Is the US Government Finally Waking Up to the Artist Apocalypse?
Apa Pemerintah AS Akhirnya Mulai Sadar soal Kiamat bagi Seniman?

Jangan pura-pura kaget. Dunia seni sudah lama bukan tempat kerja yang adil — dan sekarang resmi jadi medan pembantaian. Turun 12% secara global? Bukan sekadar koreksi; ini keruntuhan plus rasa hampa hidup.
Tapi AS — rumah bagi ekonomi seni terbesar di dunia — hanya turun 9%. Terdengar lebih baik? Mungkin. Tapi ingat: ini terjadi setelah bertahun-tahun penyusutan. Kita bukan lagi turun sebentar, tapi menuju kehancuran total. Dan pemerintah, seperti biasa, bersikap seakan-akan cuma sedang nge-set suhu AC.
Pemerintah nggak mengabaikan seniman karena benci seni. Tapi karena kerja kreatif masih dianggap 'kemewahan', bukan bagian penting ekonomi. 1% dari tenaga kerja itu besar — hampir 2 juta orang! Tapi kita perlakukan pelukis seperti penghibur jalanan dan penyair seperti penghobi.
Oh asyik, sekarang pas pasar terbakar, kita mau 'diskusi kebijakan'? Di mana kalian waktu aku ngutang kuliah 120K dolar terus dibilang aku bakal 'mengubah dunia lewat goresan kuas'? Kita nggak butuh ngobrol. Kita butuh dana hibah.
Seni nggak 'gagal' — gelembung spekulasi sedang kempis. Para kolektor perlakukan lukisan seperti saham. Nggak heran kalau jatuh. Mungkin sekarang kita bisa punya seni untuk seni itu sendiri, bukan demi nilai jualnya nanti.
Saya nggak ngerti soal 'pasar seni', tapi guru seni di TK anak saya baru kena PHK. Dia yang bikin tiap anak merasa jadi seniman beneran. Apa ini yang disebut 'kontraksi ekonomi'? Buat saya, lebih kayak erosi budaya.
Orang terus bilang ‘dukung seniman’ — tapi gimana caranya? Kebanyakan galeri juga nyaris bangkrut. Kita bukan miliarder yang mainan lukisan Banksy. Kita cuma pengin nggak makan mi instan tiap malam.
Ya, sistemnya rusak. Tapi ingat dulu label musik yang kuasai semua? Lalu muncul Bandcamp, Patreon, TikTok. Mungkin masa depan bukan di galeri — tapi di penonton.
Dukungan dari penonton kedengaran bagus, sampai aku sadar 'penonton'ku cuma tiga orang: ibuku, kucingku, dan bot yang otomatis suka video Reels-ku.
Seni bertahan saat komunitas membela. Bukan lewat dana lindung nilai beli lot lelang, tapi lewat program sekolah, teater lokal, dan orang yang hadir. Itulah ekosistem beneran. Dan kita sedang membuatnya kelaparan.