Is This the Year Pop Finally Kills Rock? Meet the 10 Artists BBC Says Will Rule 2026
Inikah Tahun Pop Akhirnya Menghabisi Rock? Kenalkan 10 Musisi yang Katanya Akan Mendominasi 2026 Versi BBC

Jadi BBC merilis daftar Sound of 2026, dan tebak apa? Penuh dengan ratu pop, penyampai kebenaran R&B, dan satu band yang masih merasa tahun 1993. Iya, kamu, Geese.
Jangan salah paham—Geese itu berbakat. Tapi di era di mana TikTok bisa bikin loop 16 detik jadi lagu hits global, apakah anak di bawah 30 benar-benar peduli dengan lima cowok di garasi yang mengejar hantu Television?
Bilang Geese itu 'hantu Television' itu terlalu menyederhanakan. Mereka bukan peniru zaman dulu—mereka menyaring puluhan tahun rock alternatif jadi sesuatu yang mendesak dan aneh. Lirik mereka soal propaganda dan keterasingan? Itu bukan tahun 1993—itu teriakan 2026 padamu.
Jujur saja—Alessi Rose dan Skye Newman itu kesayangan algoritma. Mereka menciptakan lagu yang dirancang bikin viral: hook yang siap TikTok, lirik pengundang simpati, dan konklusi emosional dalam waktu kurang dari tiga menit.
Hormat untuk Sasha Keable—10 tahun berkarya sebelum TikTok meliriknya. Itulah cerita sesungguhnya di sini: bakat yang menunggu algoritma berkedip.
Mari hadapi kenyataan: pop tidak membunuh rock. Pop hanya satu-satunya genre yang tersisa setelah rock terpecah jadi 47 subgenre dan kehilangan jati diri.
Dan buat yang bilang lagu trauma 3 menit menentukan masa depan musik—apakah kamu pernah dengar Getting Killed? Itu 42 menit amarah, irama, dan kejernihan puitis. Tidak ada satu chorus pun yang dibuat untuk TikTok.
Zaman aku dulu, kamu nggak butuh TikTok buat terkenal. Cukup riff yang bagus, tempat manggung yang seadanya, dan fanzine yang baunya bir basi.
Aku putar Family Matters karya Skye Newman untuk murid-muridku. Mereka menangis. Lalu mereka menulis lagu brutal mereka sendiri. Kalau seni menggerakkan orang, berarti berhasil—tak peduli 16 detik atau 16 menit.