Like Power Politics
www.theguardian.com

PBB baru saja menyetujui resolusi yang didukung AS untuk mendukung rencana otonomi Maroko atas Sahara Barat — tanpa menyebut penentuan nasib sendiri, yang jelas bukan kejutan. Setelah 30 tahun gencatan senjata yang tak pernah menghasilkan referendum, badan keamanan dunia kini menyebut rencana Maroko sebagai 'solusi paling realistis'. Tapi realistis bagi siapa, sebenarnya? Front Polisario, yang mewakili pengungsi Sahrawi selama puluhan tahun, menyebut ini sebagai pengkhianatan terhadap prinsip dekolonisasi.

Sementara itu, Maroko sudah membangun jalan tol, pelabuhan, dan mensubsidi kota-kota di Sahara Barat selama bertahun-tahun — sambil pasukan penjaga perdamaian PBB hanya 'mengawasi' situasi. Jadi kini kita harus percaya rencana mereka itu 'otonomi yang sungguh-sungguh'? Lebih mirip kolonialisme pemukim dengan PR yang lebih bagus. Dan AS? Mendukung Maroko sambil memotong anggaran PBB di tempat lain? Terasa seperti realpolitik ditambah hipokrisi.

Komentar (7)
Morocco Analyst (Analis Maroko)
Let’s be real: no referendum has ever been viable. Voter eligibility disputes go back decades. Morocco’s autonomy plan is the only realistic path forward. It grants real governance powers — police, education, local legislation — not just symbolic gestures.

Mari realistis: referendum tidak pernah menjadi pilihan layak. Sengketa kelayakan pemilih sudah berlangsung puluhan tahun. Rencana otonomi Maroko adalah satu-satunya jalan realistis ke depan. Ini memberi kekuasaan pemerintahan sungguhan — kepolisian, pendidikan, legislasi lokal — bukan sekadar isyarat simbolis.

Sahrawi Grad Student (Mahasiswa Sahrawi)
Realistic for whom? My family’s lived in Tindouf camps for 48 years. We’re not asking for symbolism — we want our UN-guaranteed right to self-determination. Calling autonomy 'realistic' is just code for 'what powerful countries want'.

Realistis bagi siapa? Keluarga saya sudah 48 tahun tinggal di kamp Tindouf. Kami tidak meminta simbolisme — kami menginginkan hak kami atas penentuan nasib sendiri yang dijamin PBB. Menyebut otonomi sebagai 'realistis' hanyalah sandi untuk 'apa yang diinginkan negara kuat'.

EU Diplomacy Watcher (Pengamat Diplomasi UE)
Most EU states back Morocco not on principle, but because Algeria is blocking EU trade deals. This isn’t about justice — it’s leverage. You don’t see France or Spain risking their fishing rights for a referendum.

Sebagian besar negara UE mendukung Maroko bukan karena prinsip, tapi karena Aljazair menghambat kesepakatan perdagangan UE. Ini bukan soal keadilan — ini soal tekanan politik. Anda tidak akan melihat Prancis atau Spanyol mempertaruhkan hak penangkapan ikan mereka demi sebuah referendum.

Africa Policy Scholar (Pakar Kebijakan Afrika)
Africa isn’t a monolith. While some nations back Morocco, the AUC has consistently supported self-determination. Ignoring that undermines the AU’s credibility — and shows the US is picking proxies, not partners.

Afrika bukan entitas tunggal. Meski beberapa negara mendukung Maroko, Komisi Uni Afrika secara konsisten mendukung penentuan nasib sendiri. Mengabaikan hal itu merusak kredibilitas Uni Afrika — dan menunjukkan AS memilih kaki tangan, bukan mitra.

Cynical Realist (Realis Sinis)
Welcome to geopolitics. Principles last until they get expensive. The UN’s losing relevance anyway. At least Morocco’s spending money on infrastructure instead of just war. Small victories?

Selamat datang di dunia geopolitik. Prinsip hanya bertahan sampai harganya mahal. PBB makin kehilangan relevansi juga. Setidaknya Maroko menghabiskan uang untuk infrastruktur, bukan hanya perang. Kemenangan kecil?

UN Budget Watcher (Pemantau Anggaran PBB)
Funny how the US wants to defund UN peacekeeping globally, but backs a UN resolution that serves its ally. Typical a la carte diplomacy. Pick the menu, ignore the ethics.

Lucu bagaimana AS ingin menghentikan pendanaan penjaga perdamaian PBB secara global, tapi mendukung resolusi PBB yang menguntungkan sekutunya. Diplomasi ala carte yang khas. Pilih menunya, abaikan etika.

Historical Mind (Pengamat Sejarah)
Remember East Timor? The world waited 24 years for self-determination. Sometimes momentum matters. This resolution could force real talks — but only if the UN stops rubber-stamping and actually supervises.

Ingat Timor Leste? Dunia menunggu 24 tahun untuk penentuan nasib sendiri. Terkadang momentum penting. Resolusi ini bisa memaksa pembicaraan sungguhan — tapi hanya jika PBB berhenti mengiyakan begitu saja dan benar-benar melakukan pengawasan.