City Football Group Bails on Mumbai City—Is the Indian Super League Dying Before It Even Takes Off?
City Football Group Hengkang dari Mumbai City—Apakah Indian Super League Mati Sebelum Benar-Benar Lepas Landas?

Jadi City Football Group baru saja memutuskan hubungan dari Mumbai City karena Indian Super League bahkan belum bisa tanda tangan kontrak. Master Rights Agreement liga habis pada Desember dan tak ada kepastian musim 2025–26 bakal digelar. CFG menyebutnya 'evaluasi komersial'—tapi jujur saja, ketika sebuah kerajaan sepak bola global bermodal miliaran dolar mundur, bukan cuma 'ketidakpastian' yang terasa, tapi ada bendera merah sebesar lapangan sepak bola.
Mumbai City bukan sekadar klub pelengkap—di bawah CFG, mereka menang dua League Shield dan dua Piala ISL, bahkan lolos ke Liga Champions AFC dua kali. Tiba-tiba, ekspor sepak bola India paling cemerlang diremehkan jadi proyek lokal biasa. Sementara CFG masih punya Manchester City, Girona, New York City, dan 8 klub lain. Jadi, kenapa bertahan di tempat bola tak dimainkan dengan serius?
Masalah sebenarnya bukan karena CFG pergi—tapi kolapsnya MRA membuka betapa rapuh struktur ISL secara keseluruhan. Tanpa kontrak yang jelas dan bisa ditegakkan antara AIFF dan FSDL, tak ada legitimasi operasional. Ini bukan soal olahraga; ini kegagalan tata kelola perusahaan. Dan saat tata kelola gagal, investor pun kabur.
Hancur hati ini. Akhirnya kami punya klub dengan investasi sungguhan, jalur pengembangan pemain pro, dan ambisi nyata. Sekarang kembali ke pemilik dari Bollywood yang anggap sepak bola mainan. Terima kasih, AIFF. Khas manajemen olahraga India yang paling parah.
Tunggu—banyak dari kami benar-benar peduli pada klub ini. Ranbir Kapoor dan pemilik awal bukan cuma beli logo. Mereka bangun sesuatu yang nyata. Ini bukan sekadar gengsi selebriti; ini membangun warisan. Mungkin CFG tak paham budayanya?
CFG tidak main perasaan. Mereka fokus pada data. Mumbai City sukses, iya—tapi India bukan sumber bakat seperti Amerika Selatan, juga bukan raksasa pasar seperti Tiongkok. Kenapa terus suntik uang ke liga tanpa stabilitas, tanpa penonton global, dan infrastruktur rapuh? Marahlah pada CFG jika mau, tapi jangan salahkan petugas pemadam yang tak mau menyelamatkan rumah yang sudah terbakar habis.
Kami sudah memperingatkan AIFF dan FSDL selama bertahun-tahun. Anda tak bisa memperlakukan liga seperti bisnis keluarga. Kami pantas dapat yang lebih baik. Ini bukan cuma soal CFG—kami sedang mengkhianati pemain, suporter, dan impian sepak bola kami.
Tidak heran, 'administrasi' olahraga India bertindak lagi. Kriket yang berkuasa, sepak bola dapat sisaan. Selalu begitu, dan akan terus begitu. Bangunkan saya ketika kami lolos ke Piala Dunia.
Jangan kuburkan sepak bola India dulu. Ya, CFG pergi. Tapi infrastruktur, program pemuda, penampilan di AFC—semua itu tak lenyap dalam semalam. Kalau pemilik lokal mau maju, ini bisa jadi fondasi sesuatu yang besar.
Lihat datanya. Penonton ISL mandek. Pertumbuhan sponsor? Diam saja. Performa di AFC? Rata-rata. CFG pergi bukan karena perasaan. Mereka pergi karena ROI-nya tidak ada. Perbaiki dulu dasar-dasarnya.