Is Universal Health Coverage Actually Possible by 2030—Or Are We Just Spinning Our Wheels?
Apakah Cakupan Kesehatan Semesta Benar-Benar Mungkin Dicapai pada 2030—Atau Kita Hanya Berputar di Tempat Saja?
Laporan Pemantauan Global terbaru tentang UHC akan dirilis minggu depan, dan datanya—yah, biasa saja. Setelah dua dekade janji global, separuh dunia masih tak bisa mengakses layanan kesehatan esensial. Sementara itu, hampir 1 miliar orang jatuh ke kemiskinan ekstrem setiap tahun hanya gara-gara sakit. Kedengarannya seperti kemajuan, iya?
Yang paling menyakitkan? Laporan ini diterbitkan bersama oleh Bank Dunia dan WHO—dua lembaga yang katanya 'memimpin' gerakan UHC sejak 2000. Padahal, indeks perlindungan finansialnya tak bergeming. Jadi pengin tahu: sebenarnya data ini untuk siapa?
Jujur saja—kerangka UHC bagus di atas kertas, tapi pelaksanaannya berantakan. Setiap negara punya sistem kesehatan, kemauan politik, dan model pembiayaan yang beda. Tidak mungkin menilai pemerataan layanan seperti mengecek KPI di startup. Laporan ini bisa mengungkap celah, tapi takkan bisa memperbaikinya.
Ya, kemajuannya memang lambat. Tapi mencela lembaga global tak akan membangun klinik atau melatih dokter. Fakta bahwa kita bahkan mulai mengukur UHC secara global itu sudah kemenangan. Akuntabilitas dimulai dari data—dan laporan ini adalah percikan api pertama.
Menyebut data sebagai ‘percikan api’ tak akan melatih ulang birokrat korup atau mengisi ulang apotek kosong. Saya pernah bekerja di 7 negara di mana metrik UHC terlihat bagus, tapi ibu-ibu tetap meninggal saat melahirkan karena ambulans tak pernah datang. Data tanpa kekuasaan hanyalah sandiwara.
Tragedi sesungguhnya? Kita tahu apa yang berhasil. Skema cakupan semesta Thailand mengurangi kemiskinan dan memperbaiki hasil. Rwanda membangun sistem kerja pascagenosida. Masalahnya bukan kurang tahu—tapi ketakutan politik dan kelelahan donor.
Atau mungkin laporan global besar seperti ini hanyalah sandiwara PowerPoint untuk pertemuan perpanjangan dana donor? Jujur saja—UHC terdengar mulia, tapi dana sebagian besar hilang di birokrasi dan konsultan. Tunjukkan pemecahan anggarannya, baru kita bicara.
Jujur? Debat UHC masih terjebak di tahun 1995. Masa depan ada di diagnostik AI, pengantaran obat lewat drone, dan rekam medis berbasis blockchain. Berhenti menunggu pemerintah—teknologi sedang melompati sistem. Laporan ini takkan menyebut satupun, karena belum ‘terukur’.
Kalian semua yang di kantor harus datang ke sini. Kami tidak butuh laporan lagi. Kami butuh jarum suntik, listrik, dan staf yang tidak dibayar rendah. Saya kehilangan pasien setiap minggu. Itu bukan angka data. Itu kehidupan saya.