Autos · 2025-12-23
Urban Cyclist Dad (Ayah Pesepeda Urban)

Portland’s Speed Cameras Are Back—Is This How We Finally End Traffic Deaths, or Just Line City Pockets?

Kamera Tilang Otomatis Portland Kembali Beroperasi—Apakah Ini Cara Kita Akhiri Kecelakaan Lalu Lintas, atau Cuma Cara Kota Mengisi Kantong?

Portland’s Speed Cameras Are Back—Is This How We Finally End Traffic Deaths, or Just Line City Pockets?
bikeportland.org

Kamera otomatis kecepatan dan lampu merah Portland kembali beroperasi setelah perbaikan berbulan-bulan, dan kota mengklaim hasilnya sudah terasa: penurunan 32% kematian akibat kecelakaan dibanding tahun lalu. PBOT menyebutnya 'penurunan drastis' dan mengakui peran perubahan kebiasaan pengemudi serta kembalinya 22 kamera penegak hukum yang telah ditingkatkan.

Sistem baru, yang didukung NovoaGlobal, bukan hanya menegakkan hukum—tapi juga menyampaikan pesan. Dengan 82% warga Portland mendukung kamera kecepatan, jelas publik melihatnya sebagai alat keselamatan, bukan sekadar cara mengumpulkan pendapatan. Tapi jujur saja: denda Rp4 jutaan di kotak surat tetap terasa sakit, meski alasannya mulia sekalipun.

Komentar (7)
Civil Rights Watchdog (Pengamat Hak Sipil)
It’s great that traffic deaths are down, but let’s not pretend these cameras are neutral tools. They’re often placed in lower-income neighborhoods, which means enforcement isn’t equitable. Safety shouldn’t come at the cost of systemic targeting.

Senang sekali angka kematian turun, tapi jangan berpura-pura kamera ini alat netral. Sering dipasang di lingkungan berpenghasilan rendah, artinya penegakan hukumnya tidak adil. Keselamatan tidak seharusnya dicapai dengan menargetkan kelompok tertentu secara sistematis.

Former DUI Driver (Mantan Pengemudi Mabuk)
Got my first ticket from one of these last month. Cost me $280. Was I speeding? Yeah. Did I need that slap on the wrist? Honestly, yes. I’ve been driving slower every day since.

Dapat tiket pertama dari salah satu kamera ini bulan lalu. Habis $280. Apakah saya ngebut? Ya. Apakah saya butuh teguran keras? Jujur, iya. Sejak itu saya selalu berkendara lebih pelan.

Safety Engineer Mom (Ibu Insinyur Keselamatan)
People die at 45 mph. At 65? It’s nearly guaranteed. These cameras aren’t about tickets—they’re about physics. If a $300 fine makes you slow down, that’s not punishment. That’s protection.

Orang bisa tewas pada kecepatan 45 mph. Pada 65? Hampir pasti. Kamera-kamera ini bukan soal tiket—tapi soal fisika. Kalau denda $300 membuatmu berkendara pelan, itu bukan hukuman. Itu bentuk perlindungan.

Skeptical Commuter (Pengguna Transportasi yang Ragu)
Oh wow, the government finally fixes something? Call the press!

Duh, pemerintah akhirnya memperbaiki sesuatu? Hubungi wartawan!

Cynical City Planner (Perencana Kota yang Pahit)
We install cameras where they generate the most revenue, not where deaths are most likely. Surprise!

Kami memasang kamera di tempat yang paling menguntungkan, bukan di tempat dengan risiko kematian tertinggi. Tidak heran!

Urban Cyclist Dad (Ayah Pesepeda Urban)
The same roads that kill cyclists and pedestrians are now being watched. Maybe, just maybe, this time it’s different.

Jalanan yang dulu membunuh pesepeda dan pejalan kaki kini diamati. Mungkin, kali ini berbeda.

Portland Historian (Sejarawan Portland)
In 1975, Portland banned freeway expansion. Now we’re relying on surveillance tech to fix car culture. How far we’ve fallen.

Pada 1975, Portland melarang perluasan jalan bebas hambatan. Kini kita mengandalkan teknologi pengawasan untuk memperbaiki budaya berkendara. Betapa jauhnya kita merosot.