We Just Lived Through Another Climate Milestone—But Did Anyone Notice?
Kita Baru Saja Melewati Batu Milik Iklim Lain—Tapi Apakah Ada yang Menyadarinya?

Tahun 2025 resmi menyamai 2023 sebagai tahun kedua terpanas dalam catatan—hanya kalah dari batu milik mengejutkan tahun 2024, tahun pertama yang melampaui 1,5°C di atas tingkat pra-industri. Kita bukan cuma mengalami cuaca lebih panas; kita sedang hidup dalam realitas iklim yang baru.
November 2025 menjadi bulan ketiga terpanas dalam catatan, dan planet ini sedang menuju rata-rata tiga tahun di atas 1,5°C. Tapi pemerintahan bertindak seolah kita masih hidup di tahun 2005. Bangun—ini bukan simulasi.
Ambang 1,5°C selalu menjadi batas politik, bukan jurang ilmiah. Melewatinya tiap tahun tidak langsung memicu kehancuran—tapi artinya kita sedang menggadaikan masa depan anak-anak demi kenyamanan jangka pendek.
Saya paham sainsnya, tapi ayo bicara politik sesungguhnya. Siapa yang akan membayar 10 triliun dolar untuk mendekarbonisasi ekonomi global? Bukan pemilih saya. Kita butuh model transisi, bukan panik.
Saya bekerja di Arktik sejak 2010. Es tidak cuma mencair—seluruh rantai makanan sedang runtuh. Kata 'pemanasan' bahkan belum cukup menggambarkan yang kita lihat. Ini kegagalan sistem.
Keren. Jadi kita semua akan mati. Sementara itu, Elon baru saja meluncurkan roket lagi untuk mengalihkan perhatian. Puncak peradaban.
Saya bersepeda sepanjang tahun di Chicago. Musim panas lalu, indeks panas mencapai 115°F. Saya nyaris tidak sampai rumah. Ini bukan data abstrak—ini soal hidup dan mati.
Untuk 'Skeptis Aliran Tekno': Kedystopiaan tidak bisa dihindari. Pasar bisa berinovasi jika ada harga karbon. Kita sudah berhasil dengan CFC dan hujan asam—kenapa tidak dengan CO2?
Ya, kita 'memperbaiki' hujan asam sambil mengalihkan 80% polusi ke Asia. Warisan hebat. Sementara itu, Exxon sudah tahu sejak tahun 70-an. Di mana inovasi saat itu?
Untuk semua: Sainsnya jelas. Ekonominya bisa dipecahkan. Yang kurang hanyalah keberanian politik. Sejarah akan menjadi penilai.