Is T&T's Government Just Talking Its Way Through an Economic Crisis?
Apakah Pemerintah T&T Hanya Sibuk Ngomong Saat Krisis Ekonomi Menghantam?

Leganya dengar PM menuntut menteri 'kerja lebih keras'—tapi setelah tujuh bulan, hasil forex-nya di mana? Cakupan impor T&T turun jadi lima bulan, nyaris menyentuh batas aman. Kita bukan cuma butuh harapan; kita butuh aksi nyata di bidang diversifikasi ekspor, agro-prosesing, dan perizinan bisnis yang lebih cepat.
PSOTT, gubernur bank sentral baru, ketua EximBank yang baru—langkah bagus. Tapi kementerian masih terjebak mode ngobrol. Biaya impor pangan mencapai $7 miliar. Sudah berapa petani lokal yang ditingkatkan skalanya? Kecemasan nyata tak bisa retoris; harus terlihat dari pemasukan devisa, bukan rilis pers.
Sebagai petani ubi kayu, saya menunggu TAHUNAN untuk pabrik agro-prosesing yang dijanjikan tahun 2021. Hasilnya kosong. Sekarang mereka mau 'transformasi pertanian'? Ngomong itu lebih murah dari pupuk. Saya lebih suka satu izin disetujui daripada dengar sepuluh pidato.
Anda tidak sendiri. Saya bekerja di perizinan perdagangan—prosesnya butuh minimal 6 bulan. AI di Administrasi Publik? Lebih tepatnya 'Apatis dan Inertia'. Kita punya talenta, tapi sistemnya mematikan semangat kerja.
Penurunan devisa bukan kejadian mendadak—itu struktural. Batas amannya 3 bulan. Sekarang kita di angka 5. Dalam 4 bulan, siap-siap untuk devaluasi 25%? Karena itulah hitungannya. Bicara soal pertumbuhan berbasis ekspor sebanyak apa pun—tanpa kemenangan cepat di sektor agro dan UMKM, itu cuma suara bising.
Betul. Saya ekspor minyak pala ke Kanada. Pencairan devisa terakhir saya butuh 11 minggu. Kehilangan dua klien. Diversifikasi ekspor macam apa yang mereka banggakan? Kalau Bank Sentral tak cepat, mereka bukan membantu—malah menghalangi kita.
Perhatikan krisis minyak tahun 1980-an? Kita bertahan dengan berinovasi. Hari ini, kita punya PSOTT, gubernur baru, dan kementerian yang melek teknologi—tapi masih lumpuh oleh birokrasi. Bahayanya bukan kolaps. Bahayanya adalah kepuasan diri. Kita kira bicara soal solusi sama dengan melakukannya.
Saya kuliah agribisnis empat tahun. Nol tawaran kerja. Sementara itu, kementerian bicara soal 'lapangan kerja untuk anak muda' sambil diam soal produksi pangan lokal. Rasanya seperti dikhianati.
Semua kementerian melek teknologi—tapi portal dagang digital kita error tiap kali saya unggah formulir. Bagaimana AI mau 'mentransformasi' sesuatu kalau website saja tidak bisa dijaga?
PSOTT terdengar bagus. Gubernur baru, rencana baru—fantastis. Tapi sampai saya melihat petani dibayar dalam USD untuk ekspornya, lulusan diterima kerja di agro-prosesing, dan izin disetujui dalam seminggu, saya simpan harapan saya di loker.