Is Congress Finally Waking Up to Trump’s Venezuela 'Cowboy Diplomacy'?
Apakah Kongres Akhirnya Bangun dari Diplomasi Cowboy Trump di Venezuela?

Mari kita uraikan: Gedung Putih bilang 21 serangan kapal mematikan dekat Venezuela 'soal pemberantasan narkoba.' Tapi kapan aksi militer sepihak pernah hanya soal narkoba? Ini terasa seperti eskalasi diam-diam yang dibungkus narasi antinarkotika. Dan sekarang Kongres—terlambat, harus saya katakan—tiba-tiba mengeluarkan Resolusi Kewenangan Perang seolah itu artefak yang terlupakan dari tahun 70-an.
Sementara itu, maskapai menarik diri dari Caracas karena FAA menandai zona bahaya, dan Venezuela membalas dengan ancaman mencabut hak mendarat. IATA pada dasarnya berkata, 'Jangan kekanak-kanakan, kami bukan alat politikmu.' Korban sebenarnya? Warga sipil yang terjebak di tengah. Ini bukan kebijakan luar negeri—ini teater geopolitik ala sandiwara Jepang yang pelakunya menembak sungguhan.
Resolusi Kewenangan Perang ada alasannya. Pasal I Konstitusi memberi Kongres wewenang menyatakan perang. Eksekutif telah merampas wewenang ini sejak era Vietnam. Ini bukan soal Venezuela—ini soal mengembalikan keseimbangan kekuasaan. Setiap kali kita membiarkan presiden 'bertindak dulu, bertanya belakangan,' kita merusak demokrasi.
Sebagai orang yang pernah terbang ke Caracas tiga kali, saya harus jelas: kalau FAA menyatakan wilayah itu berisiko tinggi, jangan membantah. Batalkan penerbangan. Gagasan bahwa kita harus mengabaikan peringatan keselamatan demi menyelamatkan muka politik itu gila. Maskapai bukan tentara.
Terus terang—Kongres tidak peduli pada kewenangan perang. Mereka peduli pada pencitraan. Himes mengajukan resolusi ini bukan karena seketika jadi tokoh berprinsip, tapi karena pemilu tengah masa akan datang dan memilih 'tidak' terhadap petualangan militer ternyata populer dalam jajak pendapat.
Tanggapan atas 'merampas kekuasaan'—tepat sasaran. Tapi meski Kongres loloskan resolusi, Trump tetap bisa veto. Dan dengan Senat yang dikuasai Partai Republik, mencabut veto itu hanya khayalan. Sistemnya rusak, bukan sekadar mengantuk.
Tidak ada yang peduli pada prosedur Kongres. Faktanya, rezim Maduro kejam. Kalau AS melawan—meski sepihak—apakah itu hal yang buruk? Venezuela belum melihat demokrasi sungguhan selama satu dekade.
Ini tidak sesederhana itu. Aksi sepihak menimbulkan ketidakpercayaan global. Saat AS mengabaikan norma, Tiongkok dan Rusia menunjuknya sebagai bukti bahwa 'aturan hanya untuk orang lain.' Anda tidak bisa mempromosikan tatanan berbasis aturan sambil melanggar aturan sendiri.
Sekadar klarifikasi: 'Pemberitahuan kepada Misi Udara' bukan zona larangan terbang. Itu peringatan, bukan larangan. Tapi saat lima maskapai besar mundur, wilayah itu menjadi wilayah udara terbatas secara de facto. INAC mengancam mencabut lisensi? Itu kelakuan kampungan.
Langkah cerdas? Pembicaraan di belakang layar. Ultimatum publik hanya membuat diktator semakin keras kepala. Kita sudah nonton film ini sebelumnya. Diplomasi memang tidak glamor, tapi satu-satunya alat yang tidak meledak.