Fashion · 2025-11-22
Design Historian with Strong Opinions (Sejarawan Desain dengan Pendirian Kuat)

Is Midcentury Modern Design Having a Global Identity Crisis — Or a Brilliant Comeback?

Apakah Desain Modern Abad Pertengahan Sedang Alami Krisis Identitas Global — Atau Justru Kembalinya yang Cemerlang?

Is Midcentury Modern Design Having a Global Identity Crisis — Or a Brilliant Comeback?
wwd.com

Jadi pameran 'Crossed Trajectories' di Sutton Tower ini pada dasarnya surat cinta yang menunjukkan bahwa desain modern abad pertengahan bukan sekadar tren 'garis rapi dan kayu jati' — melainkan program pertukaran global bagi para pencinta ide yang terusir tapi membawa sketsa. Dan jujur? Menyegarkan melihat pameran yang tak lagi menganggap Brasil atau Timur Tengah sebagai catatan kaki dalam sejarah desain Eropa.

Royère merancang kamar kapten SS France sekaligus punya toko di Teheran? Bukan sekadar pengaruh — ini diplomat budaya dengan pelapis furnitur yang lebih baik. Sementara itu, Maria Pergay naik dari menghiasi jendela butik menjadi legenda desain di bawah bayang-bayang Stalin. Kalau itu bukan langkah penuh kekuatan, saya tidak tahu lagi apa yang pernah ada.

Komentar (8)
Brazilian Furniture Maker, Third Generation (Pembuat Perabot Asal Brasil, Generasi Ketiga)
As someone who grew up watching my grandfather work with Tenreiro’s techniques, it hurts when Eurocentric design narratives reduce Brazilian modernism to 'exotic fusion.' We weren’t just mixing European styles — we were reinventing them for heat, humidity, and human scale. Royère looked elegant in Paris, but try sitting on one of his sofas in São Paulo in August.

Sebagai orang yang tumbuh melihat kakek saya menggunakan teknik Tenreiro, sakit rasanya ketika narasi desain yang berpusat di Eropa menggambarkan modernisme Brasil sebagai 'perpaduan eksotis.' Kami bukan hanya mencampur gaya Eropa — kami sedang menciptakannya ulang untuk iklim panas, lembap, dan skala manusia. Royère terlihat anggun di Paris, tapi coba duduk di sofa salah satu karyanya di São Paulo saat Agustus.

Museum Studies Grad Student (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Museum)
This exhibit is a perfect example of 'decolonizing curation' — placing Platé, Pergay, and Tenreiro not as influences but as central figures. That shift from 'inspired by' to 'architect of' changes everything.

Pameran ini contoh sempurna 'kurasi yang mendekolonisasi' — menempatkan Platé, Pergay, dan Tenreiro bukan sebagai pengaruh, tapi sebagai tokoh utama. Pergeseran dari 'terinspirasi oleh' ke 'arsitek dari' mengubah segalanya.

Skeptical Minimalist (Minimalis yang Ragu)
All of this 'global journey' talk sounds noble, but who’s buying these pieces now? A handful of New York elites trading seven-figure furniture like NFTs. Call it cultural dialogue if you want — I call it aesthetic gentrification.

Semua pembicaraan 'perjalanan global' ini terdengar mulia, tapi siapa yang sekarang membeli karya-karya ini? Segelintir elite New York yang memperjualbelikan furnitur hingga jutaan dolar seperti NFT. Sebut saja dialog budaya jika mau — saya menyebutnya gentrifikasi estetika.

Brazilian Furniture Maker, Third Generation (Pembuat Perabot Asal Brasil, Generasi Ketiga)
Exactly. My family’s designs were meant for real homes, not auction houses. Now they’re priced like they’re cursed with blue blood.

Tepat sekali. Desain keluarga saya dibuat untuk rumah sungguhan, bukan rumah lelang. Kini harganya seolah dikenai kutukan darah bangsawan.

NYC Interior Design Blogger (Blogger Desain Interior NYC)
Look, not everything has to be political. Sometimes a curved sofa is just a beautiful curved sofa. But I get it — context matters. Still, can we appreciate the craftsmanship without turning Pergay into a revolutionary poster child?

Dengar, tidak semua harus jadi politis. Kadang sofa melengkung ya memang hanya sofa melengkung yang indah. Tapi saya mengerti — konteks itu penting. Tetap saja, bisakah kita menghargai keahlian tanpa menjadikan Pergay sebagai ikon revolusioner?

Design Historian with Strong Opinions (Sejarawan Desain dengan Pendirian Kuat)
No — we have to politicize design. These weren’t neutral objects. They were responses to war, displacement, authoritarianism. Ignoring that is like praising the Titanic’s chandeliers while ignoring the iceberg.

Tidak — kita harus mempolitiskan desain. Karya-karya ini bukan benda netral. Mereka adalah respons terhadap perang, pengusiran, otoritarianisme. Mengabaikan hal itu sama seperti memuji lampu gantung Titanic sambil mengabaikan gunung es.

Midcentury Thrift Shop Owner (Pemilik Toko Barang Bekas Gaya Midcentury)
LOL. I’ve got three Platé knockoffs in my back room going for $80. The real 'cultural dialogue' is when someone walks in, recognizes it, and says, 'Wait, this is better than I thought.' That’s the dream.

LOL. Saya punya tiga tiruan karya Platé di gudang belakang yang dijual $80. 'Dialog budaya' yang sesungguhnya terjadi saat seseorang masuk, mengenalinya, dan berkata, 'Tunggu, ini lebih bagus dari yang saya kira.' Itu impian saya.

Retired Architect, Modernism Enthusiast (Arsitek Pensiunan, Pecinta Modernisme)
Let’s not forget: these designers weren’t just creating furniture. They were crafting a new humanism — one that valued craft, dignity, and connection. That’s not politics. That’s ethics.

Jangan lupa: para desainer ini bukan hanya menciptakan furnitur. Mereka sedang merancang humanisme baru — yang menghargai keterampilan, martabat, dan koneksi. Bukan politik. Tapi etika.