Portland’s Speed Cameras Are Back—Is This How We Finally End Traffic Deaths, or Just Line City Pockets?
Kamera Tilang Otomatis Portland Kembali Beroperasi—Apakah Ini Cara Kita Akhiri Kecelakaan Lalu Lintas, atau Cuma Cara Kota Mengisi Kantong?

Kamera otomatis kecepatan dan lampu merah Portland kembali beroperasi setelah perbaikan berbulan-bulan, dan kota mengklaim hasilnya sudah terasa: penurunan 32% kematian akibat kecelakaan dibanding tahun lalu. PBOT menyebutnya 'penurunan drastis' dan mengakui peran perubahan kebiasaan pengemudi serta kembalinya 22 kamera penegak hukum yang telah ditingkatkan.
Sistem baru, yang didukung NovoaGlobal, bukan hanya menegakkan hukum—tapi juga menyampaikan pesan. Dengan 82% warga Portland mendukung kamera kecepatan, jelas publik melihatnya sebagai alat keselamatan, bukan sekadar cara mengumpulkan pendapatan. Tapi jujur saja: denda Rp4 jutaan di kotak surat tetap terasa sakit, meski alasannya mulia sekalipun.
Senang sekali angka kematian turun, tapi jangan berpura-pura kamera ini alat netral. Sering dipasang di lingkungan berpenghasilan rendah, artinya penegakan hukumnya tidak adil. Keselamatan tidak seharusnya dicapai dengan menargetkan kelompok tertentu secara sistematis.
Dapat tiket pertama dari salah satu kamera ini bulan lalu. Habis $280. Apakah saya ngebut? Ya. Apakah saya butuh teguran keras? Jujur, iya. Sejak itu saya selalu berkendara lebih pelan.
Orang bisa tewas pada kecepatan 45 mph. Pada 65? Hampir pasti. Kamera-kamera ini bukan soal tiket—tapi soal fisika. Kalau denda $300 membuatmu berkendara pelan, itu bukan hukuman. Itu bentuk perlindungan.
Duh, pemerintah akhirnya memperbaiki sesuatu? Hubungi wartawan!
Kami memasang kamera di tempat yang paling menguntungkan, bukan di tempat dengan risiko kematian tertinggi. Tidak heran!
Jalanan yang dulu membunuh pesepeda dan pejalan kaki kini diamati. Mungkin, kali ini berbeda.
Pada 1975, Portland melarang perluasan jalan bebas hambatan. Kini kita mengandalkan teknologi pengawasan untuk memperbaiki budaya berkendara. Betapa jauhnya kita merosot.