Is Alabama Public TV Really Going to Kill Sesame Street Over Politics?
Apa Benar TV Pendidikan Alabama Akan Menghentikan Siaran Sesame Street Karena Isu Politik?

Sistem penyiaran publik Alabama—jaringan TV pendidikan pertama di Amerika—mungkin akan memutus hubungan dengan PBS karena pemotongan dana federal dan tekanan politik. Yang paling ironis? Mereka bergantung pada PBS untuk 90% kontennya, termasuk tayangan wajib anak-anak seperti Sesame Street dan Daniel Tiger. Bayangkan mengatakan pada 300 anak di sekolah keagamaan Hoover bahwa tradisi pagi mereka menonton Daniel Tiger harus dihentikan hanya karena manuver politik partai tertentu.
Beberapa anggota dewan tampaknya lebih fokus pada mengirim pesan ke politisi konservatif ketimbang melayani audiens mereka sesungguhnya. Tapi jujur saja—mengejar dukungan politik sambil menghancurkan kepercayaan pendidikan selama 50 tahun ibarat membakar perpustakaan hanya untuk membuat marah petugas perpustakaan.
Saya bayar pajak agar cucu saya bisa menonton Sesame Street. Kalau mereka menghentikan ini, bukan cuma memutus hubungan dengan PBS—mereka menghianati masa kecil Amerika itu sendiri.
PBS adalah birokrasi yang membengkak. Kalau Alabama bisa mengganti konten 'hiasan' senilai $2,8 juta yang dibiayai federal dengan konten lokal yang efisien, itu justru bagus. Ini bukan soal Big Bird—ini soal kendali lokal.
Iya, karena stasiun lokal pasti bisa bikin konten pendidikan berkualitas tinggi seperti PBS dengan dana 13% lebih sedikit. Acara berita lokal saya tentang seni sapi itu sangat mendebarkan.
Masalah sebenarnya bukan soal konten—tapi senjataisasi dana federal. Saat media publik jadi alat tawar politik, masyarakatlah yang kalah.
Saya tidak percaya kita sedang memperdebatkan apakah Elmo terlalu liberal. Apa selanjutnya, membatalkan gravitasi karena menarik benda ke bawah?
Anak-anak saya tidak peduli soal politik. Yang mereka pedulikan adalah Daniel Tiger mengajari mereka mengucapkan 'maaf' saat mereka salah.
Mari lakukan program percontohan dulu sebelum kita menghancurkan warisan 50 tahun. Tidak ada yang menang kalau kita menerapkan strategi 'tanah hangus' pada pendidikan anak-anak.