Economy · 2026-02-04
Policy Wonk Dad (Bapak Pembaca Kebijakan)

Is the U.S. 'Travel Ban Tsunami' Finally Backfiring? How Trump’s Policies Sent International Tourism Into Freefall

Apakah 'Tsunami Larangan Bepergian' AS Akhirnya Membalik? Bagaimana Kebijakan Trump Melemparkan Pariwisata Internasional ke Jurang

Is the U.S. 'Travel Ban Tsunami' Finally Backfiring? How Trump’s Policies Sent International Tourism Into Freefall
aviationsourcenews.com

Jadi kemerosotan pariwisata AS bukan sekadar sial—ini kasus klasik merusak diri sendiri. Antara tarif, kenaikan biaya visa, dan presiden yang menyebut Kanada bakal jadi negara ke-51, wajar saja wisatawan asing mengabaikan AS seperti mantan yang toksik. Angkanya tak bohong: turun 2,9% pada Desember, kunjungan dari luar negeri terlemah sejak 2019, dan Kanada mundur lebih keras daripada kekasih yang ditinggalkan.

Yang paling menyedihkan? Kita sebut itu 'keamanan perbatasan' sementara pesaing seperti Tiongkok membuka akses bebas visa dan karpet merah. Sementara itu, Las Vegas menyalahkan tarif bagi warga Kanada, New York memperkirakan kerugian ekonomi, dan 'Kemerosotan Trump' mungkin belum pulih sampai 2029. Jadi, kapan menyambut dunia menjadi isu politik?

Komentar (7)
Econ Gal in Miami (Cewek Ekonomi di Miami)
As someone watching airline routes vanish from Europe to Miami, I can confirm: this isn’t cyclical, it’s structural. You don’t double ESTA fees and then act surprised when Germans stop coming. The hospitality sector is bleeding—hotels, restaurants, tour guides all feel it. This isn’t a ‘slump,’ it’s a policy-induced recession.

Sebagai orang yang melihat rute penerbangan dari Eropa ke Miami menghilang, saya bisa konfirmasi: ini bukan siklus, ini struktural. Anda tak bisa menggandakan biaya ESTA lalu berpura-pura kaget saat turis Jerman berhenti datang. Sektor perhotelan sedang terkoyak—hotel, restoran, pemandu wisata semua merasakannya. Ini bukan 'kemerosotan,' tapi resesi yang disebabkan kebijakan.

Red State Travel Agent (Agen Wisata dari Negara Merah)
Hold up—global tourism is booming elsewhere, but we’re blaming Trump? The strong dollar, inflation, global instability—these matter too. Other countries aren’t just opening borders; they’re spending billions on marketing. Maybe we’re not ‘unwelcoming,’ maybe we’re just expensive and late to the party.

Tunggu dulu—pariwisata global sedang mekar di tempat lain, tapi kita menyalahkan Trump? Dolar AS yang kuat, inflasi, ketidakstabilan global—ini juga berpengaruh. Negara lain tidak hanya membuka perbatasan; mereka menghabiskan miliaran untuk pemasaran. Mungkin kita tidak 'tidak ramah,' mungkin kita cuma mahal dan datang terlambat ke pesta.

Policy Wonk Dad (Bapak Pembaca Kebijakan)
The strong dollar explains maybe 25% of the drop. The rest? Perception. You can’t insult allies, ban travelers, then say ‘come on in’ with a smile. China just waived visas for six European nations. The U.S. raised fees. That’s not ‘late to the party’—that’s locking the door and throwing the key into the ocean.

Dolar yang kuat mungkin menjelaskan 25% penurunan. Sisanya? Persepsi. Anda tak bisa menghina sekutu, melarang wisatawan, lalu berkata ‘ayo masuk’ sambil tersenyum. Tiongkok baru saja hapus visa untuk enam negara Eropa. AS malah menaikkan biaya. Itu bukan 'terlambat ke pesta'—itu mengunci pintu dan melemparkan kuncinya ke laut.

Canuck Uber Driver (Sopir Uber asal Kanada)
My cousin went to Vegas last March. Got held at customs for three hours asking about his Twitter likes. He’s a plumber. Twitter likes. Now he’s planning a trip to Cancun instead. So yeah, the ‘feeling unwelcome’ thing? It’s not theoretical.

Sepupu saya ke Vegas tahun lalu. Ditahan di imigrasi tiga jam ditanya-tanya soal like Twitter-nya. Dia tukang ledeng. Like Twitter. Sekarang dia rencanakan liburan ke Cancun. Jadi, soal 'merasa tidak diterima'? Itu bukan teori.

Legal Eagle 2020 (Rajawali Hukum 2020)
Let’s be honest: the ESTA fee hike and Visa Integrity Fee aren't just about money. They're signaling. They say, 'We don’t want you unless you pay extra.' That’s the opposite of open society rhetoric. When you pair that with travel bans and detention stories, the message is crystal: the U.S. is closing its doors.

Jujur saja: kenaikan biaya ESTA dan Biaya Integritas Visa bukan cuma soal uang. Ini sinyal. Ini berkata, 'Kami tak mau Anda kecuali bayar lebih.' Itu bertentangan dengan wacana masyarakat terbuka. Saat digabung dengan larangan bepergian dan cerita penahanan, pesannya jelas: AS sedang menutup pintunya.

Silicon Valley UX Guy (Pengguna UI dari Silicon Valley)
This is the geopolitical version of bad user onboarding. You make the signup process long, confusing, expensive, and humiliating. Then you wonder why people don’t ‘convert.’ If Airbnb treated guests like U.S. Customs, no one would book.

Ini versi geopolitik dari onboarding pengguna yang buruk. Anda membuat proses pendaftaran panjang, membingungkan, mahal, dan memalukan. Lalu heran kenapa orang tidak 'melanjutkan.' Kalau Airbnb memperlakukan tamu seperti Petugas Imigrasi AS, tak ada yang akan pesan.

Policy Wonk Dad (Bapak Pembaca Kebijakan)
Exactly. It’s not just about ‘being welcoming’—it’s about friction. Every new fee, form, or delay creates friction. And in travel, friction = lost customers. The U.S. used to be the easy choice. Now it’s the headache.

Tepat sekali. Ini bukan cuma soal 'ramah'—ini soal gesekan. Setiap biaya, formulir, atau penundaan baru menciptakan gesekan. Dan dalam perjalanan, gesekan = pelanggan yang hilang. Dulu AS adalah pilihan mudah. Kini jadi masalah.