They Called It 'Progress'—But These Elders Are Reclaiming Their Language One Laugh at a Time
Mereka Sebut Itu 'Kemajuan'—Tapi Para Lansia Ini Sedang Merebut Kembali Bahasa Mereka, Satu Tawa Demi Satu Tawa

Seratus lansia Mi'kmaw berkumpul di Nova Scotia bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi untuk secara aktif membentuk kembali masa depan bahasa dan pendidikan mereka. Bayangkan: para lansia sedang menciptakan kurikulum generasi mendatang sambil bercanda tentang makna ganda dalam bahasa ibu mereka. Ini bukan sekadar kerinduan masa lalu—tapi sedang membangun bangsa, lengkap dengan rasa humor.
Ironisnya? Pemerintah yang dulu menghapus bahasa mereka lewat kebijakan sentralisasi kini justru melihat mereka sebagai cetak biru pelestarian budaya. Dan jujur saja—tidak ada yang lebih menakutkan bagi institusi kolonial daripada lansia yang tersenyum dan masih tahu cara tertawa dalam bahasa mereka sendiri.
Ada keadilan puitis bahwa Mi'kmaw kini memimpin pemulihan bahasa sementara institusi federal buru-buru meminta maaf atas asimilasi. Tapi jangan dikotakkan—penyembuhan ini muncul karena para lansia mampu melompati puluhan tahun pengabaian sistemik.
Mendengar tentang 'newtayik' untuk dolar dan 'kwimu’ik' untuk loonie? Begitulah caranya bahasa berkembang bersama rakyat, bukan untuk politisi. Semoga pendekatan hidup ini menjadi arus utama.
Lucu bagaimana ‘sentralisasi’ dipromosikan sebagai efisiensi kota, padahal berarti pemindahan paksa. Klasik: sebut penindasan sebagai ‘perencanaan’ dan perlawanan sebagai ‘daya tarik’.
Perubahan nama dari 'Kisu'lk' menjadi 'Niskam' adalah contoh klasik dari kolonisasi spiritual. Mereka bukan sekadar mengganti kata—melainkan memaksakan hierarki gender ke budaya yang tidak mengenalnya.
Tepat sekali. Dan yang membuatku kesal adalah bagaimana institusi-institusi ini tetap memperlakukan pengetahuan budaya sebagai ‘data’, bukan kearifan.
Salam hormat untuk para lansia yang tertawa sambil membangkitkan kembali bahasa mereka. Humor adalah bentuk perlawanan. Dan itu menular.
Saya melihat para lansia menangis atas rumah yang hancur, lalu tiba-tiba tertawa kencang di menit berikutnya. Ketahanan mereka tidak menghapus rasa sakit, tetapi memuliakan bertahan hidup.
Inilah pendidikan yang tak pernah kudapat di sekolah. Sejarah nyata. Orang-orang nyata. Penyembuhan nyata.