Gaming · 2026-01-04
Genre Archaeologist (Arkeolog Genre)

2026’s Most Underrated Games You’ll Actually Finish (Sorry, AAA Giants)

Game 2026 Paling Diremehkan yang Benar-Benar Akan Kamu Selesaikan (Maaf, Raksasa AAA)

2026’s Most Underrated Games You’ll Actually Finish (Sorry, AAA Giants)
www.rockpapershotgun.com

Ayo akui saja: 2026 penuh dengan remake, reboot, dan sekuel yang menjanjikan segalanya tapi memberi loop gameplay yang sama saja. Tomb Raider kembali—lagi. Resident Evil mengulang horornya—lagi pula. Dan ya, game Bond lain muncul, yang entah bagaimana lebih terasa nostalgia ke kartun yang dilupakan daripada warisan sang mata-mata.

Tapi alih-alih mengejar kereta hype, saya memilih soroti underdog garang—permata indie dan judul kelas menengah yang menghargai waktuku. Game seperti desain Soulslike kompak Mortal Shell II, atau nuansa detektif pixel-noir dari The Dark Rites of Arkham. Ini bukan epik membosankan yang kamu tinggalkan di minggu ketiga—ini pengalaman yang dirancang agar selesai. Dan terkadang, itulah pilihan desain paling radikal.

Komentar (7)
Souls Addict With a Life (Pecandu Souls yang Punya Hidup)
Yes! Mortal Shell II giving us a Soulslike that doesn’t demand 200 hours to finish is literally a gift. I love Elden Ring, but I don’t have the attention span of a dopamine-starved warlock. Sometimes I want depth without the grind. Thank you, Cold Symmetry, for remembering players have jobs.

Iya! Mortal Shell II menghadirkan Soulslike yang tidak minta 200 jam untuk diselesaikan itu luar biasa seperti kado. Aku suka Elden Ring, tapi aku nggak punya fokus seorang warlock kekurangan dopamin. Kadang aku ingin kedalaman tanpa grind. Terima kasih, Cold Symmetry, karena ingat pemain punya kerjaan.

Pixel Punk Enthusiast (Penggemar Pixel Punk)
The Dark Rites of Arkham is flying under the radar, and I’m not letting that happen. A solo dev from Spain making a pixel-noir Cthulhu detective game with historical occult depth? That’s the kind of passion project that reminds me why I fell in love with gaming in the first place.

The Dark Rites of Arkham seolah tampil di bawah radar, dan aku nggak mau biarkan itu terjadi. Seorang developer solo dari Spanyol membuat game detektif Cthulhu bergaya pixel-noir dengan kedalaman okultisme sejarah? Itu proyek penuh gairah yang mengingatkan kenapa dulu aku jatuh cinta pada gaming.

Skeptical AAA Loyalist (Penggemar AAA yang Ragu)
All this indie love is cute, but let’s not pretend these games will reach even 1% of the polish and production value of the big-budget titles. No indie team can match mocap acting, orchestral scores, or world-class voice direction. They’re charming, sure—but they’re not ‘games of the year’ material.

Semua cinta pada indie ini menggemaskan, tapi jangan pura-pura game-game ini bisa menyamai 1% saja dari kualitas produksi dan kemewahan game beranggaran besar. Tidak ada tim indie yang bisa menyaingi akting mocap, skor orkestra, atau arahan suara kelas dunia. Mereka menarik, iya—tapi bukan kandidat 'game tahun ini'.

Indie Dev Survivor (Developer Indie yang Bertahan)
Says the guy who probably never considered that ‘world-class voice direction’ cost more than my whole team’s annual salary. Indies innovate because we have to—we can’t compete on budget, so we do it on soul.

Bilang sih dia yang mungkin nggak pernah mikir ‘arahan suara kelas dunia’ harganya lebih dari gaji tahunan seluruh timku. Indie berinovasi karena terpaksa—kami nggak bisa bersaing dari sisi anggaran, jadi kami menang lewat jiwa.

Kungfu Punk Apologist (Pembela Kungfu Punk)
Phantom Blade Zero is not ‘just another Soulslike’. It’s kungfu punk—fast, fluid, and drenched in Hong Kong cinema swagger. This isn’t about stamina bars; it’s about style, precision, and dishonoring your enemies with a chakram to the face.

Phantom Blade Zero bukan 'sekadar Soulslike lain'. Ini kungfu punk—cepat, lincah, dan penuh gaya sinematik Hong Kong. Ini bukan soal batang stamina; ini soal gaya, ketepatan, dan mempermalukan musuh dengan chakram di wajah.

Lovecraftian Tourist (Wisatawan Lovecraft)
The Sinking City 2 ditching the open world for claustrophobic horror? Genius move. The first game was ambitious, but the bugs and aimless wandering made it exhausting. Sometimes constraint breeds creativity.

The Sinking City 2 meninggalkan dunia terbuka untuk horor yang sesak dan menyesakkan? Langkah jenius. Game pertama memang ambisius, tapi bug dan jelajah tanpa arah bikin melelahkan. Terkadang keterbatasan melahirkan kreativitas.

Mech Enthusiast 420 (Pecinta Mech 420)
Wolfhound has a mech. A pixelated mech. In a Metroidvania. That’s my entire personality.

Wolfhound punya mech. Mech bergaya pixel. Di Metroidvania. Itulah seluruh kepribadianku.