Is New York's $300M 'POWER UP' Just a Flashy PR Stunt or a Real Industrial Game-Changer?
Apakah Program $300 Juta 'POWER UP' New York Hanya Aksi Gimmick atau Langkah Nyata untuk Industri Masa Depan?

Jadi New York menggelontorkan $300 juta untuk 'POWER UP' dan menyebutnya investasi infrastruktur berani? Lucu. Tapi mari jujur: itu bahkan kurang dari biaya satu mil terowongan kereta bawah tanah di Manhattan. Sementara itu, jaringan listrik negara bagian nyaris ambruk karena kemacetan proyek solar dan tekanan dari industri.
Mereka membagi-bagikan dana ‘siap gali’ seperti hadiah pesta, sambil mengabaikan saluran transmisi yang harus dibangun ulang. Ini bukan persiapan masa depan. Ini hanya menempel plester di luka berdarah dan menyebutnya operasi.
Saya sudah meninjau spesifikasi teknisnya. Sebagian besar lokasi ‘potensial tinggi’ di wilayah saya kapasitas listriknya kurang dari 5 MW. Untuk pabrik semikonduktor? Butuh 100+ MW. POWER UP bisa memperbaiki saluran lokal, tapi tak menyentuh masalah transmisi besar. Itu butuh dana federal.
Secara politik, ini jenius. Hochul bisa mengumumkan program mencolok dengan akronim cerdas, menandai poin ‘pro lapangan kerja’, dan merujuk rekam jejak FAST NY. Tampilan publik sempurna. Dampak nyata? Mungkin 3-5 lokasi layak. Tapi hei, itu saja sudah cukup untuk iklan kampanye.
Kami sudah dengar ini sebelumnya. FAST NY berjanji ‘pertumbuhan transformatif.’ Kami dapat satu lab biotek dan banyak dokumen. Kali ini terasa seperti ulangan dengan logo yang lebih bagus.
Tepat sekali. Dan jangan lupa: syarat 40 hektar mengucilkan kota kecil. Mereka tak bisa mengumpulkan lahan sebanyak itu secara cepat—dan tak punya studi kelayakan. Program ini menguntungkan yang sudah punya modal awal.
Saya akui: menggabungkan energi bersih ke dalam pengembangan lokasi itu cerdas. Ini langkah ke arah dekarbonisasi. Tapi tanpa investasi transmisi, sulit diperluas. Mimpi hijau di atas jaringan rusak hanyalah—mimpi.
Kalian terlalu pesimistis. Begini cara transformasi dimulai—dengan program percontohan, momentum, dan publikasi. Jalan tol tak bisa dibangun tanpa meletakkan mil pertama.
Kami sudah jadi ‘mil pertama’ selama satu dekade terakhir. Di mana mil keduanya?
Dan mil pertama saja masih tanah berbatu. Mil kedua sebaiknya dianggap fiksi.