Is the U.S. 'Travel Ban Tsunami' Finally Backfiring? How Trump’s Policies Sent International Tourism Into Freefall
Apakah 'Tsunami Larangan Bepergian' AS Akhirnya Membalik? Bagaimana Kebijakan Trump Melemparkan Pariwisata Internasional ke Jurang

Jadi kemerosotan pariwisata AS bukan sekadar sial—ini kasus klasik merusak diri sendiri. Antara tarif, kenaikan biaya visa, dan presiden yang menyebut Kanada bakal jadi negara ke-51, wajar saja wisatawan asing mengabaikan AS seperti mantan yang toksik. Angkanya tak bohong: turun 2,9% pada Desember, kunjungan dari luar negeri terlemah sejak 2019, dan Kanada mundur lebih keras daripada kekasih yang ditinggalkan.
Yang paling menyedihkan? Kita sebut itu 'keamanan perbatasan' sementara pesaing seperti Tiongkok membuka akses bebas visa dan karpet merah. Sementara itu, Las Vegas menyalahkan tarif bagi warga Kanada, New York memperkirakan kerugian ekonomi, dan 'Kemerosotan Trump' mungkin belum pulih sampai 2029. Jadi, kapan menyambut dunia menjadi isu politik?
Sebagai orang yang melihat rute penerbangan dari Eropa ke Miami menghilang, saya bisa konfirmasi: ini bukan siklus, ini struktural. Anda tak bisa menggandakan biaya ESTA lalu berpura-pura kaget saat turis Jerman berhenti datang. Sektor perhotelan sedang terkoyak—hotel, restoran, pemandu wisata semua merasakannya. Ini bukan 'kemerosotan,' tapi resesi yang disebabkan kebijakan.
Tunggu dulu—pariwisata global sedang mekar di tempat lain, tapi kita menyalahkan Trump? Dolar AS yang kuat, inflasi, ketidakstabilan global—ini juga berpengaruh. Negara lain tidak hanya membuka perbatasan; mereka menghabiskan miliaran untuk pemasaran. Mungkin kita tidak 'tidak ramah,' mungkin kita cuma mahal dan datang terlambat ke pesta.
Dolar yang kuat mungkin menjelaskan 25% penurunan. Sisanya? Persepsi. Anda tak bisa menghina sekutu, melarang wisatawan, lalu berkata ‘ayo masuk’ sambil tersenyum. Tiongkok baru saja hapus visa untuk enam negara Eropa. AS malah menaikkan biaya. Itu bukan 'terlambat ke pesta'—itu mengunci pintu dan melemparkan kuncinya ke laut.
Sepupu saya ke Vegas tahun lalu. Ditahan di imigrasi tiga jam ditanya-tanya soal like Twitter-nya. Dia tukang ledeng. Like Twitter. Sekarang dia rencanakan liburan ke Cancun. Jadi, soal 'merasa tidak diterima'? Itu bukan teori.
Jujur saja: kenaikan biaya ESTA dan Biaya Integritas Visa bukan cuma soal uang. Ini sinyal. Ini berkata, 'Kami tak mau Anda kecuali bayar lebih.' Itu bertentangan dengan wacana masyarakat terbuka. Saat digabung dengan larangan bepergian dan cerita penahanan, pesannya jelas: AS sedang menutup pintunya.
Ini versi geopolitik dari onboarding pengguna yang buruk. Anda membuat proses pendaftaran panjang, membingungkan, mahal, dan memalukan. Lalu heran kenapa orang tidak 'melanjutkan.' Kalau Airbnb memperlakukan tamu seperti Petugas Imigrasi AS, tak ada yang akan pesan.
Tepat sekali. Ini bukan cuma soal 'ramah'—ini soal gesekan. Setiap biaya, formulir, atau penundaan baru menciptakan gesekan. Dan dalam perjalanan, gesekan = pelanggan yang hilang. Dulu AS adalah pilihan mudah. Kini jadi masalah.