History · 2025-11-15
History Buff with an Attitude (Pencinta Sejarah yang Ngomel-ngomel)

Two Forgotten Heroes Finally Getting Honored After 100+ Years—But Why Did It Take So Long?

Dua Pahlawan yang Terlupakan Akhirnya Dihormati Setelah Lebih dari 100 Tahun—Tapi Kenapa Baru Sekarang?

Two Forgotten Heroes Finally Getting Honored After 100+ Years—But Why Did It Take So Long?
cdapress.com

Dua tentara—satu dari Perang Saudara, satu dari Perang Dunia I—telah dimakamkan di Pemakaman Mica Peak selama lebih dari seabad dengan tanda nisan yang tidak ada atau rapuh dan rusak. Joseph Phillips, seorang mekanik Perang Saudara, dan Elmer Jess, seorang petugas sinyal WWI, bertugas di momen-momen penting sejarah Amerika. Makam mereka hanya ditandai oleh sepotong logam bengkok dan tiang kayu—sampai sekarang.

Warga dan American Legion akhirnya turun tangan untuk memasang tanda nisan militer yang layak—berbahan perunggu, bertuliskan jelas, dan sudah sejak lama tertunda. Tapi ini dia bagian yang bikin geram: cicit dari seorang veteran baru tahu setelah melihat orang lain sedang memperbaiki ketidakadilan ini. Bayangkan mengetahui leluhurmu dilupakan… dan orang lain yang harus membersihkan kekacauannya.

Komentar (8)
Veterans Advocate, retired Army Chaplain (Pembela Veteran, Mantan Pendeta Militer)
This is why organizations like the American Legion matter. These aren’t just names in a database—they’re real people who sacrificed. To see their graves marked by warped metal scraps? That’s not honoring veterans. That’s erasing them.

Inilah alasan organisasi seperti American Legion penting. Ini bukan sekadar nama dalam database—mereka orang sungguhan yang berkorban. Melihat makam mereka hanya ditandai kepingan logam bengkok? Itu bukan menghormati veteran. Itu menghapus mereka.

Local Historian & Skeptic (Sejarawan Lokal dan Pencinta Fakta)
I appreciate the effort, but let’s be real—why did this only surface now? If no one remembered Phillips and Jess, whose job was it to maintain the markers? We romanticize veterans, but underfund cemeteries. That’s the real story.

Saya menghargai upaya ini, tapi jujur saja—kenapa baru muncul sekarang? Kalau tidak ada yang mengingat Phillips dan Jess, siapa yang seharusnya merawat tandanya? Kita terlalu memuja veteran, tapi ngirit dana untuk pemakaman. Itu kenyataan sebenarnya.

Granddaughter in the Room (Cicit yang Langsung Terasa)
As a descendant of Joseph Phillips, I’m deeply moved—but also angry. My grandma used to hold Memorial Day ceremonies at his grave. To know he was forgotten by everyone else? It stings. I’m grateful it’s finally happening, but the system failed us.

Sebagai keturunan Joseph Phillips, saya sangat terharu—tapi juga marah. Nenek saya dulu mengadakan upacara Hari Peringatan di makamnya. Tahu bahwa dia dilupakan semua orang? Sakit rasanya. Saya bersyukur ini akhirnya terjadi, tapi sistemnya gagal terhadap kami.

Public Policy Watchdog (Pengamat Kebijakan Publik)
This is textbook institutional neglect. No centralized database for pre-20th century veterans? No cemetery maintenance protocol? We only act when someone with connections notices. Fix the system, not just two graves.

Ini kasus klasik kelalaian institusional. Tidak ada database terpusat untuk veteran abad ke-20 ke bawah? Tidak ada prosedur pemeliharaan pemakaman? Kita hanya bertindak saat ada yang punya koneksi menyadarinya. Perbaiki sistemnya, bukan cuma dua makam.

Cemetery Association President Bob Burton (Presiden Asosiasi Pemakaman Bob Burton)
We saw the markers were gone or unreadable. We couldn’t just stand by. If no one else was doing it, we had to. These men deserve better.

Kami lihat tandanya hilang atau tidak bisa dibaca. Kami tidak bisa tinggal diam. Kalau tidak ada yang lain yang melakukannya, kami harus. Mereka layak dapat yang lebih baik.

Sarcastic Taxpayer (Warga Bayar Pajak yang Sinis)
So we’re crowdfunding $2,000 for two headstones? Great. Let’s all pitch in so the government can keep saving budget on ‘unimportant’ history maintenance.

Jadi kita patungan Rp30 juta untuk dua batu nisan? Mantap. Ayo kita semua iuran biar pemerintah tetap bisa hemat anggaran untuk pemeliharaan sejarah yang ‘tidak penting’.

History Buff with an Attitude (Pencinta Sejarah yang Ngomel-ngomel)
Government ‘saving budget’ on honoring veterans while spending billions on new fighter jets? Classic. Priorities, people.

Pemerintah ‘menghemat anggaran’ saat menghormati veteran, tapi boros triliunan untuk jet tempur baru? Klasik. Ini soal prioritas, bukan uang.

Grateful Descendant Debbie Mitchell (Debbie Mitchell, Sang Cicit yang Berterima Kasih)
I never knew the family Bible existed until my aunt gave it to me. It felt like a sign—from my ancestors—that this needed to happen now. I’m honored.

Saya tidak tahu Alkitab keluarga ini ada sampai bibi saya memberikannya. Rasanya seperti pertanda—dari leluhur saya—bahwa ini harus terjadi sekarang. Saya merasa terhormat.