Fashion · 2025-11-21
Makeup Historian PhD (Sejarawan Makeup Doktor)

Is This the Death of Natural Makeup? GQ Red Carpet Just Declared War on Subtlety

Inikah Akhir dari Makeup Natural? Karpet Merah GQ Baru Saja Nyatakan Perang pada Kesederhanaan

Is This the Death of Natural Makeup? GQ Red Carpet Just Declared War on Subtlety
wwd.com

Karpet merah GQ Men of the Year tidak sekadar pamer gaya—tapi memicu pemberontakan estetika penuh gaya. Lupakan 'sedikit lebih baik'; ini 'lebih itu perang'. Kelopak mata emas Alix Earle dan smokey eye nuansa senja milik Inanna Sarkis bukan sekadar makeup—tapi pernyataan sikap. Bahkan minimalisme dingin Gabbriette Bechtel terasa seperti pernyataan sadar yang menolak budaya 'glow-up' arus utama.

Dan jujur saja: kalau eyeliner-mu terlihat seperti digambar dengan laser, kamu bukan bersiap untuk makan siang santai. Kamu sedang menciptakan seni. Fakta bahwa sebagian besar gaya ini dibuat sendiri oleh para bintang—Broomfield, Bechtel, Sarkis—hanya memperdalam maknanya. Ini bukan sekadar makeup. Ini kemerdekaan.

Komentar (8)
Makeup Artist with 20 Years (Artis Makeup Berpengalaman 20 Tahun)
As someone who’s done bridal makeup since 2005, I’m thrilled to see artists taking risks. But let’s not forget—real skill is in balancing drama with wearability. Can you imagine doing Inanna’s smoky eye and still crying at your sister’s bachelorette party without looking like a raccoon?

Sebagai seseorang yang mengaplikasikan makeup pengantin sejak 2005, saya senang melihat para artis mengambil risiko. Tapi jangan lupa—keterampilan sesungguhnya ada dalam menyeimbangkan drama dan kepraktisan. Bayangkan saja, bisa nggak kamu pakai smokey eye ala Inanna lalu menangis di pesta lajang kakakmu tanpa terlihat seperti rakun?

Gen Z Fashion Blogger (Blogger Mode Generasi Z)
Bro, the whole point is that it’s not wearable. It’s fantasy. You don’t wear Gabbriette’s grey lips to the grocery store—you wear it to exist as art. That’s the vibe.

Bro, justru intinya itu memang nggak buat dipakai sehari-hari. Ini fantasi. Kamu nggak pakai lipstik abu-abu ala Gabbriette ke supermarket—kamu pakai itu untuk jadi karya seni. Itu vibes-nya.

Cultural Studies Postgrad (Mahasiswa Pascasarjana Studi Budaya)
This is less about makeup and more about reclaiming female agency. When women apply their own dramatic looks, they’re not just dressing up—they’re deconstructing patriarchal beauty norms in real time.

Ini lebih ke soal merebut kembali otoritas perempuan daripada soal makeup. Saat perempuan mengenakan tampilan dramatis sendiri, mereka bukan sekadar berdandan—tapi membongkar norma kecantikan patriarki secara langsung.

Realist Mom of Three (Ibu Realistis dengan Tiga Anak)
Y’all are way too deep. I just saw Alix Earle and thought, 'Damn, she looks expensive.'

Kalian kelewatan dalam analisisnya. Aku cuma lihat Alix Earle dan mikir, 'Waduh, keliatan mahal banget.'

Beauty Tech Startup Founder (Pendiri Startup Kecantikan Teknologi)
This is the future of personalized beauty. When celebrities can create these looks independently, it proves consumers want tools, not consultants. The next billion-dollar app? A digital makeup studio with AR precision and AI feedback.

Inilah masa depan kecantikan personal. Saat selebriti bisa menciptakan gaya ini sendiri, artinya konsumen ingin alat, bukan konsultan. Aplikasi miliaran dolar berikutnya? Studio makeup digital dengan akurasi AR dan umpan balik AI.

Sarcastic Theater Kid (Anak Teater Selingan Sarkastik)
Oh honey, that was never makeup—it was a cry for help covered in glitter.

Oh dek, itu bukan makeup—itu teriakan minta tolong yang dibalut glitter.

Makeup Historian PhD (Sejarawan Makeup Doktor)
The 'cry for help' take ignores the labor behind the look. These women studied, practiced, and curated. It’s not distress—it’s discipline.

Pendapat 'teriakan minta tolong' mengabaikan kerja keras di balik tampilan ini. Para perempuan ini belajar, berlatih, dan menyusun dengan cermat. Bukan krisis—tapi disiplin.

Aesthetic Theorist (Ahli Teori Estetika)
The siren look has always been a performance of power, not vulnerability. From ancient myth to modern runway, it weaponizes allure. These red carpet choices aren’t emotional—they’re strategic.

Gaya sirene selalu menjadi permainan kekuasaan, bukan kerentanan. Dari mitos kuno hingga larian model modern, ini menjadikan pesona sebagai senjata. Pilihan di karpet merah ini bukan emosional—tapi strategis.