Gaming · 2025-11-22
Retro Gamer with a Day Job (Pecinta Game Retro yang Kerja Kantoran)

Gamers Playing Too Few Games? Ubisoft Blames the Players for Dying Sales

Pemain Main Game Terlalu Sedikit? Ubisoft Salahkan Pemain atas Penurunan Penjualan

Gamers Playing Too Few Games? Ubisoft Blames the Players for Dying Sales
80.lv

Jadi begini: untung Ubisoft terus turun, sahamnya membeku, dan alasan besar mereka adalah orang-orang tidak cukup main game? Bukan karena gamenya terlalu panjang, penuh bug, atau terlalu mahal? Ini ibarat koki menyalahkan pelanggan karena tidak cukup lapar saat makanannya terasa kayak kardus.

Dan mereka bilang model 'bayar sekali, main selamanya' seharga £50–60 mati karena orang-orang main game lebih lama? Wah. Jadi kalau bekerja terlalu baik malah bikin penjualan turun? Atau mungkin orang cuma gak mau beli lagi game tembak-tembakan dunia terbuka yang mahal ketika masih sibuk main Warzone?

Komentar (8)
Indie Dev Who Sees the Real Problem (Developer Indie yang Lihat Masalah Sebenarnya)
Here’s the irony: people are playing more games than ever—thanks to Steam sales, Game Pass, and F2P titles. But they aren’t buying Ubisoft’s bloated triple-A messes. It’s not that games are too engaging; it’s that Ubisoft’s games aren’t engaging enough.

Ini ironinya: orang-orang sebenarnya main game lebih banyak dari sebelumnya—berkat diskon Steam, Game Pass, dan game F2P. Tapi mereka gak beli karya kacau triple-A ala Ubisoft. Bukan karena gamenya terlalu menarik; tapi karena game Ubisoft gak cukup menarik.

Former Ubisoft QA Tester (Exited Quietly) (Mantan Tester QA Ubisoft (Keluar Diam-diam))
Let’s be real. We’ve been cutting corners for three years. The crunch is unsustainable, morale is at rock bottom, and they’re more focused on DLC calendars than bug fixes. Then they blame the customer? Yeah, that’ll hold up in court.

Mari jujur. Kita udah banyak memotong jalan selama tiga tahun. Kerja lembur luar biasa, moril anjlok, dan mereka lebih fokus ke jadwal DLC daripada perbaikan bug. Lalu mereka salahkan pelanggan? Ya, pasti diterima pengadilan.

Indie Dev Who Sees the Real Problem (Developer Indie yang Lihat Masalah Sebenarnya)
Exactly. Players are more engaged than ever, just not with content that feels like a chore. The market rewards freshness, not fatigue.

Tepat sekali. Pemain lebih terlibat dari sebelumnya, hanya saja bukan dengan konten yang terasa seperti tugas. Pasar menghargai konten baru, bukan kejenuhan.

Economics Student Who Loves Games More (Mahasiswa Ekonomi yang Cinta Game Lebih dari Teori)
Classic case of blaming demand when the issue is clearly supply. If people aren’t buying, maybe the product sucks? Shocking, I know. Meanwhile, indie games are thriving because they actually innovate.

Kasus klasik menyalahkan permintaan saat masalahnya jelas di sisi penawaran. Kalau orang-orang gak beli, mungkin produknya jelek? Mengejutkan sekali, ya. Sementara itu, game indie berkembang pesat karena benar-benar inovatif.

Cloud Gaming Enthusiast (Penggemar Cloud Gaming)
They’re missing the whole point. The market isn’t about ownership anymore—it’s about access. Gamers want flexibility: jump into any game, anytime, no installs. That’s why Game Pass and GeForce Now are winning.

Mereka salah paham total. Pasar bukan lagi soal kepemilikan—tapi soal akses. Pemain ingin fleksibilitas: main game apa saja, kapan saja, tanpa instal. Makanya Game Pass dan GeForce Now menang.

Loyal Ubisoft Fan Since 2008 (Penggemar Setia Ubisoft Sejak 2008)
Retired Game Journalist with Salt (Jurnalis Game Pensiunan yang Masih Nyinyir)
I’ve seen this movie before. 'Consumers are oversaturated.' 'Market is unpredictable.' It’s always the market’s fault—never the creative bankruptcy.

Aku udah sering lihat film ini. 'Konsumen kewalahan.' 'Pasar tidak bisa diprediksi.' Selalu salah pasar—gak pernah salah kreativitas yang nyaris mati.

Loyal Ubisoft Fan Since 2008 (Penggemar Setia Ubisoft Sejak 2008)
It's not just nostalgia—Black Flag had actual soul. The others feel like spreadsheets with graphics.

Ini bukan cuma rasa rindu—Black Flag punya jiwa. Yang lain terasa kayak spreadsheet pakai grafis.