Reagan Called Free Trade 'Common Sense' — Trump Calls It AI-Generated Fraud. Who’s the Real Liar?
Reagan Sebut Perdagangan Bebas 'Akhlak Sehat', Trump Bilang Itu Konten Palsu Buatan AI. Siapa Sebenarnya yang Bohong?
Minggu lalu, iklan dari Ontario menggunakan ulang pidato radio Reagan tahun 1987 tentang perdagangan bebas saat World Series. Trump langsung marah—mengklaim itu konten 'palsu' buatan AI. Tapi begini kejutannya: itu bukan palsu. Reagan benar-benar pro perdagangan bebas, dan cara penyampaiannya yang tenang serta layaknya negarawan sangat kontras dengan gaya Trump yang penuh amarah.
Reagan memahami TV sebagai teater—ia merencanakan masuk panggung, melatih jeda, dan menyusun krisis sebagai narasi heroik. Trump memperlakukan kepresidenan seperti akhiran acara realitas TV: kacau, tak terduga, dan dibangun atas penghinaan. Yang satu mencari persatuan; yang lain tumbuh subur dalam perpecahan. Iklan Ontario bukan sekadar mengingatkan kebijakan Reagan—tapi membongkar betapa media telah mengubah harapan kita terhadap presiden.
Ayo dong. Trump bilang rekaman audio 35 tahun lalu 'dibuat oleh AI'? Sampai sejauh ini, aku nggak heran kalau dia bilang pendaratan di bulan itu direkayasa dalam studio oleh Reagan.
Keduanya artis panggung, iya. Tapi Reagan menjual fantasi persatuan. Trump menjual fantasi kemenangan. Yang satu melunakkan kenyataan; yang lain mengubah kekacauan menjadi senjata. Ini bukan pergeseran gaya—tapi keruntuhan kepemimpinan yang bermartabat.
Jujur, bagian paling aneh bukan karena Trump bilang itu AI. Tapi bahwa masih ada orang yang berharap presiden bersikap waras. Kita sudah lewati zaman narasi. Kita sekarang di era perasaan semata.
Reagan tidak pura-pura bersatu—dia memang percaya pada itu. Dia menggunakan media bukan untuk mengalihkan, tapi untuk menginspirasi. Boleh setuju atau tidak dengan kebijakannya, tapi jangan samakan karisma dengan rekayasa.
Mari jujur: kalau kamu bohong soal iklan TV, apa yang akan kamu lakukan saat ada intel keamanan nasional yang dipertaruhkan?
Pidato Challenger saja sudah membuktikan Reagan paham cara berbicara kepada bangsa yang berduka. Lima menit. Tanpa teleprompter. Hanya empati. Otoritas yang tenang seperti itu terasa asing sekarang.
Tepat sekali. Kita nggak mau pemimpin yang menenangkan kita saat berduka lagi. Kita mau pejuang yang marah bareng kita. Dan media membalasnya dengan sorotan.
Aku nggak merasa berduka waktu pandemi. Aku mati rasa. Jadi kenapa aku harus berharap presiden bisa langsung memperbaikinya dengan puisi?