Ariana Grande’s Glinda Costume Is Gorgeous—But Was Casting a Black Elphaba the Real Game-Changer?
Kostum Glinda Ariana Grande Memukau—Tapi Apakah Pemilihan Aktris Hitam untuk Peran Elphaba Justru yang Mengubah Segalanya?

Jujur saja: kedatangan Ariana Grande sebagai Glinda dari gelembung berkilau itu adalah fantasi yang sempurna. Tapi magis yang lebih dalam bukan terletak pada kilauannya—melainkan pada bagaimana desain Elphaba menceritakan kisah isolasi, duka, dan pemberontakan diam-diam.
Paul Tazewell tidak sekadar mendandani para penyihir—ia menenun identitas mereka ke setiap helai benang. Mulai dari pemilihan celana panjang yang menjadi simbol kebebasan, hingga sweter buatan tangan yang dipakai sebagai pelindung emosional, kostum-kostum itu bukan sekadar aksesori. Mereka adalah protagonis yang diam.
Memilih aktor hitam untuk peran Elphaba sementara narasi tetap fokus pada penolakan karena kulit hijaunya terasa seperti pedang bermata dua. Memang menambah kedalaman, tapi juga berisiko mengubah trauma rasial nyata menjadi metafora belaka—tanpa memperbaiki sistem penyebabnya.
Teater selalu menggunakan metafora untuk membicarakan penderitaan nyata. Itu tujuannya. Kita tak perlu kebakaran sungguhan untuk memahami kelelahan emosional—kita butuh cerita yang menjadi cermin diri.
Sweter 'seks' itu bukan cuma nyaman—tapi radikal. Seorang perempuan memakai sweter buatan tangan dalam adegan cinta? Itu penolakan terhadap pandangan maskulin. Tidak ada renda, tidak ada sutra. Hanya kehangatan, keaslian, dan konsistensi naratif.
Sebagai ibu yang puluhan tahun menjahit kostum Halloween anak saya, saya mengerti hubungan Tazewell dengan ibunya. Mesin Singer itu bukan cuma logam dan benang—tapi cinta, warisan, dan jahitan pertama dari sebuah karier seumur hidup.
Untuk pertama kalinya, perempuan hitam memerankan tokoh berkulit hijau. Warna itu kini bukan sekadar fantasi—tapi komentar sosial. Saat Elphaba disebut monster, penonton tak bisa menghindar dari bayangan dunia nyata di balik kata itu.
Kostumnya bagus, iya. Tapi apakah kita berpura-pura ini revolusioner? Studio masih memanfaatkan isu keragaman sambil hanya memberi dukungan verbal pada inklusi.
Kalian kebanyakan mikir. Kadang-kadang mantel panjang ya cuma mantel panjang. Tapi sial, mantel itu kelihatan keren.