Is There Really a Food Crisis—Or Are We Just Bad at Counting Hours Worked?
Apa Benar Ada Krisis Pangan—Atau Kita Cuma Sulit Hitung Jam Kerja?

Mari kita abaikan kehebohan: meskipun berita terus berseru, sebenarnya warga Amerika menghabiskan lebih sedikit jam kerja untuk membeli bahan makanan daripada sebelumnya. Inflasi memang menyakitkan, tentu—tapi waktu kerja sebenarnya yang disesuaikan dengan upah terus menurun.
Ini bagian mengejutkannya: kalau mengukur keterjangkauan dari jam kerja, keluarga kelas pekerja hari ini bisa membeli lebih banyak pangan setelah 40 jam kerja dibanding nenek moyang mereka setelah 60 jam. Itu kemajuan. Krisisnya? Ada di persepsi, bukan di dapur.
Mudah bagi para pakar lembaga riset bilang begitu. Troli belanja saya sekarang $200, dulu cuma $150 dua tahun lalu. Saya tak peduli teori tenaga kerja abstrak—bon belanja saya jelas-jelas teriak inflasi.
Tapi metrik utama di sini—'jam kerja per satuan makanan'—itu sah. Beginilah cara mengukur kemajuan ekonomi. Dompet Anda terasa kosong karena harga nominal naik, tapi gaji Anda juga naik. Cuma, di ingatan Anda, itu terasa belum cukup cepat.
Gaji saya tidak naik 33% seperti troli belanja saya. Dan biaya penitipan anak? Naik 50%. Jadi iya, makanan mungkin ‘lebih murah dalam satuan jam’, tapi semua hal lain sedang menggerogoti gaji saya.
Pada tahun 1900, warga Amerika menghabiskan 40% pendapatan mereka untuk makanan. Sekarang hanya 7%. Ini bukan krisis—ini mukjizat. Kita hanya tidak menghargai apa yang telah kita capai.
Oke, tapi bagaimana kalau Anda tinggal di kota yang biaya sewa habiskan 70% penghasilan? 'Makanan terjangkau' terasa seperti lelucon kalau Anda harus pilih antara roti alpukat dan pengatur suhu ruangan.
Jangan lupa: 'keterjangkauan' ini bergantung pada pertanian industri besar, pupuk murah, dan tenaga kerja pedesaan yang dieksploitasi. Kondisinya rapuh—dan secara etika rumit.
Tepat sekali. Saya tidak butuh lebih banyak alpukat. Saya butuh pengendalian sewa, layanan kesehatan, dan upah layak. Berhenti menjual saya 'kemajuan' seolah itu potongan pizza dingin dari kulkas kantor.
Umat manusia terus menciptakan cara melakukan lebih banyak dengan lebih sedikit. Dari traktor hingga koki AI, kita tetap di jalur. Marahlah pada kebijakan, bukan produktivitas.