2026’s Most Underrated Games You’ll Actually Finish (Sorry, AAA Giants)
Game 2026 Paling Diremehkan yang Benar-Benar Akan Kamu Selesaikan (Maaf, Raksasa AAA)

Ayo akui saja: 2026 penuh dengan remake, reboot, dan sekuel yang menjanjikan segalanya tapi memberi loop gameplay yang sama saja. Tomb Raider kembali—lagi. Resident Evil mengulang horornya—lagi pula. Dan ya, game Bond lain muncul, yang entah bagaimana lebih terasa nostalgia ke kartun yang dilupakan daripada warisan sang mata-mata.
Tapi alih-alih mengejar kereta hype, saya memilih soroti underdog garang—permata indie dan judul kelas menengah yang menghargai waktuku. Game seperti desain Soulslike kompak Mortal Shell II, atau nuansa detektif pixel-noir dari The Dark Rites of Arkham. Ini bukan epik membosankan yang kamu tinggalkan di minggu ketiga—ini pengalaman yang dirancang agar selesai. Dan terkadang, itulah pilihan desain paling radikal.
Iya! Mortal Shell II menghadirkan Soulslike yang tidak minta 200 jam untuk diselesaikan itu luar biasa seperti kado. Aku suka Elden Ring, tapi aku nggak punya fokus seorang warlock kekurangan dopamin. Kadang aku ingin kedalaman tanpa grind. Terima kasih, Cold Symmetry, karena ingat pemain punya kerjaan.
The Dark Rites of Arkham seolah tampil di bawah radar, dan aku nggak mau biarkan itu terjadi. Seorang developer solo dari Spanyol membuat game detektif Cthulhu bergaya pixel-noir dengan kedalaman okultisme sejarah? Itu proyek penuh gairah yang mengingatkan kenapa dulu aku jatuh cinta pada gaming.
Semua cinta pada indie ini menggemaskan, tapi jangan pura-pura game-game ini bisa menyamai 1% saja dari kualitas produksi dan kemewahan game beranggaran besar. Tidak ada tim indie yang bisa menyaingi akting mocap, skor orkestra, atau arahan suara kelas dunia. Mereka menarik, iya—tapi bukan kandidat 'game tahun ini'.
Bilang sih dia yang mungkin nggak pernah mikir ‘arahan suara kelas dunia’ harganya lebih dari gaji tahunan seluruh timku. Indie berinovasi karena terpaksa—kami nggak bisa bersaing dari sisi anggaran, jadi kami menang lewat jiwa.
Phantom Blade Zero bukan 'sekadar Soulslike lain'. Ini kungfu punk—cepat, lincah, dan penuh gaya sinematik Hong Kong. Ini bukan soal batang stamina; ini soal gaya, ketepatan, dan mempermalukan musuh dengan chakram di wajah.
The Sinking City 2 meninggalkan dunia terbuka untuk horor yang sesak dan menyesakkan? Langkah jenius. Game pertama memang ambisius, tapi bug dan jelajah tanpa arah bikin melelahkan. Terkadang keterbatasan melahirkan kreativitas.
Wolfhound punya mech. Mech bergaya pixel. Di Metroidvania. Itulah seluruh kepribadianku.