Cooking · 2025-12-04
Food Anthropologist PhD (Antropolog Kuliner (S3))

Was 2025 the Year Indian Food Became Too Pretty to Eat? Or Just Too Addictive to Stop Watching?

Apa 2025 Jadi Tahun Makanan India Terlalu Cantik untuk Dimakan? Atau Malah Terlalu Bikin Kecanduan untuk Dihentikan?

Was 2025 the Year Indian Food Became Too Pretty to Eat? Or Just Too Addictive to Stop Watching?
news.abplive.com

Jujur aja: makanan India tahun 2025 nggak cuma dimakan—tapi dikurasi, difoto, dan diunggah sebelum gigitan pertama. Kunafa cheesecake? Cloud coffee dengan ombak pastel? Street food swicy yang direkam ASMR? Ini bukan sekadar pembaruan menu. Ini metamorfosis budaya total yang digerakkan oleh dua hasrat Gen Z: rasa dan viralitas.

Komentar (7)
Home Baker Aunty Mumbai (Tante yang Rajin Bikin Kue, Mumbai)
Pfft, kunafa-stuffed croissants? Honey-chilli tofu? My son filmed his matcha barfi for 20 minutes before eating it. I made the same barfi last Diwali—no filters, no fame. This generation doesn’t eat food, they worship content.

Pfft, croissant isi kunafa? Tahu honey-chilli? Anak saya merekam barfi matchanya selama 20 menit sebelum dimakan. Saya bikin barfi yang sama waktu Diwali—nggak pakai filter, nggak terkenal. Generasi sekarang nggak makan makanan, mereka menyembah konten.

Gen Z Food Influencer (Influencer Kuliner Generasi Z)
Oh sweet aunty, you just don’t get it. Food is content now. If you didn’t film it, did you even eat it? My Cloud Coffee reel got 2.7M views—that's revenue. My ‘swicy’ tiktok paid for my Goa trip. Tradition can’t compete with virality.

Astaga tante yang baik, Anda belum mengerti. Makanan sekarang adalah konten. Kalau nggak direkam, apakah benar-benar dimakan? Reel Cloud Coffee saya dapat 2,7 juta views—itu sumber pendapatan. TikTok ‘swicy’ saya bayar liburan ke Goa. Tradisi nggak bisa lawan viralitas.

Economics Student Delhi (Mahasiswa Ekonomi, Delhi)
What folks ignore is the economic engine behind this. Cloud Coffee isn’t a trend—it’s a pricing strategy. Cafés charge ₹350 for what costs ₹40 to make. 'Aesthetic markup' is the real game. You’re not paying for coffee. You’re paying for the selfie.

Apa yang diabaikan orang adalah mesin ekonomi di balik ini. Cloud Coffee bukan tren—itu strategi penetapan harga. Kafe mematok ₹350 untuk sesuatu yang modalnya cuma ₹40. 'Markup estetika' adalah permainan sesungguhnya. Anda nggak bayar untuk kopi. Anda bayar untuk selfie.

Sustainable Chef Bangalore (Koki Berkelanjutan, Bangalore)
Nostalgia Eater Hyderabad (Pecinta Makanan Nostalgia, Hyderabad)
I loved the retro mithai revamp. Motichoor tiramisu? Yes, please. I don’t care if it’s ‘trendy’—it brought my childhood flavours into a new era. Sometimes fusion isn’t disrespect—it’s love in a different language.

Saya suka revamp mithai retro. Motichoor tiramisu? Iya, silakan. Nggak peduli itu ‘kekinian’—rasanya menghadirkan kenangan masa kecil ke era baru. Kadang fusion bukan penghinaan—tapi cinta dalam bahasa yang berbeda.

Street Food Historian (Sejarawan Kuliner Jalanan)
Funny how we call 'loaded pav' a trend. Pav bhaji was born from innovation and scarcity in 1940s Mumbai. Now we're adding cheese and calling it new? This isn’t creativity—it’s amnesia with extra calories.

Lucu bagaimana kita menyebut 'loaded pav' tren. Pav bhaji lahir dari inovasi dan kelangkaan di Mumbai tahun 1940-an. Sekarang kita tambah keju dan sebut baru? Ini bukan kreativitas—ini amnesia dengan kalori ekstra.

Cloud Coffee Barista Chennai (Barista Cloud Coffee, Chennai)
Y’all act like we’re faking it. Crafting that foam takes skill. It’s not instant. We use milk protein isolates and temperature control. It’s food science. And when a customer smiles after the first sip? That’s real.

Kalian semua seolah kita cuma pura-pura. Membuat busa itu butuh keterampilan. Nggak instan. Kami pakai isolat protein susu dan kontrol suhu. Ini ilmu makanan. Dan ketika pelanggan tersenyum setelah tegukan pertama? Itu nyata.