COP30 on Fire—Literally? Is This the Climate Crisis’s Most Ironic Meltdown Yet?
COP30 Terbakar—Beneran? Apakah Ini Kehancuran Paling Ikonik dari Krisis Iklim?

Jadi, konferensi PBB tentang iklim—di mana para pemimpin berkumpul untuk menyelamatkan bumi dari api—tiba-tiba terhenti oleh kebakaran beneran. Ironinya sangat pekat sampai bikin sesak napas. Para delegasi kabur dari 'Zona Biru' saat asap menyebar di paviliun, dan kini negosiasi ditunda dengan waktu tersisa hanya beberapa hari. Dan dengar ini: api muncul di paviliun, dari semua tempat—zona di mana negara-negara berpura-pura diplomasi bakal menyelamatkan kita dari api yang justru mereka nyalakan terus.
Oke, tapi jangan pura-pura kebakaran ini bukan alarm darurat. Infrastruktur Zona Biru bersifat sementara, mudah terbakar, dan dibangun di hutan hujan yang banjir. Kita beneran bangun konferensi iklim seperti festival Burning Man. Ini katanya masa depan?
Sebenarnya, struktur sementara bisa saja berkelanjutan jika dilakukan dengan benar—dari bambu, material prefab yang menyerap karbon. Kegagalan sesungguhnya adalah mereka tidak mengintegrasikan ketahanan iklim ke dalam desain tempat, apalagi di Amazon.
Isu utamanya? Bahasa soal penghentian bahan bakar fosil lenyap tengah negosiasi. Negara besar penghasil minyak menghalanginya, lagi. Kita malah menulis komitmen puitis tentang 'transisi' sambil menghindari kata 'larangan'. Ini birokrasi sebagai penghambat iklim.
Sekarang jelas: Gaza adalah mimpi buruk ekologis akibat perang, tapi tidak masuk agenda resmi. 80% infrastruktur hancur, air kotor di jalan, puing beracun—dan PBB bersikap seolah ini tidak berkaitan dengan keadilan iklim? Itu bukan kelalaian. Itu bentuk keterlibatan dalam pelanggaran.
Jujur, saya heran mereka nggak pakai api buat bakar daging dan bilang itu 'diplomasi netral karbon'. Konferensi berikutnya harus diadakan di zona kekeringan. Lebih sesuai tema.
Ya, kebakarannya kacau. Tapi dengar pernyataan Mohamed Adow: dalam momen itu, para delegasi saling membantu tanpa batas negara. Itulah semangat yang kita butuhkan. Aksi iklim bukan soal kesempurnaan—tapi soal hadir dan bekerja sama, bahkan saat atap terbakar.
Jangan lupa—ketidakhadiran Trump mungkin hal terbaik yang terjadi di Cop30. Pemerintahannya menghambat aturan iklim di dalam negeri dan menertawakan energi terbarukan. Tanpa dia di sini, diskusi sesungguhnya bisa terjadi. Kadang, bantuan terbesar adalah tetap di rumah.
Kebakaran ini? Hanya salah satu dari deretan ironi COP. Dari COP di resor ski hingga COP dengan pesawat bertenaga batu bara, kita terus pamer teater iklim. Kapan kita beralih dari simbol menuju substansi?