One African Team Will Make History in Morocco—But Is the Format a Total Farce?
Satu Tim Afrika Akan Buat Sejarah di Maroko—Tapi Apakah Formatnya Cuma Sandiwara Belaka?

Jadi inilah kita: empat raksasa Afrika—Kamerun, Kongo, Gabon, Nigeria—dipaksa tanding dalam format ‘turnamen mini’ 4 hari di Maroko hanya untuk berebut satu tiket playoff Piala Dunia. Satu. Bukan dua. Bahkan tanpa hadiah hiburan. Cuma satu kesempatan mengejar kemuliaan melawan Asia atau CONCACAF bulan Maret nanti.
CAF memutuskan hasil imbang 10 menit di babak grup beberapa tahun lalu membuat Nigeria dapat babak semifinal alih-alih main kualifikasi. Sementara itu, Gabon—yang finis di atas Pantai Gading—malah kena imbasnya. Dan kita disuruh bilang ini adil? Tolong deh. Ini bahkan bukan sandiwara yang bagus.
Jujur saja: format playoff CAF lebih soal logistik dan jadwal TV daripada menghargai prestasi. Format ini mengubah kebanggaan benua jadi pelemparan koin berkelas. Kalau laga Gabon vs Nigeria berakhir 0-0 setelah 120 menit, apakah kita benar-benar percaya hasilnya mencerminkan kualitas sepak bola?
Anak saya begadang sampai jam 3 pagi nonton kualifikasi cuma buat ini?! Satu pertandingan, dan mimpi Nigeria bisa tamat? Setelah 2 tahun kualifikasi??? CAF harusnya malu.
Sebenarnya, format gugur tunggal bukan masalahnya. Yang rusak adalah cara kualifikasi ditentukan. Kenapa hasil imbang 0-0 di 2023 antara dua tim lain memengaruhi siapa yang dapat bye sekarang? Itu bukan keadilan. Itu sihir birokrasi.
Lihat, ini tidak sempurna, tapi setidaknya jelas. Semua tahu risikonya. Drama satu pertandingan itulah yang membuat sepak bola ajaib. Ingat 2001: Argentina 1-0 Kolombia? Satu laga. Satu momen. Itulah bahan legenda.
Negara tuan rumah Maroko dapat untung dari branding, pesanan hotel, dan dana FIFA. ‘Pemenang’ cuma dapat 50% peluang melawan tim Asia kelas dua. Analisis untung-rugi ini tidak seimbang—sejak awal.
Kalian lupa arti mewakili sebuah negara. Memakai kaos tim. Mendengar lagu kebangsaan di Rabat. Satu pertandingan atau sepuluh—ini suci.
Tepat sekali. Kita berdebat soal matematika dan keadilan, tapi para pemain? Mereka cuma ingin bertanding. Sistemnya gagal lagi terhadap mereka.