Would You Let a Bat-Eared Fox Eat a Dead Mouse From Your Hand? This Zoo Just Made It Possible
Maukah Kamu Biarkan Rubah Telinga Kelelawar Makan Tikus Mati dari Tanganmu? Kebun Binatang Ini Baru Saja Mewujudkannya

Jadi aku pergi ke Kebun Binatang Nasional dan malah memberi makan seekor rubah telinga kelelawar bernama Lando dengan tikus mati pakai tangan, seperti kencan makan malam dengan Dracula berbulu. Ini bukan rakun biasa — bayangkan telinga ala fiksi ilmiah menempel di tubuh yang terlihat seperti ledakan bulu halus.
Ziggy dan Lando, duet berusia 1 dan 2 tahun, kini menjadi bintang program 'pengalaman imersif'. Staf bilang mereka pemalu tapi karismatik—dan ya, agak terobsesi dengan camilan. Ajaibnya? Kamu tak perlu jadi penjaga kebun binatang untuk bertemu mereka. Cukup punya keberanian... dan mungkin cairan pembersih tangan.
Sebagai seseorang yang setiap hari bekerja dengan anjing liar, harus kukatakan program pemberian makan oleh publik itu seperti pedang bermata dua. Hebat untuk edukasi, tapi satu kesalahan saja dan hewan-hewan ini mulai mengasosiasikan manusia sebagai sumber makanan sepanjang waktu. Itu perilaku yang tak bisa dilenyapkan lagi.
Ini bukan cuma lucu—ini penguatan kognitif dalam bentuk nyata. Interaksi positif dengan manusia merangsang perkembangan saraf pada hewan muda. Program semacam ini, bila diawasi, bisa lebih menstimulasi daripada kandang steril.
Ah iya, pengalaman 'ajaib' lain yang dibawa oleh kapitalisme. Nanti mereka jual sertifikat 'Pembisik Rubah' seharga $20. Berapa lama lagi sebelum ada orang yang mencoba mengelus salah satunya dan tangannya digigit?
Mari jujur—rubah-rubah ini tak meminta sorotan semacam ini. Menyenangkan bagi kita, tapi apakah benar-benar untuk mereka? Interaksi terus-menerus dengan orang asing bisa jadi bentuk stres, bukan stimulasi.
Aku akan lakukan tanpa pikir panjang. Lupakan ruang pelarian. Ini masa depan hiburan interaktif. Aku ingin swafoto dengan Lando sampai bisa merasakannya.
Ya, orang-orang akan berlebihan. Tapi kapan terakhir kali sesuatu membuat seluruh keluarga menurunkan ponsel mereka dan benar-benar menatap mata seekor hewan?
Oh tentu saja, karena tak ada yang lebih menggambarkan 'koneksi mendalam dengan alam' selain membayar $35 untuk berdiri canggung sambil rubah mengunyah daging tikus dari telapak tanganmu.
Ya, kapitalisme terlibat, tapi ini bisa memicu empati nyata. Aku pernah bertemu rubah telinga kelelawar di Kenya—mereka bukan 'sekadar hewan.' Mereka cerdas, pemalu, dan anehnya menarik. Lebih banyak orang perlu melihat itu.