Apple’s Design Exodus: Is the Magic Dead or Just Moving to Meta?
Eksodus Desain Apple: Apakah Sihirnya Sudah Habis atau Hanya Pindah ke Meta?

Ini bukan sekadar eksekutif biasa yang pergi — ini Alan Dye, otak di balik seluruh bahasa UI modern Apple, yang kabur ke Meta. Ini bukan perampasan talenta biasa; ini invasi budaya yang sukses.
Liquid Glass tidak menjual ponsel — malah menjual kebingungan. Dan kini desainer yang mempopulerkannya sudah pergi. Sementara itu, studio baru Meta sedang merakit tim impian dari eks-desainer Apple. Kebetulan? Atau Apple diam-diam kehilangan jiwanya dalam desain?
Mari kita akui — antarmuka Apple sudah terlihat lelah sejak iOS 15. Sementara itu, Reality Labs dari Meta justru sedang mencoba bahasa visual baru. Saya tidak membela Zuck, tapi dia memperlakukan desainer seperti seniman, bukan insinyur.
Dulu tahun 2013, Jony Ive bilang 'Desain adalah jiwa dari kreasi buatan manusia.' Kini murid-muridnya pergi ke Meta. Ironinya lebih tebal dari karya Picasso hasil ciptaan AI.
Orang lupa bahwa Meta kini jadi tujuan utama bagi talenta desain produk. Apple belum merilis bahasa desain benar-benar baru sejak Desain Datar tahun 2013.
Jangan terlalu memuja Meta. Mereka merekrut desainer untuk menyamarkan kapitalisme pengawasan. Apple, meski banyak kekurangan, masih percaya pada privasi sebagai prinsip desain. Itu penting.
Ironinya lebih tebal dari karya Picasso hasil ciptaan AI.
Tepat sekali. Kita terlalu terobsesi kaca dan gradien sampai mengabaikan bahwa desain tanpa etika hanyalah manipulasi berbalut gaya.
Sementara itu, tim desain Apple mungkin sedang berdebat apakah ikon Pengaturan iOS baru harus punya 7 atau 8 piksel di sudutnya. Itulah prioritas.
Atau mungkin Apple sedang main catur 4 dimensi dan kita akan lihat revolusi diam-diam di iOS 18. Jangan tulis nisan terburu-buru.