Holiday Stress Is Spiking – Are We Celebrating Joy or Trauma Bonding Now?
Stres Liburan Makin Naik – Apa Kita Merayakan Kebahagiaan atau Justru Trauma Sekarang?

41% warga Amerika memperkirakan stres liburan tahun ini lebih tinggi dari sebelumnya—naik dari 28% di tahun 2024. Ini bukan tren biasa; ini sudah kehancuran budaya total. Orang-orang sedang berduka atas yang pergi, tenggelam dalam anggaran hadiah, dan memaksakan senyum melewati ranjau emosional keluarga.
Saran terbaik? Bisukan kiriman Natal berlebihan dari Tante Karen dan lewati makan malam di mana kamu tahu akan diinterogasi soal kehidupan cintamu. Ternyata, merawat diri kini berarti diam-diam mundur dari musim paling melelahkan secara emosional yang diciptakan kapitalisme.
Tentu stres makin naik. Dulu liburan soal kebersamaan. Sekarang jadi perjalanan rasa bersalah selama 6 minggu yang dibiayai kartu kredit. Saya tidak sedih karena gak sanggup beli sweater $300 untuk sepupu saya—saya sedih karena masyarakat bilang saya harus merasa bersalah.
Gampang bilang 'cukup bisukan media sosial' kalau kamu nggak harus menjelaskan ke anak 7 tahun kenapa Santa nggak bawa mainan yang dilihatnya di TikTok. Masalah sebenarnya bukan soal perbandingan—tapi pemasaran predator yang menarget anak-anak di bulan paling rentan mereka.
Kami jadwalkan pesta Natal wajib tapi nggak kasih satu pun hari libur kesehatan mental. Mungkin langkah pertama adalah berhenti memaksa orang menari dengan bos mereka ke lagu Mariah Carey.
Keluarga pilihan saya adalah saya, kucing saya, dan tontonan film rom-com maraton. Tidak ada permintaan maaf.
Di masaku dulu, kami nggak punya ‘stres liburan’—kami makan malam Natal dan kami senang-senang. Sekarang semua orang terlalu sensitif.
Saya kerja malam Natal dan Tahun Baru. 'Liburan' saya adalah bertahan dari shift 12 jam dengan pasien trauma sambil semua orang posting soal eggnog. Merawat diri? Versi saya adalah nggak nangis di ruang persediaan.
Saya harus mengatur pesta ‘kegembiraan wajib’ yang baru saja dikeluhkan manajer. Saya akan orang yang tersenyum sambil diam-diam menghitung bunga utang mahasiswa saya.