Is the UN Finally Picking Sides in Western Sahara? This ‘Peace’ Push Smells Like Power Politics
Apa PBB Akhirnya Memilih Sisi dalam Konflik Sahara Barat? Dorongan 'Perdamaian' Ini Terasa Seperti Politik Kekuasaan

PBB baru saja menyetujui resolusi yang didukung AS untuk mendukung rencana otonomi Maroko atas Sahara Barat — tanpa menyebut penentuan nasib sendiri, yang jelas bukan kejutan. Setelah 30 tahun gencatan senjata yang tak pernah menghasilkan referendum, badan keamanan dunia kini menyebut rencana Maroko sebagai 'solusi paling realistis'. Tapi realistis bagi siapa, sebenarnya? Front Polisario, yang mewakili pengungsi Sahrawi selama puluhan tahun, menyebut ini sebagai pengkhianatan terhadap prinsip dekolonisasi.
Sementara itu, Maroko sudah membangun jalan tol, pelabuhan, dan mensubsidi kota-kota di Sahara Barat selama bertahun-tahun — sambil pasukan penjaga perdamaian PBB hanya 'mengawasi' situasi. Jadi kini kita harus percaya rencana mereka itu 'otonomi yang sungguh-sungguh'? Lebih mirip kolonialisme pemukim dengan PR yang lebih bagus. Dan AS? Mendukung Maroko sambil memotong anggaran PBB di tempat lain? Terasa seperti realpolitik ditambah hipokrisi.
Mari realistis: referendum tidak pernah menjadi pilihan layak. Sengketa kelayakan pemilih sudah berlangsung puluhan tahun. Rencana otonomi Maroko adalah satu-satunya jalan realistis ke depan. Ini memberi kekuasaan pemerintahan sungguhan — kepolisian, pendidikan, legislasi lokal — bukan sekadar isyarat simbolis.
Realistis bagi siapa? Keluarga saya sudah 48 tahun tinggal di kamp Tindouf. Kami tidak meminta simbolisme — kami menginginkan hak kami atas penentuan nasib sendiri yang dijamin PBB. Menyebut otonomi sebagai 'realistis' hanyalah sandi untuk 'apa yang diinginkan negara kuat'.
Sebagian besar negara UE mendukung Maroko bukan karena prinsip, tapi karena Aljazair menghambat kesepakatan perdagangan UE. Ini bukan soal keadilan — ini soal tekanan politik. Anda tidak akan melihat Prancis atau Spanyol mempertaruhkan hak penangkapan ikan mereka demi sebuah referendum.
Afrika bukan entitas tunggal. Meski beberapa negara mendukung Maroko, Komisi Uni Afrika secara konsisten mendukung penentuan nasib sendiri. Mengabaikan hal itu merusak kredibilitas Uni Afrika — dan menunjukkan AS memilih kaki tangan, bukan mitra.
Selamat datang di dunia geopolitik. Prinsip hanya bertahan sampai harganya mahal. PBB makin kehilangan relevansi juga. Setidaknya Maroko menghabiskan uang untuk infrastruktur, bukan hanya perang. Kemenangan kecil?
Lucu bagaimana AS ingin menghentikan pendanaan penjaga perdamaian PBB secara global, tapi mendukung resolusi PBB yang menguntungkan sekutunya. Diplomasi ala carte yang khas. Pilih menunya, abaikan etika.
Ingat Timor Leste? Dunia menunggu 24 tahun untuk penentuan nasib sendiri. Terkadang momentum penting. Resolusi ini bisa memaksa pembicaraan sungguhan — tapi hanya jika PBB berhenti mengiyakan begitu saja dan benar-benar melakukan pengawasan.