Was 2025 the Year Indian Food Became Too Pretty to Eat? Or Just Too Addictive to Stop Watching?
Apa 2025 Jadi Tahun Makanan India Terlalu Cantik untuk Dimakan? Atau Malah Terlalu Bikin Kecanduan untuk Dihentikan?

Pertanyaan sebenarnya bukan apakah tren ini cuma sensasional, tapi apakah bisa berkelanjutan. Bisakah mithai tradisional bertahan saat ladoo diubah jadi tiramisu? Dan kita harus bahas ‘swicy’: tren yang begitu sederhana hingga cukup campur madu dan bubuk cabai—tapi entah gimana, ada di mana-mana. India nggak menciptakan fusion; tapi Indonesia justru mengubah estetika jadi senjata.
Pfft, croissant isi kunafa? Tahu honey-chilli? Anak saya merekam barfi matchanya selama 20 menit sebelum dimakan. Saya bikin barfi yang sama waktu Diwali—nggak pakai filter, nggak terkenal. Generasi sekarang nggak makan makanan, mereka menyembah konten.
Astaga tante yang baik, Anda belum mengerti. Makanan sekarang adalah konten. Kalau nggak direkam, apakah benar-benar dimakan? Reel Cloud Coffee saya dapat 2,7 juta views—itu sumber pendapatan. TikTok ‘swicy’ saya bayar liburan ke Goa. Tradisi nggak bisa lawan viralitas.
Apa yang diabaikan orang adalah mesin ekonomi di balik ini. Cloud Coffee bukan tren—itu strategi penetapan harga. Kafe mematok ₹350 untuk sesuatu yang modalnya cuma ₹40. 'Markup estetika' adalah permainan sesungguhnya. Anda nggak bayar untuk kopi. Anda bayar untuk selfie.
Saya mencoba kunafa bulan Mei. Sampai Juli, pemasok saya berhenti mengantar karena 15 kafe di sekitar saya memesan 3x lebih banyak. Ini nggak berkelanjutan. Limbah phyllo, jarak pengiriman makanan, gelas sekali pakai—planet kita berteriak. Tren harus enak rasanya dan baik bagi lingkungan.
Saya suka revamp mithai retro. Motichoor tiramisu? Iya, silakan. Nggak peduli itu ‘kekinian’—rasanya menghadirkan kenangan masa kecil ke era baru. Kadang fusion bukan penghinaan—tapi cinta dalam bahasa yang berbeda.
Lucu bagaimana kita menyebut 'loaded pav' tren. Pav bhaji lahir dari inovasi dan kelangkaan di Mumbai tahun 1940-an. Sekarang kita tambah keju dan sebut baru? Ini bukan kreativitas—ini amnesia dengan kalori ekstra.
Kalian semua seolah kita cuma pura-pura. Membuat busa itu butuh keterampilan. Nggak instan. Kami pakai isolat protein susu dan kontrol suhu. Ini ilmu makanan. Dan ketika pelanggan tersenyum setelah tegukan pertama? Itu nyata.