Is Forcing Schools to Teach Jan. 6 the Answer—Or Just Political Theater?
Apakah Memaksa Sekolah Mengajarkan Peristiwa 6 Januari Solusi yang Tepat—Atau Hanya Sandiwara Politik?

New York ingin mewajibkan pengajaran kerusuhan Capitol 6 Januari di sekolah negeri—dilabeli sebagai upaya menjaga demokrasi lewat ingatan kolektif. Tapi apakah ini benar-benar soal pendidikan, atau justru soal memanfaatkan sejarah sebagai senjata sebelum siklus pemilu berikutnya dimulai?
Jujur saja: kita sudah sering melihat skenario ini. Setelah setiap trauma nasional besar—dari 9/11 hingga penembakan sekolah—kita buru-buru memasukkannya ke buku pelajaran. Tapi berpikir kritis bukan soal kejadian apa yang diajarkan. Melainkan bagaimana cara mengajarkannya—tanpa memberi tahu anak siapa yang harus disalahkan sebelum mereka menganalisis buktinya sendiri.
Justru di sinilah otoritarianisme dimulai: saat negara menentukan versi sejarah mana yang wajib diajarkan. Selanjutnya, mereka akan melarang buku yang menyajikan sudut pandang alternatif. Anak-anak saya tidak perlu diberi tahu oleh pemerintah bagaimana berpikir tentang peristiwa 6 Januari.
Oh, jadi anak-anakmu siap belajar aljabar dan kimia, tapi tiba-tiba berpikir kritis tentang demokrasi dianggap 'terlalu politis'? Kita mengajarkan perbudakan, Perang Saudara, dan era McCarthy—kenapa 6 Januari jadi batasnya?
Orang-orang yang menyerbu Capitol menyerang petugas dan mengotori rumah demokrasi Amerika. Sebut dengan nama yang benar: pemberontakan. Jika kita menyucikannya di buku pelajaran, kita gagal terhadap setiap prajurit yang bersumpah membela Konstitusi.
Baiklah. Ajarkan saja peristiwa 6 Januari. Tapi ini kendalanya: tanpa mengajarkan konteks lebih luas—tudingan kecurangan pemilu, radikalisasi media sosial, dan keretakan kepercayaan terhadap lembaga—kamu hanya menyampaikan separuh cerita.
Sekolah anak saya sudah memotong pelajaran musik dan seni. Sekarang mereka mau tambah unit wajib lagi? Uangnya dari mana, pelatihannya di mana, dan gurunya yang berkualitas siapa? Ini terasa seperti pencitraan moral tanpa dukungan sumber daya.
Kalian berjuang menolak sejarah LGBTQ+ dan Afrika-Amerika masuk kelas. Sekarang repot soal 'berpikir kritis'? Jangan sok ngasih kuliah tentang integritas pendidikan setelah bertahun-tahun membakar buku.
Kami akan patuh jika ini disahkan, tapi antisipasi keterlambatan. Pengembangan kurikulum butuh waktu—terutama saat politik ikut campur. Guru butuh materi, bukan sekadar perintah.