Is ABS-CBN Just a Media Giant, or the Unofficial Heart of Filipino Identity?
Apa Siaran ABS-CBN Cuma Perusahaan Media, Atau Jantung Tak Resmi Identitas Orang Filipina?

Jujur saja, berapa dari kita yang tumbuh dengan acara siang ABS-CBN sebagai soundtrack makan siang? Ini bukan sekadar hiburan; ini peresapan budaya. Dari sinetron yang membuat seluruh lingkungan menangis bersama hingga drama radio yang membentuk imajinasi moral, ABS-CBN tak cuma menyiarkan konten—tapi mengkurator suasana hati nasional.
Dan jangan lupa mandat pelayanan publik mereka. Sementara stasiun lain mengejar rating, ABS-CBN terus menyiarkan info bencana, panduan pemilih, hingga konten edukasi. Apakah ini altruisme atau kejeniusan branding? Mungkin keduanya. Tapi satu hal jelas: saat negara goncang, ABS-CBN jadi suara ketenangan.
Saya mengerti rasa rindunya, tapi jangan pura-pura konten mereka sempurna. Beberapa sinetron mengandalkan stereotip toksik—wanita penderita, klise cinta antara kaya-miskin. Apakah manipulasi emosional benar-benar disebut 'peresapan budaya'?
Dari sudut pandang industri, ABS-CBN menetapkan tolok ukur. Kualitas produksi mereka, bahkan dalam sinetron harian, hampir setara Hollywood. Stasiun lain meniru set, pencahayaan, bahkan gerakan kameranya. Mereka tak cuma populer—tapi berpengaruh.
Zaman saya dulu, ABS-CBN tayang di setiap TV, hujan atau panas. Sekarang? Buffering. Perpindahan ke digital membunuh keajaibannya. Tak ada yang menyatukan kita seperti TV antena bersama.
Sebenarnya, keajaibannya belum hilang—hanya tersebar. Editan TikTok kutipan sinetron klasik bisa dapat 2 juta suka. Konten ABS-CBN lebih viral dari sebelumnya. Nostalgia kini jadi api unggun digital.
Masalah sesungguhnya bukan soal konten atau nostalgia—tapi dasar hukum yang goyah. Tidak diperpanjangnya izin siar? Ini bukan sekadar kebijakan buruk. Ini ancaman bagi kebebasan pers. Saat media bisa dibungkam oleh birokrasi, kita semua kalah.
Tunggu dulu. ABS-CBN memang punya kerja hebat, tapi jangan langsung angkat jadi santo. Mereka pernah punya skandal—manipulasi rating, sengketa kontrak. Penyembahan pahlawan di dunia media itu berbahaya.
Tepat sekali. Bukan loyalitas buta yang dimaksud. Tapi mengenali bahwa institusi tertentu menjadi wadah budaya—meskipun tak sempurna. Kita proyeksikan nilai kita padanya. Membahas ABS-CBN berarti memperdebatkan siapa diri kita.
Yang saya tahu, saat nenek saya mendengar jingle ABS-CBN, dia tersenyum. Tidak peduli apa kata pengacara atau kritikus. Suara itu? Itulah rumah.