Is College Still the American Dream or Just a Debt Sentence?
Apakah Kuliah Masih Mimpi Amerika atau Cuma Hukuman Berutang?

Mereka jual mimpi: belajar keras, ambil gelar, hidup enak. Loncat ke 2025, dan gelar kuliah kini terasa lebih seperti jangkar daripada peluncur karier. Jajak pendapat NBC terbaru menunjukkan 63% pemilih terdaftar merasa gelar tidak sepadan dengan biayanya—naik dari 40% hanya 12 tahun lalu. Ini bukan sekadar pergeseran. Ini revolusi total terhadap cara orang Amerika memandang masa depan mereka.
Biaya kuliah melonjak 312% setelah inflasi sejak 1963, sementara upah hanya naik 9%. Untuk Gen Z, logika ekonominya tidak masuk akal. Bahkan lulusan kuliah kini kecewa—hanya 46% yang menganggap gelarnya sepadan. Maka pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah kita sedang menyaksikan kematian perlahan model ‘kuliah untuk semua’, atau sekadar koreksi pasar yang keras?
Jujur saja. Saya kerja 40 jam seminggu di startup teknologi dan gajinya lebih tinggi dari orang tua saya saat mereka berusia 40-an. Tanpa gelar, cuma pakai keterampilan. Kuliah? Justru jebakan biaya yang hilang bagi kebanyakan orang. Nilai baliknya (ROI) nyaris tidak ada.
Wah, sejauh apa sih kepekaan sosialmu? Tidak semua orang bisa 'naikkan kemampuan' lewat YouTube lalu langsung kerja gaji ratusan juta. Mahasiswa saya kerja dua tempat tetap nggak cukup beli buku kuliah. Lo lihat kasus ekstrem, trus bilang itu tren.
Inilah akibatnya kalau kita perlakukan pendidikan seperti komoditas. Dulu ilmu itu hadiahnya sendiri. Sekarang cuma transaksi: bayar Rp1,5M, doa-doa semoga balik modal. Kita sudah kehilangan sesuatu yang sakral.
Kenapa pada bersedih gini? Kita akhirnya pisahkan belajar dari gelar. Mau belajar coding? Ikut bootcamp. Desain UX? Cari aja di Google. Kuliah cuma satu jalan, bukan satu-satunya puncak gunung.
Saya lunasi utang mahasiswa Rp1,2M saat usia 45. Hal tersulit yang pernah saya lakukan. Anak saya? Sekarang kuliah di perguruan tinggi negeri plus sertifikasi. Kita nggak main judi pakai gelar lagi.
Coba bilang itu ke sisa utang mahasiswa saya Rp975 juta. Saya pilih passion, bukan profit — tapi masyarakat nggak bayar buat itu. Sekarang saya ngajar les paruh waktu dan kerja di toko. 'Premi kuliah' mati bersama ekonomi serabutan.
Return on investment > perasaan. Pilih jurusan teknik atau ilmu komputer, dan lo bakal mapan. Berhenti ngeluh, pilih jurusan yang bayar. Ini bukan krisis — ini kegagalan bimbingan karier.
Dulu di jamanku, kuliah itu tiket emas. Sekarang lebih kayak piala hiburan. Lo dapetin, tapi apa ada yang peduli?