Is the 'K-Shaped Economy' Just a Fancy Name for 'Rich Get Richer, Poorer Get Stuck'?
Apakah 'Ekonomi Berbentuk K' Hanya Istilah Keren untuk 'Orang Kaya Makin Kaya, Orang Miskin Terjebak di Tempat'?

Sepuluh tahun lalu, pekerja berpenghasilan rendah justru mengalami pertumbuhan upah tercepat di Amerika. Sekarang? Kisahnya berbalik total. Hari ini, rumah tangga terkaya menikmati kenaikan upah tertinggi sementara warga miskin hanya bertahan di tempat—dan jurangnya makin melebar. Perpecahan berbentuk K ini bukan sekadar anomali grafik; ini adalah pengkhianatan ekonomi terhadap kelas pekerja.
Mengapa? Karena pasar kerja telah masuk koma. Melompat kerja—yang dulu menjadi tangga emas pekerja muda—telah kehilangan keajaibannya. Di 2022, ganti kerja berarti kenaikan 20%. Sekarang? Cuma 7%. Bahkan di beberapa bulan, tanpa keuntungan sama sekali. Kelas menengah bukan cuma menyusut—melainkan sedang dicekik diam-diam oleh mobilitas yang mandek dan kenaikan upah yang menciut.
Dengar, kapitalisme memberi imbalan pada yang menciptakan nilai. Kalau pekerja bergaji tinggi dapat kenaikan lebih besar, itu karena mereka menyelesaikan masalah yang lebih rumit. Tidak bisa cuma menuntut pertumbuhan upah yang sama untuk semua—begitulah cara pasar bekerja.
Ah, jangan gitu. Aku sampai begadang buat startup yang raup jutaan, cuma dapet bonus 500 dolar. Sementara bosku terbang ke Swiss buat ‘retret kesehatan’. Jangan bilangin aku soal ‘menyelesaikan masalah susah’.
Ini stagnasi pasar tenaga kerja versi buku pelajaran. Era emas ganti-ganti kerja berakhir saat perusahaan berhenti takut kekurangan tenaga kerja. Tidak takut = tidak ada kenaikan gaji. Bukan soal bakat—tapi soal kekuasaan. Dan kekuasaan kini kembali ke ruang rapat direksi.
Aku ingin bayar lebih, tapi tarif lagi makan keuntunganku. Aku impor bahan baku dan setiap pajak baru langsung numpuk ke biaya. Naikin upah berarti potong pos lain—bisa jadi malah PHK seseorang. Musuh sesungguhnya? Kebijakan proteksionis.
Dulu aku ganti kerja tiap 2 tahun buat dapat kenaikan 15%. Sekarang? Udah 4 tahun, cuma dapet sekali kenaikan 3%. Ekonomi serba 'gegas' ternyata jual janji palsu. Setia nggak dibayar. Pindah juga nggak. Tersisa apa lagi?
Tunggu dulu—kita bandingin upah riil atau nominal? Aku lihat pertumbuhan 3,5%, tapi kalau inflasi 4%, itu artinya gaji turun. Jangan-jangan kita sedang rayain 'pertumbuhan' yang sebenarnya penurunan.
Tarif dan tren ganti kerja penting, iya. Tapi jangan abaikan kerusakan struktural: transportasi umum rusak, perumahan mahal, utang mahasiswa. Nggak heran mobilitas mati. Kita bukan cuma terjebak di bentuk K—kita terjebak macet tanpa jalan keluar.
Anakku lulus dengan predikat tapi nggak bisa bayar kontrakan studio. Semua 'pertumbuhan ekonomi' ini terasa kayak pesta orang lain. Kapan kita mulai perbaiki tangganya?