When Finance Flows, Ambition Grows — But Who’s Actually Paying?
Ketika Dana Mengalir, Ambisi Melejit — Tapi Siapa Sebenarnya yang Bayar?

Di COP30, para pemimpin dunia terus mengulang mantra: 'Ketika dana mengalir, ambisi melejit.' Tapi inilah kenyataan yang kurang nyaman—sebagian besar uang itu belum sampai ke negara-negara yang tenggelam dalam krisis iklim.
Afrika punya potensi energi terbarukan 50 kali lipat dari kebutuhan listrik global tahun 2040 — tapi lebih dari 600 juta orang di sana masih hidup dalam gelap. Investasi energi bersih $2 triliun? Bagus. Tapi bagian Afrika mana?
Kami tidak cuma minta bantuan—kami menawarkan peluang energi bersih terbesar di dunia. Afrika bisa menyuplai listrik dunia. Tapi investor Barat tetap menganggap kami 'terlalu berisiko'. Lucu, padahal proyek minyak di zona perang saja dibiayai tanpa kedip.
Target $1.3 triliun memang ambisius, tapi tanpa mereformasi institusi seperti Bank Dunia, ini cuma basa-basi. Lembaga-lembaga ini dirancang untuk dunia abad ke-20. Keadilan iklim butuh tata kelola abad ke-21.
Mari realistis. 'Keadilan iklim' terdengar mulia, tapi setiap dolar yang 'dihemat' dari bencana adalah dolar yang tidak dihabiskan untuk kontrak rekonstruksi. Siapa sebenarnya yang diuntungkan saat badai tidak datang?
Matahari paling murah? Bilang itu ke komunitas pedesaan yang masih butuh baterai, inverter, dan tim perawatan. Infrastruktur tidak membangun dirinya sendiri.
Ya, sistem keuangan rusak—tapi lihat betapa cepat biaya tenaga surya turun. Yang mustahil hari ini bisa jadi tak terelakkan besok. Ambisi tumbuh karena insinyur terus memecahkan masalah.
Tepat sekali. Inti masalahnya bukan teknologi atau kebutuhan—tapi kemauan politik untuk mengalihkan modal. Kita menghabiskan $7 triliun setahun untuk subsidi bahan bakar fosil. Mengalihkan 10% saja bisa mengubah Selatan Global.
Dan jangan lupa, setiap dolar diinvestasikan di Afrika punya efek bergelombang: lebih banyak sekolah, migrasi berkurang, demokrasi stabil. Ini bukan amal—ini pertahanan global yang cerdas.
Namun, IMF tetap menilai pinjaman ke negara miskin sebagai 'berisiko tinggi' sambil memberi insentif pajak ke raksasa minyak. Sistem ini melindungi kekuasaan, bukan rakyat.