Are Captive Tiger Farms the Real Villains Behind the Surge in Whole-Animal Trafficking?
Apakah Peternakan Harimau Binaan Pemain Utama di Balik Lonjakan Perdagangan Harimau Utuh?

Tamatttt era 'diplomasi harimau'. Alih-alih melindungi harimau liar, pemerintah kini sibuk menangkap harimau utuh—ada yang masih hidup—dikirim lintas batas seperti barang elektronik ilegal. Laporan terbaru TRAFFIC mengungkap pergeseran menyeramkan: 40% sitaan kini berupa bangkai utuh atau hewan hidup, bukan cuma tulang dan kulit.
Peternakan binaan seharusnya jadi solusi—mengurangi tekanan pada populasi liar. Tapi kini justru terlihat sebagai masalah. Kalau kamu membiakkan harimau di peternakan rahasia, tempel label 'suaka' palsu, lalu mengirim hewan utuh ke benua lain, itu bukan konservasi. Itu pencucian satwa liar.
Mari kita hubungkan titik-titiknya. Sitaan harimau utuh naik karena ‘mencuci’ harimau hidup lebih gampang daripada menyelundupkan tulang bubuk dalam kiriman kecil. Satu hewan, satu kontainer, satu oknum pelabuhan. Boom. Efisiensi rantai pasok versi harimau.
Di Aceh, kami melihat harimau mati dijual sebagai 'hiasan berkhasiat'. Adik saya menangis saat melihat satu di pasar Medan. Keluarga percaya itu bawa kekuatan. Bukan cuma serakah. Tapi kepercayaan.
Kita terus obati gejalanya, bukan penyakitnya. Penyitaan terlihat bagus di rilis pers, tapi tak hentikan peternakan atau permintaan. Kalau WWF dan TRAFFIC ingin dampak nyata, kejar uangnya—bukan bulunya.
Tepat sekali. Korupsi adalah pelumas mesin ini. Bersihkan satu pelabuhan, rute berpindah ke lima lainnya. Tanpa mengacaukan aliran uang, penegakan hukum hanyalah permainan tekan-tombol tikus.
Kedengarannya seperti pasar gelap perdagangan satwa liar. Mungkin butuh solusi blockchain? Tokenisasi harimau? Tidak serius. (Tapi serius, pendekatan keuangan sangat terabaikan.)
Sistem hukum perlakukan perdagangan harimau seperti kejahatan kecil. Hukumannya lebih pendek daripada maling mobil. Butuh hukuman minimum wajib untuk penyelundupan satwa liar—buat risikonya lebih besar daripada untungnya.
Kita lewatkan dimensi budaya. Di beberapa desa, cakar harimau adalah warisan keluarga. Barat menyebutnya perdagangan ilegal. Masyarakat lokal menyebutnya tradisi. Sampai kita hadapi zona abu-abu ini, kebijakan mana pun takkan menempel.
Iya! Pamanku menyimpan cakar harimau di kotak terkunci. Katanya ayahnya berburu itu tahun '60-an 'untuk perlindungan'. Itu sakral baginya. Bagaimana mungkin menangkap perasaan begitu dengan surat sita?