I Just Dropped $5,400 on a Chanel—And I’m Already Having a Mini Nervous Breakdown. Regret or Just Patriarchy?
Baru Aja Saya Keluarin $5.400 Buat Tas Chanel—Dan Udah Stres Setengah Mati. Itu Penyesalan atau Cuma Tekanan Sosial?

Jadi akhirnya saya menyerah dan beli tas Chanel mini flap dari kulit domba—$5.400 lenyap begitu saja. Tasnya cantik banget, iya, tapi otak saya terus muter, 'Bagaimana kalau uangnya buat liburan ke Bali, ya?' Saya tahu rasa bersalah ini konyol, tapi saya tumbuh dalam kemiskinan, dan menghabiskan banyak uang untuk sesuatu yang nggak bisa dimakan atau bayar tagihan? Ya, itu bikin perih.
Tas ini sekarang cuma tersedia dalam kulit domba, dan meskipun rasanya lembut kayak mentega, saya dengar itu rentan banget tergores. Sementara versi dari kulit caviar hampir dua kali lipat harganya. Apa ini termasuk merawat diri? Atau cuma belanja karena takut harga naik? Dan kenapa saya merasa harus membenarkan diri buat manjain diri sendiri?
Apa yang kamu alami bukan penyesalan. Itu kecemasan pasca pembelian yang dipicu oleh pola pikir lama tentang uang. Kamu nggak tumbuh dalam keluarga kaya—itu kuncinya. Otakmu masih teriak mode bertahan hidup, meskipun secara finansial kamu udah aman. Uang $5.400 itu nggak terbuang. Itu beli kamu momen kebahagiaan, validasi, dan simbol dari perjalanan hidupmu.
Boleh saya jadi pihak kontra: $5.400 untuk satu tas? Itu bisa buat bayar sewa rumah 6 bulan buat orang lain. Kalau kamu suka, pakai setiap hari. Tapi menyebut ini 'merawat diri' sementara orang lain nggak bisa beli makanan, terlalu dipaksain.
Sebagai ibu, saya ngerti banget. Dulu saya beli jaket $200, terus nangis setelahnya. Bukan karena jaketnya—tapi karena bisa buat apa: alat sekolah, biaya bensin. Tapi Chanel ini? Itu investasi. Bisa kamu jual lagi. Beda sama jaket saya yang cuma luntur dan bolong.
Kulit domba bukan kesalahan—itu kemewahan dalam bentuk paling murni. Iya, mudah tergores. Tapi tampilan usang yang muncul? Itu bukan kerusakan—itu cerita. Kulit caviar buat orang yang perlakukan tas kayak alat. Ini karya seni.
Kita diprogram buat malu kalau belanja buat diri sendiri. Apalagi sebagai perempuan. Tas kamu nggak boros. Itu bentuk ambil kembali hak. Kamu nggak cuma beli kulit—kamu beli kembali rasa berharga kamu.
Ah iya, energi klasik 'gue punya duit dan selera mewah, tapi dulu gue miskin' gitu. Tragedi modern banget. Gue yakin kamu minum susu oat dan baca buku Brene Brown. Tapi yang penting, setidaknya kamu nggak beli NFT.
Saya lebih milih pengalaman daripada barang. Uang itu bisa buat 3 minggu di Bali. Barang pasti tua. Kenangan? Itu abadi. Tapi nggak ada maksud men-judge—cuma saya sedang numpang proyeksi nihilisme diam-diam.