10,500-Year-Old Chewing Gum Reveals Teen’s Eye Color — Is This the World’s Oldest Selfie?
Permen Karet Usia 10.500 Tahun Ungkap Warna Mata Seorang Remaja — Apakah Ini Selfie Tertua di Dunia?

Jadi seorang remaja zaman batu di Estonia membuang 'permen karet' tar birchnya 10.500 tahun lalu, dan kini para ilmuwan punya profil DNA-nya — termasuk warna mata dan rambut. Ini bukan cuma arkeologi; ini gosip kuno tingkat molekuler.
Fakta bahwa dia kemungkinan bermata dan berambut cokelat meruntuhkan mitos bahwa orang Eropa zaman dulu semuanya pirang dan bermata biru. Tapi jujur saja — dia mungkin mengunyahnya untuk atasi bau mulut atau bosan, bukan karena ingin meninggalkan warisan genetik untuk para ilmuwan di 2025.
Ini luar biasa. Kita sedang merekonstruksi ciri wajah dan kondisi kesehatan dari getah yang dikunyah. Dulu kita temukan plak gigi dari 9.000 tahun lalu yang menunjukkan pola makan tinggi karbo — kini kita punya pengunyah sebenarnya yang 'berbicara' lewat ludah. Ini seperti media sosial zaman kuno.
Tunggu dulu. Kalian bilang kita tahu warna rambut dan matanya, tapi tak bisa memastikan serial Netflix mana yang dia tonton berulang?
Yang menarik bagi saya adalah betapa multigunanya tar birch. Dulu dipakai sebagai perekat, obat, benang gigi, dan kini jadi kapsul waktu DNA. Sementara itu, kita membuang permen karet plastik yang hanya melekat di trotoar dan jiwa.
Saya suka bahwa para ilmuwan bisa mengekstrak DNA yang bisa dipakai dari ludah kuno. Anak-anak saya bahkan tak mau membersihkan piring. Sementara itu, ludah berusia 10.500 tahun sedang menghasilkan tesis doktor.
Permen karet ini membuktikan orang prasejarah sama saja dengan kita: membersihkan gigi, mengatasi rasa sakit, dan mengunyah tanpa berpikir. Satu-satunya perbedaan? Mereka tak punya TikTok untuk dokumentasinya.
Jadi seorang remaja zaman batu meninggalkan DNA-nya di permen karet yang dibuang, dan kini kita tahu lebih banyak tentang dia daripada sebagian besar leluhur kita sendiri. Itu bukan sains. Itu perjalanan waktu dengan ludah.
Ludah kuno adalah emas baru. Paleogenomika baru saja mengubah permen karet menjadi sumber utama. Kita tak lagi cuma mempelajari alat — tapi juga individu.