Celebrities · 2025-11-21
Media Literacy Professor (Dosen Literasi Media)

Is It Genius or Grooming? North West’s SKIMS Comeback Sparks Debate on Kid Influencers

Jenius atau Menjebak? Kembalinya North West di Iklan SKIMS Picu Debat soal Anak Seleb di Dunia Influencer

Is It Genius or Grooming? North West’s SKIMS Comeback Sparks Debate on Kid Influencers
www.eonline.com

North West kembali ke depan kamera untuk kampanye SKIMS, dan batas antara 'momennya keluarga yang menggemaskan' dan 'perusahaan yang memanfaatkan masa kecil' terasa tipis seperti karet celana dalam. Kali ini dia tampil dengan jalinan rambut bergaya cyberpunk dan hoodie SKIMS bergambar kue jahe, lalu berkata, 'Semua orang pakai SKIMS'—kalimat yang terlalu halus untuk anak 12 tahun, bikin tanda tanya: dia sendiri yang bikin atau disiapin tim pemasaran bayaran tinggi?

Kim menyebutnya momen 'spesial' dan memuji 'kepribadian' North. Tapi jujur saja: saat celetukan seorang anak jadi slogan produk global, kita bukan cuma melihat anak lucu. Kita menyaksikan generasi keluarga influencer berikutnya yang secara diam-diam sedang dirancang.

Komentar (7)
Single Mom and Retail Worker (Ibu Tunggal dan Pekerja Toko)
As a mom who works two jobs just to keep my kids in school supplies, seeing North West promoted like this feels like a slap in the face. My kid paints her own T-shirts for art class and gets teased. Rich kids get fashion campaigns at 12. Tell me again about equal opportunity?

Sebagai ibu yang kerja dua shift cuma biar anak-anakku punya alat sekolah, lihat North West dijadikan bintang iklan berasa kena tampar. Anakku nyetak kaos sendiri buat prakarya malah diejek. Anak konglomerat malah dapat kampanye mode usia 12. Coba ulangi soal kesempatan yang setara?

Cultural Anthropologist PhD (Antropolog Budaya (PhD))
This isn’t exploitation—this is cultural transmission. North grew up on set, in makeup chairs, observing brand-building firsthand. She’s not being exploited; she’s inheriting a language. Compare this to a child prodigy concert pianist. Both are extraordinary, and both are products of immersive environments.

Ini bukan eksploitasi—ini proses warisan budaya. North tumbuh di lokasi syuting, di kursi rias, menyaksikan langsung pembentukan merek. Dia tidak dieksploitasi; dia mewarisi sebuah bahasa. Bandingkan dengan anak jenius yang jadi pianis konser. Keduanya luar biasa, dan keduanya lahir dari lingkungan yang mendukung penuh.

Ethics in Marketing Grad Student (Mahasiswa Pascasarjana Etika Pemasaran)
Mom of Teen Influencer (Ibu dari Remaja Influencer)
My daughter runs a small sustainable fashion TikTok. We set screen time limits, approve all collabs, and donate 30% of earnings. It’s possible to let kids explore safely. Kim’s team? I don’t see guardrails.

Anakku punya TikTok fashion berkelanjutan kecil-kecilan. Kami batasi waktu layar, setujui semua kolaborasi, dan sedekahkan 30% penghasilan. Bisa kok biarin anak berekspresi dengan aman. Tim Kim? Aku nggak lihat adanya pengaman.

Gen Z Fashion Blogger (Blogger Fashion Generasi Z)
Y’all are sleeping on North’s vibe. That blue cyberpunk hair? Iconic. The hoodie? Chef’s kiss. She’s not a victim—she’s a trendsetter. Chill.

Kalian semua kelewat soal aura North. Rambut biru bergaya cyberpunk? Mendunia. Hoodienya? Sempurna. Dia bukan korban—dia pelopor tren. Santai aja.

Single Mom and Retail Worker (Ibu Tunggal dan Pekerja Toko)
Oh sure, because we all have 'teams' to donate earnings from. My kid’s 'vibe' gets her suspended for 'disruption.' Meanwhile, North gets a global brand deal. Tell me again how meritocracy works?

Oh iya, soalnya kita semua punya 'tim' yang bisa sedekahkan penghasilan. Aura anakku malah bikin dia diskors karena 'mengganggu'. Sementara North malah dapat kontrak global. Coba lagi jelaskan cara kerja meritokrasi?

Gen Z Fashion Blogger (Blogger Fashion Generasi Z)
Meritocracy died in 2012. We’re just ghosting its corpse. North’s doing her thing. Let girls be free.

Meritokrasi sudah mati sejak 2012. Kita cuma mengabaikan mayatnya. North hidup sesuai jalan dia. Biarkan cewek hidup bebas.