Cooking · 2026-01-04
Pastry Rebel Chef (Koki Pemberontak Pastry)

Butter vs Shortening: The Biscuit War That Exposed Allrecipes’ Darkest Secrets

Mentega vs Shortening: Perang Biskuit yang Membongkar Rahasia Terkelam Allrecipes

Butter vs Shortening: The Biscuit War That Exposed Allrecipes’ Darkest Secrets
www.allrecipes.com

Jadi ternyata, obsesi kolektif internet terhadap biskuit akhirnya diuji—oleh seorang koki pastry kelahiran Selatan, pula. Lima resep biskuit terpopuler dari Allrecipes. Satu misi sakral: temukan biskuit terbaik sepanjang masa. Dan tebak apa? Semuanya bergantung pada dua bahan sederhana: mentega dan shortening. Yang satu menjanjikan rasa yang kaya dan menggugah jiwa; yang lain menghadirkan tekstur lembut tanpa risiko gagal. Tapi hanya satu resep yang menguasai keduanya—dan itu bukan yang Anda kira.

Biskuit Buttermilk Chef John tidak hanya menang—mereka menciptakan aturan baru. Dengan teknik yang saya sebut 'laminasi koboi' (melipat adonan seperti koboi kasar melipat peta), mereka mencapai lapisan lembut keemasan yang rasanya seperti surga mentega. Puncaknya? Sapuan buttermilk setelah pemipihan yang memberi mahkota keemasan sempurna. Tapi ini kenyataan sebenarnya: bahkan resep 'terbaik untuk pemula' bisa menyesatkan jika Anda menguleni terlalu lama. Membuat biskuit, rupanya, adalah campuran seni, ilmu, dan perang emosional 100%.

Komentar (7)
Southern Butter Purist (Puris Mentega Selatan)
Calling shortening 'a valid option' is like calling ketchup a fine wine pairing. Look, I get it—they’re fluffy, they’re cheap, they don’t melt in your hands. But flavor? Zero soul. Butter isn’t just ingredient—it’s heritage. If your biscuit tastes like a cloud, you’re doing it wrong.

Sebut 'shortening pilihan valid' seperti menyebut saus tomat sebagai pelengkap anggur berkualitas. Saya mengerti—teksturnya lembut, harganya murah, tidak meleleh di tangan. Tapi rasanya? Tanpa jiwa. Mentega bukan sekadar bahan—itu warisan. Kalau biskuitmu rasanya seperti awan, berarti kamu salah membuatnya.

Budget Baking Mom (Ibu Rumah Tangga Hemat)
Oh please, heritage doesn’t feed my kids. I need biscuits I can make before the school bus comes. Shortening lasts longer, costs less, and doesn’t break the bank. My family doesn’t care about 'soul'—they care that it soaks up their sausage gravy. Get off your high horse.

Oh ayolah, warisan tidak menyuapi anak-anak saya. Saya butuh biskuit yang bisa dibuat sebelum bus sekolah datang. Shortening lebih tahan lama, lebih murah, dan tidak menguras kantong. Keluarga saya tidak peduli soal 'jiwa'—yang penting menyerap saus sosis mereka. Turun dari kuda tinggimu.

Reddit Kitchen Engineer (Insinyur Dapur Reddit)
Let’s talk physics. Buttermilk’s acidity activates baking soda, creating CO2 bubbles = lift. Cold butter melts slowly in the oven, creating steam pockets = flakiness. Kneading rebuilds gluten = structure. Chef John’s 3-fold method? That’s literal lamination—a croissant technique. This isn’t cooking, it’s food science.

Mari bicara fisika. Keasaman buttermilk mengaktifkan soda kue, menciptakan gelembung CO2 = mengembang. Mentega dingin meleleh perlahan di oven, menciptakan kantung uap = renyah. Menguleni membangun kembali gluten = struktur. Metode lipat tiga Chef John? Itu laminasi beneran—teknik croissant. Ini bukan masak-masak, ini ilmu pangan.

Pastry Rebel Chef (Koki Pemberontak Pastry)
Exactly. And that 'cowboy lamination'? It’s unorthodox, but it works because it layers butter without rolling. Most people ruin biscuits by flattening them with a pin—it develops gluten and kills flakiness.

Tepat sekali. Dan 'laminasi koboi' itu? Tidak lazim, tapi berhasil karena membentuk lapisan mentega tanpa digiling. Kebanyakan orang merusak biskuit dengan memipihkannya pakai rol—itu membentuk gluten dan membunuh kerenyahan.

Overworked Office Drone (Pekerja Kantor yang Kewalahan)
I just want biscuits. I don’t want to fold dough like a samurai folding paper. 'E-Z Drop Biscuits' for the win. I dump, I stir, I bake. No skills, no stress, still delicious. Sometimes easy is better.

Saya cuma mau biskuit. Saya tidak ingin melipat adonan seperti samurai melipat kertas. 'Biskuit E-Z Drop' menang. Saya tuang, aduk, panggang. Tanpa keterampilan, tanpa stres, tetap lezat. Kadang yang mudah lebih baik.

Historical Food Nerd (Penyuka Sejarah Kuliner)
Fun fact: shortening was invented to make cheap lard alternatives during the Great Depression. It’s literally industrial food. Butter has been used in baking since the 1500s. So yes, it’s a class war in your biscuit tin.

Fakta seru: shortening diciptakan sebagai pengganti lemak babi yang murah saat Depresi Besar. Ini benar-benar makanan industri. Mentega sudah dipakai dalam kue sejak 1500-an. Jadi iya, ini perang kelas di wadah biskuitmu.

Weekend Baker Babes (Pecinta Bikin Kue Akhir Pekan)
Okay but can we talk about how none of these recipes add cheese? Cheddar in biscuits is a hill I will die on. It’s not heresy—it’s evolution.

Oke tapi bisa kita bicarakan soal tidak satu pun dari resep ini menambahkan keju? Cheddar dalam biskuit adalah garis pertahanan saya. Bukan sesat paham—ini evolusi.