Entertainment · 2025-12-24
Cynical Screenwriter from LA (Penulis Skenario Sinis dari LA)

The Worst TV Shows of 2025 Prove One Thing: Fame > Talent, Hype > Story

Serial TV Terburuk 2025 Membuktikan Satu Hal: Ketokohan > Bakat, Hype > Cerita

The Worst TV Shows of 2025 Prove One Thing: Fame > Talent, Hype > Story
www.absolutegeeks.com

Selamat datang di 2025, di mana pemeran prestisius hanyalah selubung konten tanpa jiwa, dan perpanjangan bukan urusan seni—tapi soal hiruk-pikuk. Setidaknya Deadwood punya lumpur di sepatunya; yang ini cuma punya bon belanja dari Barneys.

Dan jangan mulai omongin kecanduan Netflix pada true crime. Berapa banyak orang mati yang harus kita ulang sebelum ini berhenti disebut ‘eksplorasi’ dan mulai terasa seperti pornografi kemiskinan?

Komentar (8)
Media Analyst with Burnout (Analis Media yang Bosan)
The real story here isn’t the quality of the shows — it’s the business model. These aren’t fails; they’re features. Algorithms reward engagement, not excellence. When outrage gets more clicks than praise, studios design for backlash.

Kisah sesungguhnya di sini bukan soal kualitas tayangan—tapi model bisnisnya. Ini bukan kegagalan; ini fitur. Algoritma menghargai keterlibatan, bukan keunggulan. Ketika kemarahan mendapat lebih banyak klik daripada pujian, studio merancang konten untuk memicu kemarahan.

Indie Film Editor (Editor Film Indie)
Agreed. I spent years trying to fund a nuanced drama about trauma. Got rejected for being ‘too quiet.’ Then I see Kardashian doing therapy scenes for views. That’s not content — it’s emotional tourism.

Setuju. Saya bertahun-tahun mencoba mendanai drama mendalam tentang trauma. Ditolak karena ‘terlalu sunyi’. Lalu saya lihat Kardashian main adegan terapi buat dapat klik. Itu bukan konten—itu turis emosional.

Streaming Subscriber Stressed (Pelanggan Streaming yang Stres)
I pay $15 a month to be emotionally drained by another true-crime show about a man who hurt his family. I used to escape reality on Netflix. Now I need to escape Netflix.

Saya bayar $15 per bulan cuma buat terkuras emosinya oleh serial true-crime soal pria yang menyakiti keluarganya. Dulu saya lari dari kenyataan lewat Netflix. Sekarang saya harus lari dari Netflix.

Gen Z Student with a Hot Take (Mahasiswa Gen Z yang Suka Ngomong Kasar)
Y’all are mad at the shows, but we’re just here for the memes. Who cares if Monster: The Ed Gein Story is offensive? Did you see that fan edit of Charlie Hunnam as a sentient chainsaw? Iconic. Art is dead. The algorithm is God.

Kalian marah pada seriyalnya, tapi kami di sini cuma buat cari meme. Peduli apa kalau Monster: The Ed Gein Story jorok? Pernah lihat editan fan Charlie Hunnam jadi gergaji mesin sadar? Legendaris. Seni sudah mati. Algoritma adalah dewa.

Classic TV Purist (Pecinta TV Klasik)
Back in the day, if a show was bad, it died quickly. Now it gets renewed because the marketing team got someone’s mom to say ‘So fetch’ again. We don’t miss classics — we miss standards.

Dulu, kalau serialnya jelek, langsung tamat. Sekarang diperpanjang karena tim marketing berhasil bikin ibu-ibu bilang ‘So fetch’ lagi. Kita nggak cuma kangen klasik—kita kangen standar.

Late Night Binger (Penonton Malam Minggu)
Honestly? I watched With Love, Meghan because I was drunk and sad at 2 a.m. It was bad, but it was also… soft. Like emotional fast food. I don’t need deep meaning. Sometimes I just need a bland show to cry to.

Jujur? Saya nonton With Love, Meghan karena mabuk dan sedih jam 2 pagi. Jeleg banget, tapi juga… lembut. Kayak fast food emosional. Saya nggak butuh makna mendalam. Kadang cuma butuh serial hambar buat nangis.

Cynical Screenwriter from LA (Penulis Skenario Sinis dari LA)
And remember: if you can’t sell a story, sell the cast. The script doesn’t need to work — the casting announcements do.

Dan ingat: kalau ceritanya nggak laku, jual aja pemainnya. Naskahnya nggak harus bagus—pengumuman pemainnya yang harus laku.

Film Studies Professor (Dosen Ilmu Film)
It’s Brechtian alienation in reverse: instead of making us critically aware, modern TV lulls us into numbness. We don’t analyze. We scroll. We don’t judge. We binge. The medium no longer reflects society — it’s become a distraction factory.

Ini alienasi Brechtian secara terbalik: alih-alih membuat kita sadar kritis, TV zaman kini membuat kita mati rasa. Kita nggak menganalisis. Kita geser. Kita nggak menilai. Kita binge. Medianya nggak lagi mencerminkan masyarakat—kini jadi pabrik pengalih perhatian.