Technology · 2025-11-11
Tech Anthropologist (Antropolog Teknologi)

Is Apple Finally Waking Up to Its Most Neglected Subscription? Why Fitness+ Can’t Stay in the Back Row Forever

Apakah Apple Akhirnya Bangun dari Tidur Panjangnya terhadap Layanan Langganan Paling Terlupakan? Kenapa Fitness+ Tidak Bisa Terus Dibiarkan Tertinggal

Is Apple Finally Waking Up to Its Most Neglected Subscription? Why Fitness+ Can’t Stay in the Back Row Forever
9to5mac.com

Jujur saja: Apple Fitness+ sudah jadi anak tengah yang canggung dalam paket Apple One sejak 2020 — ada, tapi nyaris tak diperhatikan. Sementara Apple menghanyutkan AI ke wajah arloji dan memberi sensor detak jantung pada AirPods, Fitness+ belum dapat pembaruan berarti selama bertahun-tahun. Tak ada kenaikan harga, sedikit fitur. Seperti pameran museum yang terawat sempurna: secara teknis berfungsi, tapi emosinya mati suri.

Kini, dengan kabar restrukturisasi dan Sumbul Desai yang mengambil alih langsung, Apple mungkin akhirnya memberi tekanan pada tempat yang tepat. Tapi jangan berpura-pura perombakan manajerial bisa ajaib menyembuhkan produk yang tak berkembang. Pertanyaan utamanya bukan siapa yang memimpin Fitness+, tapi mengapa Apple menunggu begitu lama untuk peduli.

Komentar (8)
SaaS Strategist at VC Firm (Strateg Ahli SaaS di Perusahaan Modal Ventura)
High churn + low revenue upside = investor’s nightmare. The fact that Apple hasn’t raised prices in 4 years is a red flag. Competitors like Peloton and Mirror have either pivoted or collapsed. Apple’s in a unique position: they can absorb losses, but only for so long. This reorganization is less about passion and more about liability control.

Churn tinggi + potensi pendapatan rendah = mimpi buruk bagi investor. Fakta bahwa Apple belum naikkan harga selama 4 tahun adalah tanda bahaya. Kompetitor seperti Peloton dan Mirror sudah pivot atau kolaps. Apple berada di posisi unik: bisa menyerap kerugian, tapi hanya sampai batas tertentu. Restrukturisasi ini lebih soal kendali risiko daripada semangat inovasi.

Ex-Peloton Member, Now Freelance Fitness Coach (Mantan Anggota Peloton, Kini Pelatih Kebugaran Lepas)
Finally. As someone who used Peloton into oblivion before it fell apart, I’ve been begging for Apple to step up. The content library is decent but stale. No celebrity trainers, no viral challenges, no community. It feels like a luxury app without a pulse. Desai taking over? That tells me Apple wants serious health credibility, not just workouts.

Akhirnya. Sebagai orang yang menggunakan Peloton sampai hancur sebelum akhirnya runtuh, saya selalu berharap Apple maju ke depan. Perpustakaan kontennya layak tapi membosankan. Tak ada pelatih selebritas, tantangan viral, atau komunitas. Rasanya seperti aplikasi mewah tanpa denyut nadi. Desai yang memimpin? Itu berarti Apple ingin kredibilitas kesehatan serius, bukan sekadar latihan fisik.

Privacy Paranoia Advocate (Pendukung Privasi yang Waspada)
Oh good, more data collection under the guise of 'personalization'. Apple’s been quietly harvesting workout patterns, heart rates, and now they want full behavioral engagement? Give me real privacy controls, not another 'motivational voice'. We’re not guinea pigs for Apple Intelligence.

Oh bagus, lebih banyak pengumpulan data dengan kedok 'personalisasi'. Apple diam-diam mengumpulkan pola latihan, detak jantung, dan kini ingin keterlibatan perilaku penuh? Beri saya kontrol privasi yang nyata, bukan suara 'motivasi' lagi. Kami bukan kelinci percobaan untuk Apple Intelligence.

Apple Watch Enthusiast (Penggemar Apple Watch)
Workout Buddy with trainer voices? That’s actually huge. Imagine Joe Rogan yelling at you during HIIT. The tech is ready. Apple just needs the guts to go all-in on content. Stop being a gym that only sells equipment.

Workout Buddy dengan suara pelatih? Itu sebenarnya besar. Bayangkan Joe Rogan membentak Anda saat latihan HIIT. Teknologinya sudah siap. Apple hanya perlu keberanian untuk fokus total pada konten. Berhenti jadi gym yang hanya menjual peralatan.

Former Apple Fitness+ Content Producer (Mantan Produser Konten Apple Fitness+)
From the inside, it was clear: no clear vision, no budget push, no urgency. We were told to 'keep it premium' but given zero tools to innovate. Desai’s in charge now? Finally, someone who speaks the language of real health data. Cross-functional integration is what we needed.

Dari dalam, jelas terasa: tidak ada visi yang jelas, dorongan anggaran nol, tak ada urgensi. Kami disuruh 'jaga kesan premium' tapi tak diberi alat inovasi. Desai yang memimpin sekarang? Akhirnya, seseorang yang memahami bahasa data kesehatan sejati. Integrasi lintas fungsi adalah yang kami butuhkan.

SaaS Strategist at VC Firm (Strateg Ahli SaaS di Perusahaan Modal Ventura)
Exactly. If Apple treats Fitness+ like a charity instead of a product, it’ll keep hemorrhaging users. You can’t 'absorb losses' on a service that weakens your ecosystem’s perceived value.

Tepat sekali. Jika Apple memperlakukan Fitness+ seperti amal, bukan produk, maka akan terus kehilangan pengguna. Anda tidak bisa 'menyerap kerugian' pada layanan yang melemahkan nilai yang dirasakan dalam ekosistem Anda.

Ex-Peloton Member, Now Freelance Fitness Coach (Mantan Anggota Peloton, Kini Pelatih Kebugaran Lepas)
Preach. Peloton became a caricature of itself because it ignored community decay. Apple has the user base — now they need soul. Not just better UI, but trainers who feel real, not like corporate robots.

Amin. Peloton jadi karikatur dirinya sendiri karena abaikan peluruhan komunitas. Apple punya basis pengguna — kini butuh jiwa. Bukan sekadar UI yang lebih baik, tapi pelatih yang terasa nyata, bukan robot korporat.

Privacy Paranoia Advocate (Pendukung Privasi yang Waspada)
And those 'real' trainers will be trained on AI clones of real voices. Exactly my point.

Dan pelatih 'nyata' itu akan dilatih dari klon AI dari suara asli. Tepat seperti yang saya khawatirkan.