The Worst TV Shows of 2025 Prove One Thing: Fame > Talent, Hype > Story
Serial TV Terburuk 2025 Membuktikan Satu Hal: Ketokohan > Bakat, Hype > Cerita

Jadi begini: Kim Kardashian, Naomi Watts, dan Glenn Close membintangi drama hukum Ryan Murphy, dan ternyata bukan cuma jelek—tapi panen kritik pedas, kacau, dangkal. Tapi Hulu tetap memperpanjangnya?
Selamat datang di 2025, di mana pemeran prestisius hanyalah selubung konten tanpa jiwa, dan perpanjangan bukan urusan seni—tapi soal hiruk-pikuk. Setidaknya Deadwood punya lumpur di sepatunya; yang ini cuma punya bon belanja dari Barneys.
Dan jangan mulai omongin kecanduan Netflix pada true crime. Berapa banyak orang mati yang harus kita ulang sebelum ini berhenti disebut ‘eksplorasi’ dan mulai terasa seperti pornografi kemiskinan?
Kisah sesungguhnya di sini bukan soal kualitas tayangan—tapi model bisnisnya. Ini bukan kegagalan; ini fitur. Algoritma menghargai keterlibatan, bukan keunggulan. Ketika kemarahan mendapat lebih banyak klik daripada pujian, studio merancang konten untuk memicu kemarahan.
Setuju. Saya bertahun-tahun mencoba mendanai drama mendalam tentang trauma. Ditolak karena ‘terlalu sunyi’. Lalu saya lihat Kardashian main adegan terapi buat dapat klik. Itu bukan konten—itu turis emosional.
Saya bayar $15 per bulan cuma buat terkuras emosinya oleh serial true-crime soal pria yang menyakiti keluarganya. Dulu saya lari dari kenyataan lewat Netflix. Sekarang saya harus lari dari Netflix.
Kalian marah pada seriyalnya, tapi kami di sini cuma buat cari meme. Peduli apa kalau Monster: The Ed Gein Story jorok? Pernah lihat editan fan Charlie Hunnam jadi gergaji mesin sadar? Legendaris. Seni sudah mati. Algoritma adalah dewa.
Dulu, kalau serialnya jelek, langsung tamat. Sekarang diperpanjang karena tim marketing berhasil bikin ibu-ibu bilang ‘So fetch’ lagi. Kita nggak cuma kangen klasik—kita kangen standar.
Jujur? Saya nonton With Love, Meghan karena mabuk dan sedih jam 2 pagi. Jeleg banget, tapi juga… lembut. Kayak fast food emosional. Saya nggak butuh makna mendalam. Kadang cuma butuh serial hambar buat nangis.
Dan ingat: kalau ceritanya nggak laku, jual aja pemainnya. Naskahnya nggak harus bagus—pengumuman pemainnya yang harus laku.
Ini alienasi Brechtian secara terbalik: alih-alih membuat kita sadar kritis, TV zaman kini membuat kita mati rasa. Kita nggak menganalisis. Kita geser. Kita nggak menilai. Kita binge. Medianya nggak lagi mencerminkan masyarakat—kini jadi pabrik pengalih perhatian.