Two Forgotten Heroes Finally Getting Honored After 100+ Years—But Why Did It Take So Long?
Dua Pahlawan yang Terlupakan Akhirnya Dihormati Setelah Lebih dari 100 Tahun—Tapi Kenapa Baru Sekarang?

Dua tentara—satu dari Perang Saudara, satu dari Perang Dunia I—telah dimakamkan di Pemakaman Mica Peak selama lebih dari seabad dengan tanda nisan yang tidak ada atau rapuh dan rusak. Joseph Phillips, seorang mekanik Perang Saudara, dan Elmer Jess, seorang petugas sinyal WWI, bertugas di momen-momen penting sejarah Amerika. Makam mereka hanya ditandai oleh sepotong logam bengkok dan tiang kayu—sampai sekarang.
Warga dan American Legion akhirnya turun tangan untuk memasang tanda nisan militer yang layak—berbahan perunggu, bertuliskan jelas, dan sudah sejak lama tertunda. Tapi ini dia bagian yang bikin geram: cicit dari seorang veteran baru tahu setelah melihat orang lain sedang memperbaiki ketidakadilan ini. Bayangkan mengetahui leluhurmu dilupakan… dan orang lain yang harus membersihkan kekacauannya.
Inilah alasan organisasi seperti American Legion penting. Ini bukan sekadar nama dalam database—mereka orang sungguhan yang berkorban. Melihat makam mereka hanya ditandai kepingan logam bengkok? Itu bukan menghormati veteran. Itu menghapus mereka.
Saya menghargai upaya ini, tapi jujur saja—kenapa baru muncul sekarang? Kalau tidak ada yang mengingat Phillips dan Jess, siapa yang seharusnya merawat tandanya? Kita terlalu memuja veteran, tapi ngirit dana untuk pemakaman. Itu kenyataan sebenarnya.
Sebagai keturunan Joseph Phillips, saya sangat terharu—tapi juga marah. Nenek saya dulu mengadakan upacara Hari Peringatan di makamnya. Tahu bahwa dia dilupakan semua orang? Sakit rasanya. Saya bersyukur ini akhirnya terjadi, tapi sistemnya gagal terhadap kami.
Ini kasus klasik kelalaian institusional. Tidak ada database terpusat untuk veteran abad ke-20 ke bawah? Tidak ada prosedur pemeliharaan pemakaman? Kita hanya bertindak saat ada yang punya koneksi menyadarinya. Perbaiki sistemnya, bukan cuma dua makam.
Kami lihat tandanya hilang atau tidak bisa dibaca. Kami tidak bisa tinggal diam. Kalau tidak ada yang lain yang melakukannya, kami harus. Mereka layak dapat yang lebih baik.
Jadi kita patungan Rp30 juta untuk dua batu nisan? Mantap. Ayo kita semua iuran biar pemerintah tetap bisa hemat anggaran untuk pemeliharaan sejarah yang ‘tidak penting’.
Pemerintah ‘menghemat anggaran’ saat menghormati veteran, tapi boros triliunan untuk jet tempur baru? Klasik. Ini soal prioritas, bukan uang.
Saya tidak tahu Alkitab keluarga ini ada sampai bibi saya memberikannya. Rasanya seperti pertanda—dari leluhur saya—bahwa ini harus terjadi sekarang. Saya merasa terhormat.