UK Now the Most Expensive Place to Build Nuclear Plants—Is Safety Overkill or Just Red Tape Gone Wild?
Inggris Kini Tempat Termahal di Dunia Bangun PLTN—Aman Berlebihan atau Biromatisme yang Keterlaluan?

Jadi Inggris kini resmi jadi negara termahal membangun reaktor nuklir—lebih mahal dari China, Prancis, apalagi AS. Bukan karena beton kita lebih mahal, tapi karena birokrasi kita mengubah aturan keselamatan jadi mesin Rube Goldberg bertenaga nuklir.
Laporan itu menyebut membatasi paparan radiasi pekerja hingga lebih rendah dari yang dihadapi dokter gigi saat rontgen mungkin… berlebihan. Kalau regulasi nuklir kita atur seperti tol, kita semua akan merangkak di 8 km/jam demi 'keselamatan'.
Solusi kami radikal, tapi perlu. Menyederhanakan regulasi bukan soal mengambil jalan pintas—melainkan menghapus birokrasi berlebihan yang membuang miliaran tanpa menambah keamanan.
Tunggu dulu—'menyederhanakan regulasi nuklir' terdengar bagus, tapi ingat, kita negara yang mengizinkan vaksin Oxford-AstraZeneca dalam rekor waktu. Kenapa tidak bisa cepat di sektor nuklir kalau soal keamanan bisa dipercaya?
Saya paham dorongan energi hijau, tapi jangan lupa Chernobyl dan Fukushima. Dengan harga satu reaktor, kamu bisa memasang insulasi untuk separuh Inggris. Efisiensi dulu, selalu.
Faktanya? Kita butuh keduanya. Energi terbarukan tak bisa berjalan 24/7, dan baterai bukan sihir. Listrik dasar dari nuklir wajib ada kalau mau lampu tetap menyala dan capai net zero.
Tepat sekali. Kalau regulasi fintek kita atur seperti nuklir, kita masih pakai buku hitam tahun 2024.
Saya lebih pilih investasi di pertanian solar komunal dan hidrogen hijau. Bangun nuklir butuh 15 tahun—padahal nanti, kita mungkin sudah punya fusi dingin. Atau baterai yang lebih bagus. Atau keduanya.
Masalah utamanya bukan takut radiasi—tapi kelambanan institusional. Tidak ada regulator yang ingin jadi orang yang 'mengendurkan' aturan sebelum insiden berikutnya. Makanya, keengganan terhadap risiko jadi mengakar dalam sistem.