San Francisco Renames Street After a Dead Alligator? Meet 'Claude the Alligator Way' – Is This a Step Forward or Just Zoo Politics?
San Francisco Ganti Nama Jalan untuk Buaya Mati? Kenalkan 'Jalan Claude Si Buaya' – Maju atau Cuma Politik Kebun Binatang?

San Francisco tidak pernah gagal mengejutkan. Alih-alih mengganti nama jalan untuk tokoh hak asasi manusia atau pahlawan perang, mereka pertimbangkan 'Jalan Claude Si Buaya'—penghormatan untuk reptil kesayangan yang tinggal di akuarium di Academy of Sciences.
Warga memilih secara bulat agar Music Concourse Drive—yang tepat di depan Academy—diberi nama sesuai penghormatan padanya. Ini mengikuti langkah kota yang baru saja mengganti 'Stow Lake' menjadi 'Blue Heron Lake' setelah asal-usul namanya ternyata dari tokoh rasis anti-imigran. Jadi, apakah ini kemajuan? Atau hanya menukar satu simbol dengan simbol lain?
Ini bukan hal konyol—ini perwujudan dari tanggung jawab lingkungan. Dulu San Francisco menghormati orang-orang yang ternoda oleh kekejaman. Kini kita menghormati makhluk yang mengajarkan anak-anak soal ketangguhan dan penerimaan perbedaan. Claude bukan sekadar hewan peliharaan; ia duta diam bagi keanekaragaman hayati.
Bagus, kita ganti nama jalan untuk buaya padahal lubang jalan dibiarkan dan harga rumah melambung. Ini soal prioritas, teman-teman.
Tak lama lagi, kita akan mengganti nama jalan tol untuk ikan mas. 'Jalan Tol Darwin Si Ikan Mas' kedengarannya keren juga.
Sebenarnya, simbol itu penting. Mengubah nama mengubah narasi budaya. Lihat saja Stow Lake. Kita menghentikan penyembahan terhadap tokoh rasis. Bukan sekadar pencitraan—ini edukatif.
Anak-anak saya mengunjungi Claude setiap kali piknik sekolah. Ia membuat mereka berhenti sejenak dan berpikir. Itu jauh lebih kuat daripada patung jenderal yang sudah tak diingat siapa pun.
Tapi akankah 'Jalan Claude Si Buaya' memperbaiki satu lubang jalan pun? Akankah menambah satu unit rumah terjangkau? Simbolisme itu mudah. Pemerintahan itu sulit.
Pemerintahan bukan cuma soal anggaran dan lubang jalan. Ini soal nilai. Jika kita ajarkan anak-anak bahwa hanya manusia yang penting, kita sudah kalah.