Climate Protest at COP30 Turns Chaotic — Was It Desperation or Disruption?
Aksi Protés Iklim di COP30 Berubah Kacau — Ini Putus Asa atau Gangguan?

Para demonstran menerobos venue COP30 di Belém Selasa malam — bukan dengan pidato, tapi dengan hiasan kepala bulu dan ember plastik sebagai senjata. Pintu hancur, penjaga dipukul, dan seorang pria mengalami luka di kepala. Ini bukan pembangkangan sipil; ini jeritan keras dari komunitas adat yang melihat Amazon terbakar sementara sebuah 'konferensi hijau' malah membangun kota baru untuk para birokrat.
Mari jujur: saat rakyatmu tak mampu bayar layanan kesehatan, tapi konferensi ini malah boros bangun infrastruktur mewah, kamu mulai bertanya—keadilan iklim untuk siapa sebenarnya yang kita bicarakan?
Ini bukan pelanggaran keamanan. Ini teriakan untuk keterlibatan. Bagaimana kita bisa mengklaim bisa menyelesaikan perubahan iklim jika orang-orang yang melindungi 80% keanekaragaman hayati dunia tidak diikutsertakan? Ancaman nyata bagi COP bukan demonstran—tapi ketidakhadiran mereka.
Pelanggaran ya pelanggaran. Anda tidak menyelesaikan proses diplomasi dengan membanting pintu. Itu bukan protes—itu membahayakan nyawa. Para penjaga sedang menjalankan protokol. Jika Anda ingin perubahan, bekerjalah dalam sistem, bukan melawan fondasinya.
Bekerja dalam sistem? Sistem itu dibangun di atas tanah yang kami rampas! Sejak kapan penjajah punya hak menentukan arti 'protokol'? Para penjaga ini melindungi hotel mewah, bukan rakyat. Dan ya—ember plastik itu? Itu satu-satunya yang kami miliki.
Gangguan seperti ini membuat kompromi semakin sulit. Kami di sini untuk bernegosiasi—bukan pementasan teater. Zona Biru untuk delegasi, bukan demonstrasi. Ada waktu dan tempatnya. Gunakan Rakyat Summit.
Setiap perubahan besar dalam sejarah dimulai dari seseorang yang 'mengganggu' ruangan yang teratur. Abolisionis 'menerobos' parlemen. Suffragette mengunci diri di gerbang. Menyebut protes sebagai 'teater' adalah cara kekuasaan mengabaikan urgensi. Ini bukan kekacauan—ini sejarah yang berulang.
Peringatan ironi: PBB mengklaim venue 'sudah sepenuhnya aman' sambil mengakui dua penjaga terluka dan pintu hancur. Sementara itu, ancaman sesungguhnya—kebakaran hutan dan perampasan tanah—terus berlangsung tanpa kendali. Keamanan untuk siapa, sebenarnya?
Oke, ember plastik memang dramatis. Tapi hei—untuk pertama kalinya dalam 30 COP, suara adat menerobos ruangan. Mungkin sistem akhirnya mulai mendengarkan. Atau setidaknya, akhirnya tidak bisa mengabaikan.
Mereka akan buat dokumenter tentang ini. Lalu lupa. Sama seperti Glasgow. Dan Paris. Agenda sesungguhnya selalu di balik pintu tertutup. Adat? Anak muda? Hanya untuk foto. Bangunkan saya saat ada perubahan nyata.