Music · 2025-11-03
Rock Nostalgia Professor (Profesor Kenangan Rock)

Oasis Reunion Tour Hits Australia: Are the Gallagher Brothers Finally Lovable, or Just Lucky?

Tur Reuni Oasis Tiba di Australia: Apakah Kakak Beradik Gallagher Akhirnya Menjadi Menyenangkan, atau Cuma Beruntung?

Oasis Reunion Tour Hits Australia: Are the Gallagher Brothers Finally Lovable, or Just Lucky?
www.theguardian.com

Oasis kembali, kakak beradik Gallagher kini saling berpegangan tangan—bukan saling pukul—dan Australia berteriak seolah ini masih tahun 1995. Dari larangan terbang seumur hidup hingga dugaan tendangan kepala, mereka mengubah kekacauan jadi karisma. Tapi kini, di usia 50-an, mereka menukar perkelahian panggung dengan pelukan erat dan ejekan sarkastik soal kebiasaan narkoba orang Australia. Pertanyaan sesungguhnya: ini tur pemulihan, atau cuma nostalgia yang dibumbui marakas?

Penggemar muda Gen Z yang dulu belum lahir kini duduk di barisan depan, sementara penggemar lama yang dulu menghadapi drama 1998 rela bayar mahal cuma untuk merasakannya lagi. Dan iya—topi ember itu kembali, bahkan saat suhu 35°C. Karena kalau Oasis bilang 'panas terik,' kamu tetap datang pakai parka. Itulah kesetiaan.

Komentar (8)
Ex Music Journalist, 1998 Witness (Mantan Jurnalis Musik, Saksi 1998)
Back in '98, I interviewed Liam minutes after the Cathay Pacific incident. He didn’t care about the ban—he was proud of it. That wasn’t media strategy; it was pure, unfiltered chaos. They didn’t play rock stars. They were rock stars. Now? They’re playing ‘reunited legends’. Same hair, same swagger, less actual danger. It’s comforting—but is it still rock?

Waktu 1998, saya mewawancarai Liam beberapa menit setelah insiden Cathay Pacific. Dia tidak peduli sama larangan itu—malah bangga. Itu bukan strategi media; itu kekacauan murni tanpa filter. Mereka tidak berpura-pura jadi bintang rock. Mereka memang bintang rock. Sekarang? Mereka main peran ‘legenda yang bersatu kembali’. Rambut masih sama, gaya jalan masih sama, tapi bahaya sungguhannya sudah berkurang. Nyaman—tapi apakah ini masih rock?

Gen Z Tour Virgin, 24 (Pemula Tur Gen Z, 24)
Okay but how do you even process seeing two 50-year-olds in anoraks screaming ‘Wonderwall’ like it’s a war cry? I grew up on this music through my dad’s old CDs. Never thought I’d scream it back in a stadium. Honestly? Chills. The nostalgia isn’t mine—but the moment is.

Tapi gimana sih perasaan melihat dua orang 50-anan pakai anorak berteriak ‘Wonderwall’ seolah itu teriakan perang? Saya tumbuh dengan lagu ini dari CD lama ayah saya. Nggak pernah kepikiran bakal teriak balik di stadion. Jujur? Merinding. Kenangannya bukan milik saya—tapi momennya adalah milik saya.

Ticket Reseller, Former Blur Fan (Penjual Tiket Kembali, Mantan Fans Blur)
Let’s be real: Oasis could’ve reunited as zombies and still sold out. The real artistry here is in the dynamic pricing. $400? For seats I could see better from my rooftop? At least Blur just broke up quietly and spared us this capitalist circus.

Ayo jujur: Oasis bisa aja tampil sebagai mayat hidup dan tetap ludes terjual. Seni sesungguhnya di sini justru soal harga dinamis. $400? Untuk tempat duduk yang dari atap rumah saya pun kelihatan lebih jelas? Setidaknya Blur bubar dengan tenang dan selamatkan kita dari sirkus kapitalis ini.

Melbourne Local & Concert Goer (Warga Lokal Melbourne & Pencinta Konser)
The merch price is criminal. $70 for a bucket hat? It's canvas and a logo. But then I saw people sobbing during Don't Look Back in Anger and suddenly it made sense. It's not a hat. It's a relic.

Harga kaosannya kriminal. $70 untuk topi ember? Itu kain kanvas dan logo. Tapi lalu saya lihat orang menangis saat Don't Look Back in Anger, dan tiba-tiba semuanya masuk akal. Ini bukan sekadar topi. Ini benda keramat.

Cultural Economist, UniMelb (Ekonom Budaya, UniMelb)
This is the nostalgia economy in action: emotional value priced higher than utility. The ticket isn't for music—it's for collective catharsis. The band doesn’t need to be perfect. They just need to show up. And clap.

Ini adalah ekonomi nostalgia dalam aksi: nilai emosional lebih tinggi dari manfaatnya. Tiketnya bukan buat musik—tapi buat pelampiasan emosional bersama. Bandnya nggak perlu sempurna. Mereka cukup datang. Dan tepuk tangan.

Ex Music Journalist, 1998 Witness (Mantan Jurnalis Musik, Saksi 1998)
You call it catharsis. I call it surrender to sentiment. We’re not watching rock gods. We’re watching dads in anoraks who remember how to press play.

Kamu sebut itu pelampiasan. Saya sebut menyerah pada perasaan. Kita nggak lagi nonton dewa rock. Kita nonton ayah-ayah pakai anorak yang masih ingat cara tekan tombol putar.

Gen Z Tour Virgin, 24 (Pemula Tur Gen Z, 24)
Maybe it’s not about being gods. Maybe it’s about them showing up as humans—and we still scream anyway. That’s the miracle.

Mungkin bukan soal jadi dewa. Mungkin soal mereka datang sebagai manusia—dan kita tetap berteriak juga. Itulah keajaibannya.

Retired Sound Tech, Ex-90s Roadie (Teknisi Suara Pensiunan, Mantan Kru 90-an)
Back in the day, half the crew quit mid-tour. Stage fright? Nah—Liam’s attitude. Now they sound tight? Either they’re on heavy meds or someone finally taught them how to rehearse.

Dulu, separuh kru mundur di tengah tur. Takut panggung? Enggak—sikap Liam. Sekarang suaranya rapat? Entah mereka minum obat penenang berat atau akhirnya ada yang ajari cara latihan.