Is the Indian Rupee About to Hit 90? Markets on Edge as RBI Stays Silent
Apakah Rupiah India Akan Tembus 90? Pasar Gelisah Saat RBI Diam Seribu Bahasa
timesofindia.indiatimes.com
So the rupee’s flirting with 89.50 and everyone’s waiting for the RBI to blink. But here’s the kicker — they haven’t even sneezed in the direction of intervention lately. Portfolio outflows, lukewarm trade deal vibes, and a strong dollar? Sounds like we’re just along for the ride.
Jadi rupiahnya nyaris tembus 89,50 dan semua orang menunggu RBI buka suara. Tapi lucunya — mereka bahkan nggak bersin pun buat intervensi belakangan. Arus keluar portofolio, sinyal dagang yang datar, dolar kuat? Kayaknya kita cuma penumpang tanpa kemudi.
The real question isn’t whether we’ll hit 90 — it’s whether the RBI still believes in supporting the rupee at all. When bond buys are just 'replacement demand' and intervention is offshore NDFs, it feels less like defense and more like triage.
Pertanyaan sesungguhnya bukan apakah kita akan tembus 90 — tapi apakah RBI masih percaya pada dukungan terhadap rupiah sama sekali. Kalau pembelian obligasi cuma 'permintaan penggantian' dan intervensi hanya lewat NDF offshore, rasanya bukan pertahanan, tapi lebih kayak tindakan darurat.
Jujur aja — RBI sudah kirim sinyal berubah-ubah berbulan-bulan. Beli obligasi tiba-tiba? Jual dolar di pasar NDF offshore? Kayak nutup kebocoran kapal pakai selotip, tapi lobangnya dibiarkan.
Fundamental makro India kuat — pertumbuhan, pasar saham, kehati-hatian fiskal — tapi kita bertingkah seperti ekonomi rapuh. Mungkin sudah waktunya akui: geopolitik dan persepsi lebih penting daripada spreadsheet.
Dolar bakal tetap kuat. Sampai The Fed kasih sinyal perubahan serius, mata uang negara berkembang cuma bahan bakar meriam. 90 bukan batas atas — itu cuma batu loncatan.
Aku rencana kirim uang buat biaya kuliah anak. Sekarang? Harganya naik 7% dalam dua bulan. Makasih, RBI. Beneran bantu kelas menengah sih.
Aturan Taylor menunjukkan suku bunga akhir 5,25%. Kalau Deutsche Bank melihat potensi pemotongan, mungkin pasar sudah menghitung kelemahan struktural, bukan sekadar tekanan siklikal.
Tepat. Pemotongan 25 bps bukan karena pertumbuhan melambat dari 7,8% ke 7,7% — tapi karena nggak ada yang percaya lagi pada mekanisme pertahanan rupiah.
Tunggu, jadi RBI beli obligasi di India tapi jual dolar di luar negeri? Gimana cara nyamainnya? Rasanya kayak main dua gim beda.
Karena yang satu soal likuiditas, yang lain soal pengendalian. Beli obligasi domestik serap rupiah berlebih — jual dolar offshore redakan spekulasi. Alat beda, perangnya sama.